Selasa, 18 November 2014

Penelitian Kualitatif

BAB I
PENDAHULUAN
Penelitian kualitiatif adalah salah satu model penelitian humanistic yang menempatkan manusia sebagai subjek utama dalam peristiwa sosial/budaya. Jenis penelitian ini berdasarkan pada filsafat fenomenologi dari Edward Husserl dan kemudian di kembangkan oleh Max Weber ke dalam sosiologi. Dan terdapat juga sejumlah aliran yang mendasari penelitian kualitatif, seperti fenomologi, interaksionisme simbolik, dan etnometodologi, namun demikian ada satu benang merah yang mempertemukan mereka yakni pandangan yang sama tentang hakikat manusia sebagai subjek yang mempunyai kebebasan menentukan pilihan atas dasar sistem makna yang membudaya dalam diri masing-masing pelaku
Dalam penelitian kualitatif proses penelitian merupakan sesuatu yang paling penting di bandingkan hasil yang diperoleh karena itu peneliti sebagai instrumen pengumpul data merupakan satu prinsip utama. Hanya dengan keterlibatan peneliti dalam proses pengumpulan datalah hasil penelitian dapat di pertangggungjawabkan
Berbeda dengan penelitian kuantitatif, pelaksanaan penelitian kualitatif berlangsung secara siklus, tidak dapat di rancang secara rinci sejak awal penelitian. Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif, maka penyusun proposal penelitian masih bersifat tentatif, sehingga masalah dan prosedur penelitian di harapkan berkembang secara bersamaan pada saat penelitian. Pada saat penyusunan proposal, peneliti seharusnya telah melaksanakan pengumpulan data untuk menemukan fokus penelitian yang di kenal dengan istilah grand tour observation, maka dalam makalah inilah akan dibahas bagaimana sebenarnya penyusunan kerangka penulisan proposal secara baik dan  benar




BAB II
PEMBAHASAN
Kerangka proposal penelitian kualitatif
Penelitian kualitatif adalah salah satu model penelitian humanistik yang menempatkan manusia sebagai subjek utama dalam peristiwa/budaya. Jenis penelitian ini berlandaskan pada filsafat fenomologis dari Edmund Husserl dan kemudian di kembangkan oleh Max Weber, ke dalam sosiologi.
Secara garis besar proposal penelitian kualitatif terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian pendahuluan(bab I), bagian kajian teori(bab II), dan bagian metode penelitian (bab III), sistematika proposal penelitian kualitatif di buat sebagai berikut:[1]
BAB I: PENDAHULUAN
A.    Konteks penelitian (latar belakang dan alasan)
B.     Fokus penelitian (dapat dirinci menjadi rumusan masalah dan pertanyaan-pertanyan penelitian)
C.     Tujuan penelitian
D.    Kegunaan penelitian
BAB II: KAJIAN TEORI
A.    Kajian teori fokus penelitian
B.     Kajian teori sub fokus I
C.     Kajian teori sub fokus II
(acuan-acuan teoritik yang mendukung pelaksanaan penelitian)
D.    Kajian hasil-hasil penelitian relevan
BAB III: METODE PENELITIAN
A.    Tujuan khusus penelitian
B.     Pendekatan metode yang digunakan dan alasannya
Pendekatan metode bervariasi:
Etnografi, study kasus, fenomologis, grounded theory, partisipative ingkuiry, focus group, naturalistuc ingkuiry
C.     Latar belakang penelitian
D.    Data sumber data
E.     Prosedur pengumpulan dan perelkaman data
F.      Analisi data
G.    Pemeriksaaan atau pengecekan keabsahan data
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Sebelum kegiatan penelitian dilakukan, tahap awal yang harus dilakukan oleh peneliti adalah membuat proposal penelitian seperti yang telah di kemukan diatas, melalui proposal inilah penelitian dapat mengungkapkan segala rencana penelitian yang akan dilakukannya, suatu proposal dapat dirumuskan apabila seorang peneliti memiliki pengetahuan tentang topik yang akan ia teliti, buku-buku yang relevan yang cukup memadai serta tersedianya sumber/fasilitas yang lain. Proposal penelitian kualitatif bersifat fleksible, dan tidak seketat penelitian kuantitaif. Proposal ini bersifat tentatik dan tidak boleh ditentukan secara rigid  karena masih terbuka kemungkinan untuk di ubah atau disesuaikan setting alamiahnya
Fleksiblenya penelitian kualitatif tidak memberi peluang kepada peneliti untuk membuat proposal. Bogdan dan Biklen menjelaskan bahwa kualitatif juga mempunyai rancangan, tetapi peneliti bekerja di dasari:[2]
1.      Asumsi-asumsi theory
Dalam penelitian kualitatif makna dan proses mempunyai peranan penting dalam memahami tingkah laku manusia. Data yang diperoleh di lapangan berbentuk deskriptif yang di analisis secara induktif
2.      Pengumpulan data
Kebiasaaan dalam pengumpulan data dalam penelitian kualitatif menggunakan teknik observasi berperanserta, wawancara dan analisa dokumen, penelitian kualitatif dalam proses pelaksanannya tidak jauh berbeda dengan kuantitatif tetapi langkah-langkah yang di ketahui tidak terpecah-pecah seperti penelitian kuantitaif. Salah satu unsur yang paling yang harus diperhatikan peneliti dalam penyusunan proposal penelitian kualitatif adalah menentukan tujuan penelitian , walaupun peelitian kualitatif  tidak menguji teori tetapi penelitian kualitatif harus memiliki gambaran tentang grand theory yang bermanfaaat untuk merekonstruksi temuan di lapangan.
Sumardjono dalam bukunya salim dan syahrum mengatakan bahwa sebuah usulan penelitian harus memuat:
1)      Judul penelitian
Judul penelitian harus di buat dengan kalimat yang sederhana, menarik, jelas, aktual dan mengarah kepada masalah yang akan diteliti. Bahasa yang digunakan hendaknya bahasa ilmiah yang memenuhi standar tertentu dan dapat dipahami oleh orang lain.
2)      Latar belakang masalah
Merumuskan latar belakang penelitian merupakan hal yang sangat penting, dalam latar belakang di rumuskan uraian masalah yang menarik minat dan akan di teliti. Penelitian yang akan di lakukan harus bermanfaat untuk kepentingan masyarakat dan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian yang di lakukan harus asli dan masalah yang dipilih belum pernah ada yang meneliti
3)      Tujuan penelitian
Dengan demikian, sasaran yang akan di capai dalam penelitian harus dikemukakan dengan jelas dan tegas. Antara masalah , tujuan dan kesimpulan harus sinkron
4)      Kegunaaan penelitian
Adapun kegunaan penelitian seharusnya memuat unsur praktis dan teoritis. Unsur praktis menggambarkan bahwa penelitian yang akan di lakukan berguna untuk mengambil kebijakan tertentu. Sedangkan unsur teoritis, penelitian yang dilakukan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan selanjutnya



5)      Kerangka konseptual/ Kajian teoritis
Sesungguhnya kerangka konseptual menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus yang akan di teliti, konsep tersebut merupakan gejala yang akan di teliti. Konsep merupakan salah satu teori yang mempunyai sifat lebih konkrit dari pada teori.
6)      Metode peneliitian
Melalui metode penelitian di uraikan secara jelas tentang bahan dan materi yang di gunakan, alat, cara melakukan penelitian. Alat yang di gunakan dalam penelitian pada umumnya menyangkut teknik dan instrument penelitian. Apabila peneliti menggunakan teknik wawancara maka alat yang digunakan adalah tape recoder,dan lain-lain atau pedoman wawancara untuk memandu, pedoman wawancara terbagi atas dua macam: pedoman wawancara terstruktur dan pedoman wawancara tidak tersruktur
Pedoman wawancara terstruktur merupakan pedoman yang disusun secara terperinci sedangkan tidak terstruktur apabila membuat garis beasarnya saja dalam memandu wawancara. Bila peneliti menggunakan pengamatan berperanserta maka harus memenuhi kriteria berikut:
a.       Didasarkan kepada kerangka penelitian
b.      Direncanakan, dilakukan dan dicatat secara sistematis
c.       Hasil yang diperoleh dapat ditemukan kembali secara berulang
Pemilihan observasi sebagai teknik pengumpulan data harus relevan dengan tujuan penelitian dan keterampilan pengamat. Menurut bentuknya, observasi terbagi kepada atas observasi terstruktur dan observasi tidak terstruktur. Selain itu melalui metode penelitian juga di uraikan analisis data, jenis analisis dapat diplih berdasarkan jenis data yang telah dikumpulkan. Data kualitatif sebelum analisis harus di pisah-pisah menurut kategori masing-masing yang selanjutnya di tafsirkan untuk menjawab permasalahan penelitian
Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian. 
a.       Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. Selain itu juga dikemukakan orientasi teoretik, yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala, misalnya fenomenologis, interaksi simbolik, kebudayaan, etnometodologis, atau kritik seni (hermeneutik). Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif, ekologis, partisipatoris, penelitian tindakan, atau penelitian kelas.
b.      Kehadiran Peneliti
Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan, tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Oleh karena itu, kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat partisipan, atau pengamat penuh. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan.
c.       Lokasi Penelitian
Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas, misalnya letak geografis, bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi), struktur organisasi, program, dan suasana sehari-hari. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan, keunikan, dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. Dengan pemilihan lokasi ini, peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti, peneliti pernah bekerja di situ, atau peneliti telah mengenal orang-orang kunci.
d.      Sumber Data
Pada bagian ini dilaporkan jenis data, sumber data, da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan, bagaimana karakteristiknya, siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian, bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu, dan dengan cara bagaimana data dijaring, sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling).
Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin, bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). Pengambilan sampel dikenakan pada situasi, subjek, informan, dan waktu.
e.       Prosedur Pengumpulan Data
Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan, misalnya observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi, sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman, format ringkasan rekaman data, dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data.
f.       Analisis Data
Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika.
g.      Pengecekan Keabsahan Temuan
Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability), dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) .
h.      Tahap-tahap Penelitian
Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan.
7)      Jadwal penelitian
Dengan demikian, melalui jadwal penelitian diuraikan secara rinci tahap setiap kegiatannya dan jangka waktu yang dibutuhkan untuk masing-masing tahap kegiatan penelitian dari awal sampai akhir dapat terkendali dari segi waktu
8)      Daftar pustaka
Daftar pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan.
Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi:
1.      Nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik,
2.      Tahun penerbitan
3.      Judul, termasuk subjudul
4.      Kota tempat penerbitan, dan
5.      Nama penerbit.




Daftar Pustaka
Drs Salim M.Pd Dan Drs Syahrum M.Pd, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Cita Pustaka, 2012
Tim Penyusun Panduan Skripsi IAIN SU, Panduan Penulisan Skripsi, Medan 2011
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung, Remaja Rosda Karya, 2003
Tizzarrahman.wordpress.com/2009/12/09/contoh-proposal-penelitian-kualitatif




[1] Tim penyusun panduan skirpsi IAIN SU, panduan penulisan skripsi, hal 59
[2] Salim dan syahrum, metodologi penelitian kualitatif, hal 194-198

Konsep Kecakapan Hidup

BAB I
PENDAHULUAN
Selama ini masyarakat dan praktisi pendidikan menganggap bahwa indikator keberhasilan pembelajaran sebagai inti proses pendidikan adalah nilai ujian nasional. Pandangan seperti ini tidak keliru, akan tetapi baru melihat salah satu indikator saja. Apabila keberhasilannya hanya dipandang sebelah, maka pembelajaran cenderung lebih menekankan kepada aspek kognitif saja, sehingga aspek afektif dan psikomotorik agak terabaikan. Sementara itu, sejak tahun 2001 telah bergulir tujuan proses pembelajaran ke arah penguasaan kompetensi dasar yang bermuara pada penguasaan kecakapan hidup (Life skills) yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat.
Kecakapan hidup sebagai inti dari kompetensi dan hasil pendidikan adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan yang wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.
Sebagai hasil dari pendidikan, pembelajaran yang mengarah dalam kecakapan hidup prinsip utamanya adalah adanya proses keterlibatan seluruh atau sebagian besar potensi diri siswa (fisik dan non fisik) dan kebermaknaannya bagi diri dan di masa yang akan datang. Sedangkan latar belakang diterapkannya konsep pendidikan berorientasi kecakapan hidup di antaranya karena tantangan globalisasi yang menuntut kualitas sumber daya manusia yang prima dan unggul dalam persaingan di pasar global.











BAB II
PEMBAHASAN
A.        Pengertian Kecakapan Hidup (Life skill)
Life skill atau kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi hingga mampu mengatasinya.[1] Menurut Dirjen PLSP Kecakapan Hidup (life skills) diartikan sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan penghidupan secara wajar tanpa merasa tertekan,  kemudian  secarproaktif  dan  kreatif  mencari  serta  menemukan  solusi  sehingga akhirnya mampu mengatasinya.
Konsep kecakapan hidup dirumuskan secara beragam, salah satu konsep yang dikemukakan oleh Nelson Jones menyebutkan bahwa secara netral kecakapan hidup merupakan urutan pilihan yang dibuat seseorang dalam bidang keterampilan yang spesifik. Secara konseptual, kecakapan hidup adalah urutan pilihan yang memperkuat kehidupan psikologis yang di buat seseorang dalam bidang yang lebih khusus. Dari beberapa teori di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa kecakapan hidup (Life skill) adalah kecakapan hidup (life skill) merupakan kecakapan yang harus dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problem hidup dan kehidupan dengan wajar  tanpa  merasa  tertekan,  kemudian  secara  proaktif  dan  kreatimencari  serta menemukan  solusi  sehingga  mampu  mengatasinya.
Pembelajaran berorientasi kecakapan hidup adalah pendidikan untuk meningkatkan kemampuan, kesanggupan, dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang untuk menjaga kelangsungan hidup dan pengembangan dirinya. Kemampuan di sini adalah realisasi dari kecakapan hidup yang bersifat kognitif, afektif dan psikomotorik. Kecakapan hidup terdiri dari kecakapan hidup yang bersifat umum dan khusus. Menurut Malik Fadjar kecakapan hidup sama dengan empat pilar pendidikan yang di canangkan UNESCO, yakni learning to know (belajar mengetahui), learning to do (belajar melakukan), learning to be (belajar menjadi diri sendiri) dan learning to live together (belajar hidup dalam kebersamaan).[2]
B.         Jenis-jenis kecakapan hidup (Life skill)
Menurut Depdiknas Kecakapan hidup itu terbagi menjadi:
1.      Kecakapan hidup generik (General Life Skill)
Kecakapan hidup generik atau kecakapan yang bersifat umum, adalah kecakapan untuk menguasai dan memiliki konsep dasar keilmuan. Kecakapan hidup generik berfungsi sebagai landasan untuk belajar lebih lanjut dan bersifat transferable, sehingga memungkinkan untuk mempelajari kecakapan hidup lainnya. Kecakapan hidup generik terdiri dari:
1)      Kecakapan Personal yang terdiri dari:
a.       Kecakapan mengenal diri (skill Awardness-Self)
Kecakapan mengenal diri meliputi kesadaran sebagai makhluk Tuhan, kesadaran akan eksistensi diri, dan kesadaran akan potensi diri. Kecakapan mengenal diri pada dasarnya merupakan penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial, bagian dari lingkungan, serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus meningkatkan diri agar bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.[3] Walaupun mengenal diri lebih merupakan sikap, namun diperlukan kecakapan untuk mewujudkannya dalam perilaku keseharian. Mengenal diri akan mendorong seseorang untuk beribadah sesuai agamanya, berlaku jujur, bekerja keras, disiplin, terpercaya, toleran terhadap sesama, suka menolong serta memelihara lingkungan. Sikap-sikap tersebut tidak hanya dapat dikembangkan melalui pelajaran agama dan kewarganegaraan, tetapi melalui pelajaran kimia sikap jujur (contoh: tidak memalsukan data hasil praktikum) dan disiplin (contoh: tepat waktu, taat aturan yang disepakati, dan tata tertib laboratorium) tetap dapat dikembangkan.
b.      Kecakapan berfikir (skill Thinking)
Kecakapan berpikir merupakan kecakapan menggunakan pikiran atau rasio secara optimal. Kecakapan berpikir meliputi :
a.       Kecakapan Menggali dan Menemukan Informasi (Information Searching)
 Kecakapan menggali dan menemukan informasi memerlukan keterampilan dasar seperti membaca, menghitung, dan melakukan observasi. Dalam ilmu kimia, observasi melalui pengamatan sangat penting dan sering dilakukan.
b.      Kecakapan Mengolah Informasi (Information Processing)
Informasi yang telah dikumpulkan harus diolah agar lebih bermakna. Mengolah informasi artinya memproses informasi tersebut menjadi suatu kesimpulan. Untuk memiliki kecakapan mengolah informasi ini diperlukan kemampuan   membandingkan,   membua perhitungan   tertentu,   membuat analogi sampai membuat analisis sesuai informasi yang diperoleh
c.       Kecakapan Mengambil Keputusan (Decision Making)
Setelah informasi diolah menjadi suatu kesimpulan, tahap berikutnya adalah pengambilan keputusan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang selalu dituntut  untuk  membuat  keputusan  betapapun  kecilnya  keputusan  tersebut. Karena itu siswa perlu belajar mengambil keputusan dan menangani resiko dari pengambilan keputusan tersebut.
d.      Kecakapan Memecahkan Masalah (Creative Problem Solving Skill)
Pemecahan masalah yang baik tentu berdasarkan informasi yang cukup dan telah diolah. Siswa perlu belajar memecahkan masalah sesuai dengan tingkat berpikirnya sejak dini. Selanjutnya untuk memecahkan masalah ini dituntut kemampuan  berpikir  rasional,  berpikir  kreatif,  berpikir  alternatif,  berpikir siste da sebagainya Karena   it pola-pol berpiki tersebut   perlu dikembangkan  di  sekolah,  dan  selanjutnya  diaplikasikan  dalam  bentuk pemecahan masalah.
2)      Kecakapan Sosial (Sosial Skill)
Kecakapan  sosial  disebut  juga  kecakapan  antar-personal  (inter-personal  skill), yang terdiri atas :
a.       Kecakapan komunikasi
Yang dimaksud berkomunikasi bukan sekedar menyampaikan pesan, tetapi komunikasi dengan empati. Menurut Depdiknas : empati, sikap penuh pengertian dan   seni   komunikas du arah   perl dikembangkan   dalam keterampilan berkomunikasi agar isi pesannya sampai dan disertai kesan baik yang  dapat  menumbuhkan  hubungan  harmonis.  Berkomunikasi  dapat  melalui lisan atau tulisan. Untuk komunikasi lisan, kemampuan mendengarkan dan menyampaikan gagasan secara lisan perlu dikembangkan. Berkomunikasi lisan dengan empati berarti kecakapan memilih kata dan kalimat yang mudah dimengerti oleh lawan bicara. Kecakapan ini sangat penting dan perlu ditumbuhkan dalam pendidikan. Berkomunikasi melalui tulisan juga merupakan hal yang sangat penting dan sudah menjadi kebutuhan hidup. Kecakapan menuangka gagasa melalui   tulisa yang   muda dipaham orang   lain, merupakan salah satu contoh dari kecakapan berkomunikasi tulisan
b.      Kecakapan Bekerjasama (Collaboration Skill)
Sebagai makhluk sosial, dalam kehidupan sehari-hari manusia akan selalu memerlukan  dan  bekerjasama  dengamanusia  lain.  Kecakapan  bekerjasama bukan sekedar bekerja bersama tetapi kerjasama yang disertai dengan saling pengertian, saling  menghargai,  dan  saling  membantu.  Kecakapan  ini  dapat dikembangkan dalam semua mata pelajaran, misalnya mengerjakatugas kelompok, karyawisata, maupun bentuk kegiatan lainnya.
3.      Kecakapan Hidup Spesifik
Kecakapan hidup spesifik terkait dengan bidang pekerjaan (occupational) atau bidang kejuruan (vocational) tertentu. Jadi kecakapan hidup spesifik diperlukan seseorang untuk menghadapi masalah bidang tertentu. Kecakapan hidup spesifik ini meliputi :
a.       Kecakapan Akademik (Akademic Skill)
Kecakapan akademik disebut juga kecakapan intelektual atau kemampuan berpikir ilmiah dan merupakan pengembangan dari kecakapan berpikir. Kecakapan akademik sudah mengarah ke kegiatan yang bersifat akademik atau keilmuan. Kecakapan ini penting bagi orang yang menekuni bidang pekerjaan yang menekankan pada kecakapan berpikir. Oleh karena itu kecakapan ini harus mendapatkan penekanan mulai jenjang SMA dan terlebih pada program akademik di universitas. Kecakapan akademik ini meliputi antara lain kecakapan :
·         mengidentifikasi variabel
·         menjelaskan hubungan variabel-variabel
·         merumuskan hipotesis
·         merancang dan melakukan percobaan

2.      Kecakapan vokasional
Disebut juga kecakapan kejuruan, yaitu kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat. Kecakapan ini lebih cocok untuk siswa yang akan menekuni pekerjaan yang lebih mengandalkan keterampilan psikomotor. Jadi kecakapan ini lebih cocok bagi siswa SMK, kursus keterampilan atau program diploma. Kecakapan vokasional meliputi
1.      kecakapan vokasional Dasar
Yang termasuk kecakapan vokasional dasar antara lain : kecakapan melakukan gerak dasar, menggunakan alat sederhana, atau kecakapan membaca gambar.
2.      Kecakapan vokasional khusus
Kecakapan ini memiliki prinsip dasar menghasilkan barang atau jasa. Sebagai contoh,  kecakapan memperbaiki mobil bagi yang menekuni bidang otomotif dan meracik bumbu bagi yang menekuni bidang tata boga
C.        Tujuan Kecakapan Hidup (Life Skill)
Tujuan diterapkannya konsep pendidikan berorientasi kecakapan hidup (life skill) adalah sebagai berikut :
1.    Memfungsikan pendidikan sesuai fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi manusiawi peserta didik menghadapi perannya di masa yang akan datang.
2.    Memberikan peluang bagi institusi pelaksana pendidikan untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel dan memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di masyarakat sesuai dengan prinsip pendidikan terbuka (berbasis luas dan mendasar) serta prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah.
3.    Membekali tamatan dengan kecakapan hidup agar kelak mampu menghadapi dan memecahkan permasalahan hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, masyarakat dan warga Negara.[4]
Secara khusus tujuan pendidikan kecakapan hidup adalah :
1.      Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah kehidupannya
2.      Memberikan wawasan yang luas mengenai pengembangan karier
3.      Memberikan bekal dengan latihan dasar tentang nilai-nilai yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
4.      Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas (broad-based education)
5.      Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekolah dan di masyarakat sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.
D.        Pentingnya Skill atau Keterampilan
Sebagian masyarakat bahkan orang tua beranggapan bahwa memiliki anak yang pandai sudah cukup. Disamping itu, seorang anak yang telah menjadi sarjana atau lulusan sebuah perguruan tinggi dengan gelar akademis tertentu belum mampu menjamin masa depan kehidupan anak yang lebih menjanjikan. Pemikiran seperti itu tentu dalam suatu waktu akan menemukan titik relevansinya. Namun, pada situasi dan kondisi tertentu mungkin janji-janji yang mencerahkan atas gelar akademis tersebut menjadi kurang relevan, bahkan masyarakat luas tidak lagi dipercayainya. Seiring dengan semakin banyaknya pengangguran yang disebabkan karena factor pendidikan, dan maraknya kasus korupsi yang tidak terlepas dari para birokrat yang memiliki banyak gelar, sarjana, master, doctor bahkan professor. Peran dan fungsi pendidikan dalam konteks ini tentu akan mendapat gugatan dari banyak kalangan, misalnya mengapa praktek korupsi justru dilakukan oleh orang-orang pandai dan pintar. Kenyataan ini memang sungguh sangat menyedihkan, bahkan bangsa ini sering dikonotasikan sebagai bangsa yang sangat kreatif dalam hal korupsi, dari lapisan yang paling bawah sampai paling atas.
Pada dasarnya, pendidikan diselenggarakan bukan semata-mata membekali peserta didik dengan berbagai ilmu pengetahuan, namun pendidikan juga harus berorientasi pada pemberian bekal bagi peserta didik agar dapat menjalani kehidupannya dengan baik, terutama dalam situasi dan kondisi di era globalisasi. Dijelaskan dengan tegas dalam UU sisdiknas no. 20 tahu 2003 bahwa tujuan pendidikan selain bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, juga bertujuan agar peserta didik menjadi manusia yang cakap, kreatif dan mandiri. Kecakapan, kreatifitas dan kemandirian merupakan tiga point yang sangat penting untuk dimiliki setiap peserta didik agar ia dapat cakap dalam menghadapi realitas hidupnya, kreatif dalam memberikan solusi atas persoalan yang ada.
E. Mulyasa menegaskan bahwa tantangan kehidupan di masa yang akan datang menuntut manusia untuk hidup secara mandiri sehingga peserta didik harus di bekali dengan kecakapan (life skill) melaui muatan, proses pembelajaran dan aktifitas lain sekolah. Pada hakekatnya pendidikan yang berorientasi kecakapan hidup adalah pendidikan untuk membentuk watak dan etos. Selain itu pendidikan yang seperti ini bertujuan untuk mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problem yang sedang dihadapinya.
Tuntutan life skill pada dasarnya mencakup beberapa aspek diantaranya keterampilan peserta didik, profesionalitas, dan kecakapan dalam melakukan transformasi menuju perubahan sosial. Sebagaimana dijelaskan di atas,kecakapan hidup di sini bukan semata cakap dalam berpikir dan akademis, namun cakap dalam keterampilan dan sosial.[5]
E.         Integrasi Kecakapan Hidup dengan Pendidikan Luar Sekolah
Pelaksanaan pendidikan Kecakapan hidup (life skills) pada satuan dan program pendidikan nonformal, utamanya dalam rangka pengentasan kemiskinan dan penanggulangan pengangguran, yang lebih ditekankan pada upaya pembelajaran yang dapat memberikan penghasilan (learning and earning). 
Menurut Malik Fadjar[6] dalam Pedoman Penyelenggaraan Program Kecakapan Hidup, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda bahwa penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup pada jalur pendidikan nonformal menggunakan pendekatan ”Broad Based Education(BBE)” yakni pendekatan pendidikan berbasis luas, yang ditandai oleh: 
1.      Kemampuan membaca dan menulis secara fungsional baik dalam bahasa Indonesia maupun salah satu bahasa asing (Inggris, Arab, Mandarin, Jepang dan lainnya). 
2.      Kemampuan merumuskan dan memecahkan masalah yang dihadapi melalui proses pembelajaran berpikir kritis dan ilmiah, penelitian, penemuan, dan penciptaan. 
3.      Kemampuan menghitung dengan atau tanpa bantuan teknologi guna mendukung kedua kemampuan tersebut di atas. 
4.      Kemampuan memanfaatkan keanekaragaman teknologi di berbagai lapangan kehidupan (pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan, kerumahtanggaan, kesehatan, komunikasi informasi, manufaktur, industri, perdagangan, kesenian dan olahraga). 
5.      Kemampuan mengelola sumber daya alam, sosial, budaya, dan lingkungan. 
6.      Kemampuan bekerja dalam tim, baik dalam sektor formal maupun informal. 
7.      Kemampuan memahami diri sendiri, orang lain dan lingkungannya. 
8.      Kemampuan berusaha secara terus menerus dan menjadi manusia belajar dan pembelajar. 
9.      Kemampuan mengintegrasikan pendidikan dan pembelajaran dengan etika sosio religius bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila. 
F.         Ciri-ciri Program Kecakapan hidup (life skills) dalam PLS
Program pendidikan kecakapan hidup (life skills) dalam pendidikan nonformal memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1.      Peserta didik berasal dari lapisan masyarakat miskin, tidak/putus sekolah, dan tidak/belum mempunyai keterampilan bekal hidup serta warga masyarakat lainnya yang tertarik meningkatkan kecakapan hidupnya. 
2.      Kurikulum pembelajaran bersifat fleksibel tergantung pada kebutuhan peserta didik, potensi pasar dan potensi usaha lainnya, termasuk dukungan masyarakat, pengusaha dan pemerintah daerah 
3.      Program berlangsung singkat paling lama satu tahun, tidak harus berjenjang dan berkesinambungan, yang penting peserta didik memperoleh manfaat bagi peningkatan mutu bekerja atau berusahanya. 
4.      Narasumber dan fasilitator terdiri atas orang-orang yang peduli terhadap upaya pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat, dapat berasal dari pengusaha, aktivis sosial, perbankan, manajer perusahaan bisnis, tokoh masyarakat, kalangan pemerintahan dan lain-lain. 
5.      Metode pembelajaran bersifat dialogis, partisipatif-andragogis; ketiga bidang kecakapan hidup terintegrasi dalam proses pembelajaran 
6.      Keberhasilan belajar diukur dari peningkatan kemampuan praktis dalam meningkatkan mutu pekerjaannya atau mutu kegiatan berusahanya sebagai akibat dari peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta didik terhadap materi belajar kecakapan hidup. 
Ciri-ciri pembelajaran Kecakapan hidup (life skills) menurut Depdiknas adalah: (1) terjadi proses identifikasi kebutuhan belajar, (2) terjadi proses penyadaran untuk belajar bersama, (3) terjadi keselarasan kegiatan belajar untuk mengembangkan diri, belajar, usaha mandiri, usaha bersama, (4) terjadi proses penguasaan kecakapan personal, akademik, manajerial, kewirausahaan, (5) terjadi proses pemberian pengalaman dalam melakukan pekerjaan dengan benar, menghasilkan produk bermutu, (6) terjadi proses interaksi saling belajar dari ahli, (7) terjadi proses penilainya kompetensi, dan (8) terjadi pendampingan teknis untuk bekerja atau membentuk usaha bersama.
G.        Jenis Program PKH Dalam PLS 
Sejak dicanangkannya pendidikan kecakapan hidup khususnya pada pendidikan nonformal, banyak sekali jenis-jenis program pendidikan kecakapan hidup yang diselenggarakan di masyarakat, seperti kelompok belajar usaha (KBU), program life skills, sentra pemberdayaan pemuda, dan lain sebagainya. Kemudian, sejak tahun 2006 muncul program kursus wirausaha yang diorientasikan di perdesaan (KWD) atau perkotaan (KWK), serta kursus para profesi (KPP). Demikian halnya dengan penyelenggara programnya, kini program-program PKH PNF bukan hanya dilaksanakan oleh satuan PNF melainkan melibatkan juga satuan pendidikan formal, misalnya program PKH bekerjasama dengan SMK/Poltek. Berikut ini, akan diuraikan program-program yang sedang dikuatkan pada tahun 2008 yaitu kursus wirausaha, kursus para profesi, dan pendidikan kecakapan hidup bekerjasama dengan SMK/Poltek. 
Kebijakan pembangunan kursus dan pelatihan, diarahkan pada pemenuhan tiga spektrum besar yaitu[7]; 1) spektrum nasional dan internasional; 2) spektrum perkotaan dan; 3) spektrum perdesaan. Sebagai wujud dari pelaksanaan pembangunan dan pengembangan kursus dan pelatihan yang berspektrum perdesaan dan perkotaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal, Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan memprakarsai penyelenggaraan kursus wirausaha orientasi perdesaan (KWD) dan kursus wirausaha orientasi perkotaan (KWK). 
Kursus wirausaha adalah program kursus yang diselenggarakan secara khusus untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat baik di perdesaan maupun perkotaan agar memperoleh pengetahuan, keterampilan dan menumbuh kembangkan sikap mental kreatif, inovatif, bertanggung jawab serta berani menanggung resiko (sikap mental profesional) dalam mengelola potensi diri dan lingkungannya yang dapat dijadikan bekal untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat. 
Misi dari program kursus wirausaha baik orientasi perdesaan maupun perkotaan adalah: 
1.      Mengentaskan pengangguran dan kemiskinan 
2.      Mengembangkan dan memberdayakan perekonomian masyarakat melalui kegiatan produktif 
3.      Mengoptimalkan daya guna dan hasil guna potensi alam dan lingkungan 
4.      Mensejahterakan masyarakat melalui kegiatan kursus dan pemberdayaan usaha mandiri 
Program kursus wirausaha baik KWD maupun KWK diselenggarakan dengan tujuan pertama, meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap warga masyarakat sebagai bekal untuk bekerja dan/atau usaha mandiri sesuai dengan potensi lokal dan kedua, memberikan layanan pendidikan bagi masyarakat) agar memiliki kompetensi yang diperlukan dalam dunia usaha atau dunia kerja sesuai dengan jenis kursus yang diikuti, sehingga mampu merebut peluang kerja pada perusahaan/industri dengan penghasilan yang wajar/menciptakan lapangan kerja sendiri. 
Sasaran program kursus wirausaha diprioritaskan bagi warga masyarakat dengan kriteria sebagai berikut: 
1.      Kelompok usia produktif (15-35 tahun) dan belum memiliki keterampilan yang dapat dijadikan bekal untuk mencari nafkah. 
2.      Berasal dari keluarga kurang beruntung/miskin 
3.      Tidak sedang sekolah dan tidak bekerja, diutamakan lulusan pendidikan kesetaraan (paket B dan C) termasuk mereka yang memiliki surat keterangan melek aksara (SUKMA). 
4.      Diutamakan berdomisili disekitar lokasi tempat penyelenggaraan kursus wirausaha
5.      Berminat dan sanggup mengikuti program sampai tuntas. 
Program kursus wirausaha dapat dilaksanakan oleh semua satuan pendidikan nonformal, seperti lembaga kursus, PKBM, SKB, pusat latihan kerja, sekolah menengah kejuruan (SMK), dan lembaga lain yang relevan. 
Jenis keterampilan program kursus wirausaha hendaknya bersifat fungsional praktis,yaitu keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola/meningkatkan produksi potensi lokal, berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas dan penghasilan masyarakat, mempunyai peluang pasar serta dapat dijadikan untuk alih pekerjaan/usaha. 
Jenis keterampilan program kursus wirausaha desa (KWD) antara lain; pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, PLRT-plus, atau keterampilan lain yang dianggap laku di pasaran (marketable). Sementara jenis keterampilan untuk kursus wirausaha kota (KWK) diantaranya adalah tata kecantikan (kulit, rambut, dll), tata rias pengantin, tata boga, security, otomotif, elektronika, spa, pariwisata, komputer, salesman, atau keterampilan lain yang memiliki peluang kerja di perkotaan. 
KPP adalah salah satu program pendidikan nonformal yang dilaksanakan melalui satuan-satuan pendidikan lainnya bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan serta sikap dan kepribadan yang mengarah pada profesionalisme untuk menjadi tenaga kerja dan/atau berusaha secara mandiri. 
Tujuan KPP memberikan kesempatan bagi peserta didik usia produktif untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang sesuai dengan kebutuhan/ peluang pasar kerja pada dunia usaha dan dunia industri, baik di dalam maupun di luar negeri.
Penyelenggara program Kursus Para Profesi (KPP), adalah lembaga kursus dan pelatihan serta lembaga pendidikan lainnya yang memenuhi persyaratan sebagai berikut. 
1.      Berbadan hukum yang dibuktikan dengan Akta Notaris atau keterangan legalitas sejenis lainnya.
2.      Memiliki ijin operasional dari instansi berwenang, dan diprioritaskan dari Dinas Pendidikan. 
3.      Memiliki rekening bank dan NPWP yang masih aktif atas nama lembaga (bukan rekening dan NPWP pribadi). 
4.      Memiliki Job Order atau Demand Letter Attachement (pesanan tenaga kerja) dibuktikan dengan surat pesanan dari dunia industri atau penyalur tenaga kerja (bukan MOU magang), baik dalam maupun luar negeri, bagi KPP yang orientasi luar negeri. 
5.      Memiliki tenaga instruktur kompeten dan certified dengan jumlah yang memadai; 
6.      Memiliki fasilitas pembelajaran yang lengkap terutama untuk belajar praktek, sesuai jenis keterampilan/vokasi yang diusulkan dan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat pendidikan/pelatihan; 
7.      Memiliki kurikulum dan bahah pembelajaran untuk menghasilkan lulusan yang kompeten untuk jenis keterampilan/vokasi yang diusulkan paling lama 6 (enam) bulan
8.      Mendapat rekomendasi dari Subdin PLS Kabupaten/Kota. 





BAB III
PENUTUP
Tantangan globalisasi yang menuntut kualitas sumber daya manusia yang prima dan unggul dalam persaingan di pasar global yang menyebabkan dalam pendidikan sekarang di cantumkan kedalam bentuk suatu life skill, kecakapan hidup dapat diintegrasikan pada setiap mata pelajaran sehingga tidak diperlukan tambahan alokasi waktu tertentu.
Sedangkan untuk implementasi pendidikan berorientasi kecakapan hidup dapat dilakukan tanpa mengubah kurikulum, aspek-aspek kecakapan hidup yang telah diintegrasikan dijadikan indikator dalam pembelajaran. Kecakapan hidup yang bersifat umum pada umumnya kecakapan yang diperlukan oleh siapapun, baik yang bekerja, yang tidak bekerja, dan yang sedang menempuh pendidikan.
Kecakapan hidup yang bersifat spesifik adalah kecakapan yang diperlukan seseorang untuk menghadapi problema bidang khusus atau tertentu. Life skill menunjuk pada berbagai ragam kemampuan yang diperlukan seseorang untuk menempuh kehidupan dengan sukses, bahagia dan secara bermartabat di masyarakat. Life skill merupakan kemampuan yang diperlukan sepannjang hayat, kepemilikan kemampuan berfikir yang kompleks, kemampuan komunikasi secara efektif, kemampuan membangun kerjasama, melaksanakan peranan sebagai warga Negara yang bertanggung jawab, memiliki kesiapan serta kecakapan untuk bekerja dan memiliki karakter dan etika untuk tujuan terjun ke dunia kerja.





Daftar Pustaka

Musthofa, Pendidikan Transformatif : Pergulatan Kritis Merumuskan Pendidikan di Tengah Pusaran Arus Globalisasi, Yogyakarta : Teras, 2008
Kunandar, Guru Profesionalisme Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2009
Muhaimin, dkk, Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah dan Madrasah, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2008
Malik Fadjar. 2001. Laporan Menteri Pendidikan Nasional pada Rapat Koordinasi Bidang Kesra Tingkat Menteri. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional







[1] Kunandar, 2009 Guru Profesional Implementasi Kurikiulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, hlm. 289
[2] Ibid  hlm 287
[3] Muhaimin, dkk. Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah dan Madrasah, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada) hal:82
[4] Kusnandar, op.cit. hal: 290

[5] Musthofa, 2008 Pendidikan Transformatif : Pergulatan Kritis Merumuskan Pendidikan di Tengah Pusaran Arus Globalisasi, Yogyakarta : Teras, hal: 129-133
[6] Malik Fadjar. 2001. Laporan Menteri Pendidikan Nasional pada Rapat Koordinasi Bidang Kesra Tingkat Menteri. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
[7] http://id.netlog.com/rahmawinasa/blog/blogid=18224 diakses pada 5 november 2014, jam 22.38