Hari itu, Jum’at, 26 September 2008, terlihat seorang pria foreign sedang berjalan menuju ke sebuah warung kecil yang menjual kudapan seperti tempe goreng, tahu isi, risol, molen, dan lain lain. Tampak juga peci putih dengan balutan baju gamis putih menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia berjalan mendekati warung itu tepat berada di depan Pasar Payaman. Sebuah pasar tradisional yang terletak di Utara kota Magelang yang biasanya orang-orang berbelanja pangan sehari-hari. Sementara itu, di seberang pasar payaman berbataskan jalan Raya, aku duduk di depan Toko Classical Book milik pesantren memperhatikan pria bule itu dengan seksama, tampak pria itu kesulitan saat berkomunikasi kepada penjual kudapan. Pada akhirnya, dengan bahasa isyarat yang ia miliki, pria tersebut berhasil membeli tempe goreng seharga 5.000 rupiah beserta rawitnya. Kemudian ia datang menghampiriku dan berkata: “Do you want?” sambil menawarkan bungkusan plastik biru. “Yes, Thanks, Sir” jawabku.
Hari itu merupakan hari pertamaku bertemu dengan pria bule itu.
Namanya adalah Abdullah, seorang pria lajang berkebangsaan Perancis yang datang
ke Indonesia. Rupanya, bule ini adalah muallaf yang sedang belajar membaca
Alquran di salah satu cabang pesantren kami yang terletak di Kerincing. Ia
mengawali menjadi seorang muslim setelah melakukan diskusi panjang mengenai
agama Islam dengan seorang ‘Amir (ketua kelompok) dari kelompok Jamaah Dakwah
(Jamaah Tabligh) yang datang ke Eropa untuk mengajak muslim Eropa agar salat
berjamaah bersama-sama. Semula namanya adalah Sadrick, setelah ia memeluk Islam
maka diganti menjadi Abdullah, memang sejak belasan tahun yang lalu ia sudah
memiliki ketertarikan terhadap Islam. Namun hatinya tergugah dan mantap memeluk
Islam setelah mendengar penjelasan dari ketua jamaah tersebut. Tibanya ia ke
pesantren kami juga karena arahan ketua itu, sungguh apresiasi yang tak
ternilai harganya patut diberikan kepada para jamaah ini, dakwah yang dilakukan
begitu menyentuh kalbu, untaian-untaian mutiara hikmah yang disampaikan membuat
orang yang mendengarnya hanyut dalam keimanan, patuh terhadap ulil amri, tidak
radikal apalagi rasism, penuh perjuangan dalam berdakwah sampai ke daerah
terpencil sekalipun. Pantas saja, sangat banyak sekali dari jamaah ini yang
sudah mengislamkan umat belahan dunia.
Setelah perjumpaan itu, kami semakin akrab. Hampir setiap saat aku
selalu bertemu dengan beliau, bercerita dan berbagi pengamalan satu sama lain.
Terlebih lagi beliau adalah salah satu tentor bahasa Inggris di pesantren kami,
kemudian aku pun tak menyiakan-nyiakan waktu bersama beliau. Aku mempelajari
bahasa Inggris dengan beliau dan beliau mempelajari bahasa Indonesia denganku.
Maklum saja, dia sama sekali tak pandai berbahasa Indonesia.
“Excusme, Sir. I wanna learn French with you” ujarku dengan nada bercanda.
“Ha ha. Of course, but why you feel interest with our language?” tanya bule.
“I dunno exactly, but I have a plan gonna travelling to your country, then will
take studying overthere, Insyaallah” jawabku.
“Are u sure? Look at this!” Ia berkata dan memperlihatkan gambar-gambar dan
video yang ada di dalam handphonenya. “This my home and that’s Eiffel” sambil
memperlihatkan jendela ruangan apartemen dan tampak menara Eiffel di depannya.
“Wow, really, that’s wonderfull” kataku dengan kagum.
Terlihat sebuah menara Eiffel dicapture dari ketinggian 50 meter
di atas permukaan bumi, di dalam video juga terlihat menara Eiffel memancarkan
kelap-kelip warna-warni lampu yang berubah tiap menitnya. Ah, sepertinya ia
ingin menunjukkan bahwa negaranya punya tempat eksotik untuk dinikmati.
Kemudian ia menutup handphonenya dan berkata: “Ok, I’ll teach you, we will
start with ‘how are u?’ In French ‘commen sa va?”.
“Commen sa va?” kataku.
“Yes, je va bien merci. Uno por te mengkueledo bi supreso continue… blaaa…
blaaa…” katanya, mengawali kalimat dengan bahasa negaranya, mulutnya
komat-kamit berbicara panjang lebar tapi aku tak paham artinya, aku pun
membiarkan ia berbicara. Setelah beliau berbicara, menurutku vokal “R”
sepertinya tidak terdengar jelas, hal ini mengingatkanku pada temanku di kampung
tatkala ia berbicara bahasa daerah mereka. Ha ha.
Semenjak liburan semester tiba, aku dan pria bule muallaf itu pun
berpisah. Aku menghabiskan liburanku dengan keluargaku di Sumatera, sementara
beliau masih berjuang untuk mempelajari bacaan Alquran dengan sisa waktu 1
bulan lagi. Namun sayangnya, setelah masa liburan selesai dan aku kembali lagi
ke Jawa, beliau sudah tidak lagi berada di Pesantren. Masa Visa-nya habis dan
ia harus pulang ke negara tercinta. Akhirnya sampai saat ini kami tak pernah lagi
bertemu tapi tetap berkomunikasi. Hanya satu yang dapat kuambil dari pelajaran
bahasa Perancis yang ia ajarkan yaitu: “Commen sa va? (Apa kabar teman?), je va
bien merci (Kabarku baik-baik saja)”.
Salam, May Allah always blessing you Mr. Sadrick. Remember that
Allah has placed the success of human life in this world and hereafter only in
the perfect dien.
Cerpen Karangan: Erik Suwandinata
Facebook: Erik Suwandinata
"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"