Digelarkanlah sehelai kain gerusan yang berwarna
kuning tua di atas meja dan diukur dengan menggunakan meteran pakaian. Seorang
laki-laki tua tampak sedang menghitung dan mengukur kain gerusan untuk dibentuk
menjadi beberapa pola dasar baju safari. Dua buah rol pembentuk pola dan sebuah
kapur penggaris diletakkan di dekatnya. Tampak pula gunting merah tajam yang
bobotnya hampir dua ons, berada di sisi kanan kain. Sementara itu, seorang
laki-laki beruban mengganti baju kokonya yang berwarna putih dengan kaos kemeja
abu-abu yang sudah hampir lusuh, di sana sini terdapat banyak tambalan-tambalan
dari beberapa benang. Ia menanggalkan sarung biru berliris hitamnya untuk
diganti dengan celana panjang dari kain dril. Lelaki tua itu menghadapi kain
gerusan tersebut. Adegan ini mengingatkan pada proses operasi medis, tatkala
banyak benda-benda yang berjejer di depannya.
Keheningan malam merangsang mata memenuhi
kebiasaannya, sedang udara malam menusuk pori-pori kulit keriput yang renta
karena termakan usia. Rambutnya yang sudah memutih lebat, punggungnya yang
sudah tidak lagi gagah membuat ia harus menahan sedikit rasa letih dan
kantuknya. Di samping itu, ada sebuah tatapan yang tajam sekaligus lembut di
matanya, yang mengingatkan pada seorang penjahit profesional atau kepada
seseorang yang mahir mengukur diameter suatu tempat. Dari wajahnya yang mudah
tersenyum memancar keakraban dan keramah tamahan yang mengasyikkan.
Itulah Ayahku, Amran namanya, sebagaimana
dikenal orang sekitar bahwa ia adalah seorang penjahit rumahan. Ia terkenal
sangat ramah dengan kerabatnya, mudah bergaul dan selalu memberikan kontribusi
terhadap orang-orang di sekitarnya. Hasil jahitannya yang rapi menjadi daya
tarik tersendiri bagi setiap orang yang hendak menempah jahitan kepadanya,
maklum saja, karena ia sudah menggeluti profesi ini hampir 30 tahun.
Dua puluh sembilan tahun yang lalu dengan ditutori
oleh kerabat dekatnya, Hamdan. Ayahku diberi pelajaran awal menjahit kain perca
(potongan kain sisa jahitan). Potongan-potongan itu ia jahit lurus untuk
melatih keapikan, setelah itu dilanjutkan dengan teknik menjahit pola kantung;
mata itik (jahitan bergelombang); dan membentuk biku (lipatan-lipatan pada
tepian kain). Untuk mahir dalam mengerjakan teknik ini, ia menghabiskan waktu
selama 1 tahun. Hal itu dikarenakan teknik ini merupakan teknik dasar yang
harus dikuasai bagi seorang penjahit agar memiliki modal skill kerapian dalam
jahitan. Selanjutnya, setelah laki-laki tua itu menguasai teknik dasar ini,
kerabatnya memerintahkan agar ia membantunya menjahit pakaian yang sebelumnya
sudah diberi pola, tugasnya hanya menjahit sesuai pola bukan membentuk pola
atau menciptakan pakaian sendiri. Hal ini ia lakukan selama 3 tahun, sementara
itu, materi membentuk pola dan menciptakan baju sendiri baru ia dapatkan
setahun setelahnya.
Setahun setelah ia mahir menjahit, Ayahku pun
mulai bekerja di perusahaan kerabatnya. Perusahaan sederhana yang mereka bangun
sangat berkembang pesat di kala itu, banyak dari masyarakat datang
berduyun-duyun menempah pakaian di perusahaan mereka. Tentunya dengan banyaknya
konsumen yang datang menyebabkan income perusahaan tinggi, laba yang didapatkan
Ayahku mampu memodalinya untuk berumahtangga. Dalam hal yang sama, Ayahku
memutuskan untuk mempersunting Ibuku menjadi belahan jiwanya.
Nasib berlaku nahas, beberapa bulan setelah
pernikahan keduanya. Perusahaan tempat Ayahku bekerja dilahap si jago merah.
Suasana riuh, api dengan cepat menghanguskan material di perusahaan itu.
walhasil, tak ada satu pun barang-barang yang bisa diselamatkan, pakaian
tempahan konsumen juga ikut terlahap si jago merah. Hanya sisa-sisa material
dan kepala mesin jahit yang gosong yang tampak di perusahaan Ayahku pasca
kebakaran.
Setelah kebakaran itu terjadi, sedikit pun tak
mengurungkan niat Ayahku yang beruban itu untuk berhenti menjahit. Ia pun mulai
membuka jahitan di rumahnya, dengan sisa gaji yang ia dapatkan sebelumnya,
Ayahku membeli mesin jahit bermerek ‘Standard’ seharga 200 ribu rupiah. Mesin
inilah yang ia pakai untuk mengais rezeki memberikan makan anak-istri sampai
sekarang.
Ayahku mempunyai impian agar anak-anaknya kelak
menjadi orang-orang sukses, sukses menurut perspektif beliau adalah anak mampu
memberikan kebaikan kepada orang lain, tanpa meminta sepeser pun imbalan atas
kebaikan yang telah dilakukan; mampu menghidupi anak-istri kelak ketika sudah
berumahtangga; dan memiliki ilmu yang dapat menuntun diri si anak, dalam
menjalani kehidupan di dunia dan akhirat. Itulah sebabnya ia sangat responsif
dan banting-tulang untuk menyekolahkan anak-anaknya, karena beliau tahu bahwa
impian itu akan raih ketika anak-anaknya mendapat pendidikan yang cukup. Sungguh
beliau adalah sosok trainer masa depan bagi anak-anaknya.
Kini, beliau mempunyai empat buah hati. Anak
sulung sudah menyelesaikan pendidikan strata satu dan sedang menyelesaikan
program magister; anak kedua sedang belajar di SLTA; anak ketiga juga masih
sekolah di Sekolah Dasar; anak bungsu mulai belajar di TK Islamiyah. Melihat
anak-anaknya bisa bersekolah merupakan hal yang paling bahagia dalam hidup
laki-laki tua beruban ini, ia sangat yakin bahwa Allah akan senantiasa
memberikan kemudahan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Meskipun, ia harus
lembur mengerjakan tempahan pakaian dari para konsumen, “tak apalah” pikirnya,
ini sudah menjadi kewajiban bagi seorang ayah untuk menafkahi keluarga.
Pernah diceritakan oleh Sayyidina Abu Hurairah
r.anhu bahwa seorang laki-laki mendatangi Baginda Rasulullah saw. dan berkata:
“Wahai
Rasulullah! Siapakah orang yang paling pantas untuk kuperlakukan dengan baik?
Rasulullah menjawab: Ibumu, kemudian siapa? Tanya laki-laki itu, Rasulullah
menjawab: Ibumu, dan siapa lagi ya Rasulullah? Kemudian Rasulullah pun
menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi yang harus kuperlakukan dengan baik ya
Rasulullah, Rasulullah pun mengakhiri dengan jawaban: Ayahmu” (H.R. al-Bukhari,
pada bab “hak-hak manusia untuk berbuat baik kepada Saudara,” h. 5971)
Hadis ini menjelaskan bahwa pentingnya
menghormati dan berbuat baik kepada orangtua, terkhusus kepada ibu. Dengan 3
kali pengulangan kata yang diucapkan oleh Baginda Rasulullah saw. memberikan
isyarat bahwa ibu harus dihormati daripada ayah. Lantas, apakah hal ini mutlak
diperuntukkan kepada ibu saja? Bagaimana dengan penghormatan kepada seorang
ayah, apakah harus jauh lebih rendah dari ibu? Jawabnya: Tidak! Ibu memang
telah melahirkan dan mendidik dengan kasih sayang, namun, tak bisa dipungkiri
bahwa ibu juga harus takdim (hormat) kepada ayah, karena ayah adalah kepala
madrasah dalam keluarga. Kemudian, ayah mencari nafkah dari pagi hingga petang,
tak kenal waktu siang dan malam. Hal inilah yang mendasari bahwa sebagai
seorang anak dan istri harus menghormati ayah. Derajatnya sama dengan ayah.
Hanya saja perbedaan terletak pada pengkodifikasian keduanya. Ibu yang patut
dihormati dengan didikan kasih sayangnya; ayah juga wajib dihormati karena
beliaulah yang berjuang mendidik keluarga, banting tulang menafkahi keluarga,
serta berani melawan getirnya dunia.
Hal inilah yang menjadi dasar bagiku untuk
hormat dan taat kepadanya, tanpa mengurangi sedikit pun penghormatanku kepada
ibuku, beliau yang sudah berjuang mati-matian membiayai kehidupan, membiayai
sekolah anak-anaknya, menjadi sosok superhero, dan penasihat handal yang
memberikan petuah-petuah kehidupan. Demi Allah, aku menghormatimu Ayah
Penjahit.
*Salam dari seorang anak yang menghormatimu
(Rick Dinata)
Cerpen Karangan: Erik Suwandinata
Facebook: Erik Suwandinata
Ig :Erik Suwandinata
"Kamu suka cerpen
ini?, Share donk ke temanmu!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar