Selasa, 11 April 2023

Commen Sa Va? Je Va Bien Merci - Cerpen Persahabatan

Hari itu, Jum’at, 26 September 2008, terlihat seorang pria foreign sedang berjalan menuju ke sebuah warung kecil yang menjual kudapan seperti tempe goreng, tahu isi, risol, molen, dan lain lain. Tampak juga peci putih dengan balutan baju gamis putih menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia berjalan mendekati warung itu tepat berada di depan Pasar Payaman. Sebuah pasar tradisional yang terletak di Utara kota Magelang yang biasanya orang-orang berbelanja pangan sehari-hari. Sementara itu, di seberang pasar payaman berbataskan jalan Raya, aku duduk di depan Toko Classical Book milik pesantren memperhatikan pria bule itu dengan seksama, tampak pria itu kesulitan saat berkomunikasi kepada penjual kudapan. Pada akhirnya, dengan bahasa isyarat yang ia miliki, pria tersebut berhasil membeli tempe goreng seharga 5.000 rupiah beserta rawitnya. Kemudian ia datang menghampiriku dan berkata: “Do you want?” sambil menawarkan bungkusan plastik biru. “Yes, Thanks, Sir” jawabku.

Hari itu merupakan hari pertamaku bertemu dengan pria bule itu. Namanya adalah Abdullah, seorang pria lajang berkebangsaan Perancis yang datang ke Indonesia. Rupanya, bule ini adalah muallaf yang sedang belajar membaca Alquran di salah satu cabang pesantren kami yang terletak di Kerincing. Ia mengawali menjadi seorang muslim setelah melakukan diskusi panjang mengenai agama Islam dengan seorang ‘Amir (ketua kelompok) dari kelompok Jamaah Dakwah (Jamaah Tabligh) yang datang ke Eropa untuk mengajak muslim Eropa agar salat berjamaah bersama-sama. Semula namanya adalah Sadrick, setelah ia memeluk Islam maka diganti menjadi Abdullah, memang sejak belasan tahun yang lalu ia sudah memiliki ketertarikan terhadap Islam. Namun hatinya tergugah dan mantap memeluk Islam setelah mendengar penjelasan dari ketua jamaah tersebut. Tibanya ia ke pesantren kami juga karena arahan ketua itu, sungguh apresiasi yang tak ternilai harganya patut diberikan kepada para jamaah ini, dakwah yang dilakukan begitu menyentuh kalbu, untaian-untaian mutiara hikmah yang disampaikan membuat orang yang mendengarnya hanyut dalam keimanan, patuh terhadap ulil amri, tidak radikal apalagi rasism, penuh perjuangan dalam berdakwah sampai ke daerah terpencil sekalipun. Pantas saja, sangat banyak sekali dari jamaah ini yang sudah mengislamkan umat belahan dunia.

Setelah perjumpaan itu, kami semakin akrab. Hampir setiap saat aku selalu bertemu dengan beliau, bercerita dan berbagi pengamalan satu sama lain. Terlebih lagi beliau adalah salah satu tentor bahasa Inggris di pesantren kami, kemudian aku pun tak menyiakan-nyiakan waktu bersama beliau. Aku mempelajari bahasa Inggris dengan beliau dan beliau mempelajari bahasa Indonesia denganku. Maklum saja, dia sama sekali tak pandai berbahasa Indonesia.

Bulan demi bulan kami jalani, aku pun mulai bosan belajar bahasa Inggris sebab keseharian kami menggunakan bilingual. Aku pun meminta beliau untuk mengajarkan bahasa Perancis kepada aku.
“Excusme, Sir. I wanna learn French with you” ujarku dengan nada bercanda.
“Ha ha. Of course, but why you feel interest with our language?” tanya bule.
“I dunno exactly, but I have a plan gonna travelling to your country, then will take studying overthere, Insyaallah” jawabku.
“Are u sure? Look at this!” Ia berkata dan memperlihatkan gambar-gambar dan video yang ada di dalam handphonenya. “This my home and that’s Eiffel” sambil memperlihatkan jendela ruangan apartemen dan tampak menara Eiffel di depannya.
“Wow, really, that’s wonderfull” kataku dengan kagum.

Terlihat sebuah menara Eiffel dicapture dari ketinggian 50 meter di atas permukaan bumi, di dalam video juga terlihat menara Eiffel memancarkan kelap-kelip warna-warni lampu yang berubah tiap menitnya. Ah, sepertinya ia ingin menunjukkan bahwa negaranya punya tempat eksotik untuk dinikmati.
Kemudian ia menutup handphonenya dan berkata: “Ok, I’ll teach you, we will start with ‘how are u?’ In French ‘commen sa va?”.
“Commen sa va?” kataku.
“Yes, je va bien merci. Uno por te mengkueledo bi supreso continue… blaaa… blaaa…” katanya, mengawali kalimat dengan bahasa negaranya, mulutnya komat-kamit berbicara panjang lebar tapi aku tak paham artinya, aku pun membiarkan ia berbicara. Setelah beliau berbicara, menurutku vokal “R” sepertinya tidak terdengar jelas, hal ini mengingatkanku pada temanku di kampung tatkala ia berbicara bahasa daerah mereka. Ha ha.

Semenjak liburan semester tiba, aku dan pria bule muallaf itu pun berpisah. Aku menghabiskan liburanku dengan keluargaku di Sumatera, sementara beliau masih berjuang untuk mempelajari bacaan Alquran dengan sisa waktu 1 bulan lagi. Namun sayangnya, setelah masa liburan selesai dan aku kembali lagi ke Jawa, beliau sudah tidak lagi berada di Pesantren. Masa Visa-nya habis dan ia harus pulang ke negara tercinta. Akhirnya sampai saat ini kami tak pernah lagi bertemu tapi tetap berkomunikasi. Hanya satu yang dapat kuambil dari pelajaran bahasa Perancis yang ia ajarkan yaitu: “Commen sa va? (Apa kabar teman?), je va bien merci (Kabarku baik-baik saja)”.

Salam, May Allah always blessing you Mr. Sadrick. Remember that Allah has placed the success of human life in this world and hereafter only in the perfect dien.

Cerpen Karangan: Erik Suwandinata
Facebook: Erik Suwandinata

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

 

Apatah Arti Namaku? - Cerpen Jenaka

Dua puluh tiga tahun yang lalu menjadi momen bahagia bagi kedua orangtuaku. Keduanya melakukan beberapa tradisi kehamilan dalam adat Jawa seperti tujuh bulanan atau yang sering disebut “Tingkeban/mitoni”. Tingkeban/mitoni merupakan upacara syukuran pada masa kehamilan wanita, masa kehamilan tersebut berkisar antara 6 – 7 bulanan dengan harapan kelak anak yang dikandung lahir dengan normal; terhindar dari bala’ (musibah); dan sehat walafiat. Acara ini dilakukan dengan memanjatkan doa kepada Tuhan; membelah cengkir; membuat kudapan khas Jawa. Biasanya selang beberapa bulan acara ini dilaksanakan, anak yang dinanti kelahirnya, terlahir ke dunia. Ya, anak yang lahir dari rahim seorang Ibu Jawa itu adalah aku, wajahku persis seperti Ayahku.

Namaku “Erik Suwandinata”. Anak laki-laki pertama dari empat bersaudara yang telah tumbuh dan berkembang selama 23 tahun. Wajahku oval, hidungku pesek, rambutku sedikit ikal, aku memiliki tinggi badan 173 cm dengan berat 55 kg. Deskripsi ini sepintas menggambarkan bahwa perawakanku kurus. Ada hal yang masih menjadi pertanyaan di benakku mengenai arti namaku. Pikirku berkata: “Apa sebenarnya yang melandasi orangtuaku memberikan nama itu ‘Erik Suwandinata’. Tak puas hasrat batinku, kumulai bertanya kepada keduanya mengenai makna namaku.
“lah, yo mboh, mamak wae ra ngerti opo maksud namamu iku le, jal takon karo bapakmu kui. Wong aku ndisek nge’i namamu iku Wandi tok, malah bapak mu kui seng ora setuju (Ibu tidak tahu menahu apa maksud namamu itu, Nak. Dahulu ibu memberi nama Wandi saja, tapi ayahmu tidak menyetujuinya, cobalah kamu tanyakan hal itu kepada beliau)”, ujar Ibuku.

Aku merasa tak puas mendengar jawaban ibu. Kuberanikan diri untuk bertanya kepada ayah. “Apatah arti namaku ini, Yah?” Pria beruban itupun menjawab “Erik itu diambil dari pemain bola, Erik Cantona, kalau Suwan itu artinya angsa, dan Dinata itu berarti menata, jika di gabungkan keseluruhan maka artinya, ‘Si Erik sedang menata angsa’, ha ha ha.” Kami pun terkekeh mendengar penjelasan ayah meskipun belum mengerti maksudnya.

Pada saat tujuh belas tahun aku dibesarkan keduanya. Allah memberiku kesempatan untuk mempelajari agama Islam di Ponpes Sirojul Mukhlasin Magelang. Sebuah “Pesantren Klasik” yang memperkenalkan aku kepada ilmu-ilmu keislaman. Sesampainya di sana aku disambut ramah oleh beberapa santri yang sudah menunggu kehadiranku, kami pun saling bertutur sapa.
Salah seorang santri menanyakan namaku: “Man ismuka yaa Akhi? (Siapa namamu, Kawan?)”.
“Apa?” Jawabku.
“Siapa nama Antum?” ujar beliau.
“O, namaku Erik, Erik Suwandinata” kataku.
Dahi mereka tampak mengkerut, Firasatku mengatakan bahwa mereka sedang mencari tahu arti namaku, mungkin mereka berpikir nampaknya namaku tak berkorelasi dengan wajahku. Wajah kejawen dengan nama kebarat-baratan. Ironisnya, ada yang berpikir bahwa aku adalah muallaf, “astagfirullah” ucapku di dalam hati.

Bulan demi bulan telah ku jalani. Ustad Samik menawarkan agar mengganti namaku. tawaran ini kusambut positif, aku berharap semoga dengan berubahnya namaku ini, rezeki dan kehidupanku semakin membaik. Apalagi nama baru ini adalah pemberian dari seorang Kiai besar, biasanya, para santri berasumsi bahwa hal apapun yang telah diberikan Kiai akan memberikan keberkahan dalam kehidupan. Ditemani Ustad Samik akupun mulai sowan ke Romo Kiai pimpinan Ponpes guna mengubah namaku.
“Ono opo nang? (Ada apa, Nak?)” tanya pak Kiai.
“Niki pak Yai, kulo bade haturaken supados pak Yai nipun gantiaken namine rencange kulo niki (Saya ingin menyampaikan kepada Pak Kiai agar nama teman saya ini diganti oleh Pak Kiai)” jawab Ustad Samik.
“Sopo jeneng’e? (Siapakah namanya?)” Pak Kiai balik bertanya.
“Erik pak Yai (Namanya Erik, Pak Kiai)” jawab Ustad Samik.
“Ha, opo?, Erik, ganti Khoiri nang, Muhammad Khoiri, opo kui jeneng kok Erik, ha ha (Apa! Erik, lebih bagus diganti Khoiri saja, Nak. Ya, Muhammad Khoiri)” Pak Kiai tertawa kekeh kelihatan giginya yang sudah banyak tanggal.
“Matursuwon sanget pak Yai (Terima kasih banyak Pak Kiai)”, kami meminta untuk pamit sambil mencium tangan beliau sebagai wujud ta’dzim (hormat) kepada beliau. Setelah sowan kubuat acara syukuran dengan membeli “nasi kucingan” sebanyak 20 bungkus dan membagikannya kepada teman sekelas.

Setahun lamanya di Ponpes. aku mulai terbiasa dengan bacaan kitab-kitab kuning (classical book) karangan ulama-ulama Islam terdahulu (tabi’ tabi’in). Kitab-kitab itu dengan mudah dapat ditemui di perpustakaan pesantren dan kamar-kamar pemondokan kami. Tiba-tiba rasa penasaranku muncul untuk mencari tahu tentang hukum mengubah nama seseorang, kuambil pena dan kertas lalu bergegas pergi ke perpustakaan hingga kutemukan dua buku monumental yang sepertinya bisa menjadi landasan tentang hukum ini. Ya, kitab Tanwirul Qulub karangan Syekh Muhammad Amin al-Kurdi dan kitab Hasyiyah Al-Bajuri ‘Alal Fathul Qorib Juz II karangan Syekh Al-‘Allamah Ibrohim Al-Bajuri kujumpai dan berpikir bahwa kitab-kitab ini bisa bisa menjadi landasan hukum, kumulai menulis, berikut isi karangannya:

Adapun hukumnya mengubah nama, itu adakalanya wajib apabila nama itu haram (seperti: Abdussyaitan, Tuhan, dan Iblis), adakalanya sunat apabila namanya itu makruh (seperti: himar [keledai]), dan adakalanya boleh apabila namanya itu tidak haram, juga tidak makruh diganti dengan nama yang tidak dilarang agama.

Mengubah nama-nama yang haram itu hukumnya wajib dan nama-nama yang makruh hukumnya sunnah. Dan disunahkan memperbagus nama sesuai dengan Hadis Nabi saw; “kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka perbagusilah nama-nama kalian.” Dimakruhkan sesuatu yang tidak jelas eksistensinya. Haram memberikan nama dengan Abdu al-Ka’bah, Abdu al-Hasan atau Abdu Ali (Hamba Ka’bah, Hamba Hasan atau Hamba Ali). Wajib mengubah karena berarti menghilangkan kemungkaran, walaupun Imam Rahmani ragu-ragu apakah mengubah nama demikian, wajib atau sunnah.
Apa yang dikatakan kedua ulama ini sudah cukup jelas. “Alhamdulillah”, ujarku. Akhirnya aku mengetahui tentang alasan Ustad Samik menyuruhku mengganti nama. Kini, aku mempunyai dua nama.

Beberapa hari yang lalu, aku mencoba “googling” mencari tahu arti kedua namaku. Kemudian, aku mendapati artinya, berikut penjelasannya:
Erik: Raja (kata dari bahasa Skandinavia, Cekoslovakia), Penguasa abadi (bahasa Jerman dan Denmark), Sangat lucu (bahasa Afrika – Amerika)
Suwan: Berasal dari kata suwon yang berarti terimakasih (bahasa Jawa)
Dinata: Hadiah (kata dari bahasa Sunda)
Jika digabung keseluruhan katanya maka memiliki arti “Berterimakasih atas hadiah dari Penguasa Abadi.” sementara itu, nama pemberian Kiai bermakna:
Muhammad: Nama Nabi terakhir yang menjadi panutan umat
Khoiri: Baik, kebaikan (kata dari bahasa Arab)
Jika digabung kedua kata ‘Muhammad Khoiri’ maka akan memiliki makna: Nabi Muhammad yang penuh kebaikan.

Sekarang, Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku termasuk orang yang kaya karena memiliki dua nama dan aku pun sudah tidak akan bertanya lagi tentang arti dari namaku ini serta mempertemukan kepada orang-orang hebat di dalam hidupku, semoga Allah swt. merahmati mereka. Akhirnya, KTP dan SIM ku sudah tercantum nama Erik Suwandinata. Namun, aku tak mengkhususkan orang-orang harus memanggilku Erik atau Khoiri karena kedua-duanya mempunyai arti yang baik. Ah, bagaimana baik dan enaknya sajalah! Ha ha…

Cerpen Karangan: Erik Suwandinata
Facebook: Erik Suwandinata

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

 

Impian si Ayah Penjahit - Cerpen Keluarga

Digelarkanlah sehelai kain gerusan yang berwarna kuning tua di atas meja dan diukur dengan menggunakan meteran pakaian. Seorang laki-laki tua tampak sedang menghitung dan mengukur kain gerusan untuk dibentuk menjadi beberapa pola dasar baju safari. Dua buah rol pembentuk pola dan sebuah kapur penggaris diletakkan di dekatnya. Tampak pula gunting merah tajam yang bobotnya hampir dua ons, berada di sisi kanan kain. Sementara itu, seorang laki-laki beruban mengganti baju kokonya yang berwarna putih dengan kaos kemeja abu-abu yang sudah hampir lusuh, di sana sini terdapat banyak tambalan-tambalan dari beberapa benang. Ia menanggalkan sarung biru berliris hitamnya untuk diganti dengan celana panjang dari kain dril. Lelaki tua itu menghadapi kain gerusan tersebut. Adegan ini mengingatkan pada proses operasi medis, tatkala banyak benda-benda yang berjejer di depannya.

Keheningan malam merangsang mata memenuhi kebiasaannya, sedang udara malam menusuk pori-pori kulit keriput yang renta karena termakan usia. Rambutnya yang sudah memutih lebat, punggungnya yang sudah tidak lagi gagah membuat ia harus menahan sedikit rasa letih dan kantuknya. Di samping itu, ada sebuah tatapan yang tajam sekaligus lembut di matanya, yang mengingatkan pada seorang penjahit profesional atau kepada seseorang yang mahir mengukur diameter suatu tempat. Dari wajahnya yang mudah tersenyum memancar keakraban dan keramah tamahan yang mengasyikkan.

Itulah Ayahku, Amran namanya, sebagaimana dikenal orang sekitar bahwa ia adalah seorang penjahit rumahan. Ia terkenal sangat ramah dengan kerabatnya, mudah bergaul dan selalu memberikan kontribusi terhadap orang-orang di sekitarnya. Hasil jahitannya yang rapi menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang hendak menempah jahitan kepadanya, maklum saja, karena ia sudah menggeluti profesi ini hampir 30 tahun.

Dua puluh sembilan tahun yang lalu dengan ditutori oleh kerabat dekatnya, Hamdan. Ayahku diberi pelajaran awal menjahit kain perca (potongan kain sisa jahitan). Potongan-potongan itu ia jahit lurus untuk melatih keapikan, setelah itu dilanjutkan dengan teknik menjahit pola kantung; mata itik (jahitan bergelombang); dan membentuk biku (lipatan-lipatan pada tepian kain). Untuk mahir dalam mengerjakan teknik ini, ia menghabiskan waktu selama 1 tahun. Hal itu dikarenakan teknik ini merupakan teknik dasar yang harus dikuasai bagi seorang penjahit agar memiliki modal skill kerapian dalam jahitan. Selanjutnya, setelah laki-laki tua itu menguasai teknik dasar ini, kerabatnya memerintahkan agar ia membantunya menjahit pakaian yang sebelumnya sudah diberi pola, tugasnya hanya menjahit sesuai pola bukan membentuk pola atau menciptakan pakaian sendiri. Hal ini ia lakukan selama 3 tahun, sementara itu, materi membentuk pola dan menciptakan baju sendiri baru ia dapatkan setahun setelahnya.

Setahun setelah ia mahir menjahit, Ayahku pun mulai bekerja di perusahaan kerabatnya. Perusahaan sederhana yang mereka bangun sangat berkembang pesat di kala itu, banyak dari masyarakat datang berduyun-duyun menempah pakaian di perusahaan mereka. Tentunya dengan banyaknya konsumen yang datang menyebabkan income perusahaan tinggi, laba yang didapatkan Ayahku mampu memodalinya untuk berumahtangga. Dalam hal yang sama, Ayahku memutuskan untuk mempersunting Ibuku menjadi belahan jiwanya.

Nasib berlaku nahas, beberapa bulan setelah pernikahan keduanya. Perusahaan tempat Ayahku bekerja dilahap si jago merah. Suasana riuh, api dengan cepat menghanguskan material di perusahaan itu. walhasil, tak ada satu pun barang-barang yang bisa diselamatkan, pakaian tempahan konsumen juga ikut terlahap si jago merah. Hanya sisa-sisa material dan kepala mesin jahit yang gosong yang tampak di perusahaan Ayahku pasca kebakaran.

Setelah kebakaran itu terjadi, sedikit pun tak mengurungkan niat Ayahku yang beruban itu untuk berhenti menjahit. Ia pun mulai membuka jahitan di rumahnya, dengan sisa gaji yang ia dapatkan sebelumnya, Ayahku membeli mesin jahit bermerek ‘Standard’ seharga 200 ribu rupiah. Mesin inilah yang ia pakai untuk mengais rezeki memberikan makan anak-istri sampai sekarang.

Ayahku mempunyai impian agar anak-anaknya kelak menjadi orang-orang sukses, sukses menurut perspektif beliau adalah anak mampu memberikan kebaikan kepada orang lain, tanpa meminta sepeser pun imbalan atas kebaikan yang telah dilakukan; mampu menghidupi anak-istri kelak ketika sudah berumahtangga; dan memiliki ilmu yang dapat menuntun diri si anak, dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat. Itulah sebabnya ia sangat responsif dan banting-tulang untuk menyekolahkan anak-anaknya, karena beliau tahu bahwa impian itu akan raih ketika anak-anaknya mendapat pendidikan yang cukup. Sungguh beliau adalah sosok trainer masa depan bagi anak-anaknya.

Kini, beliau mempunyai empat buah hati. Anak sulung sudah menyelesaikan pendidikan strata satu dan sedang menyelesaikan program magister; anak kedua sedang belajar di SLTA; anak ketiga juga masih sekolah di Sekolah Dasar; anak bungsu mulai belajar di TK Islamiyah. Melihat anak-anaknya bisa bersekolah merupakan hal yang paling bahagia dalam hidup laki-laki tua beruban ini, ia sangat yakin bahwa Allah akan senantiasa memberikan kemudahan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Meskipun, ia harus lembur mengerjakan tempahan pakaian dari para konsumen, “tak apalah” pikirnya, ini sudah menjadi kewajiban bagi seorang ayah untuk menafkahi keluarga.

Pernah diceritakan oleh Sayyidina Abu Hurairah r.anhu bahwa seorang laki-laki mendatangi Baginda Rasulullah saw. dan berkata:

 “Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling pantas untuk kuperlakukan dengan baik? Rasulullah menjawab: Ibumu, kemudian siapa? Tanya laki-laki itu, Rasulullah menjawab: Ibumu, dan siapa lagi ya Rasulullah? Kemudian Rasulullah pun menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi yang harus kuperlakukan dengan baik ya Rasulullah, Rasulullah pun mengakhiri dengan jawaban: Ayahmu” (H.R. al-Bukhari, pada bab “hak-hak manusia untuk berbuat baik kepada Saudara,” h. 5971)

Hadis ini menjelaskan bahwa pentingnya menghormati dan berbuat baik kepada orangtua, terkhusus kepada ibu. Dengan 3 kali pengulangan kata yang diucapkan oleh Baginda Rasulullah saw. memberikan isyarat bahwa ibu harus dihormati daripada ayah. Lantas, apakah hal ini mutlak diperuntukkan kepada ibu saja? Bagaimana dengan penghormatan kepada seorang ayah, apakah harus jauh lebih rendah dari ibu? Jawabnya: Tidak! Ibu memang telah melahirkan dan mendidik dengan kasih sayang, namun, tak bisa dipungkiri bahwa ibu juga harus takdim (hormat) kepada ayah, karena ayah adalah kepala madrasah dalam keluarga. Kemudian, ayah mencari nafkah dari pagi hingga petang, tak kenal waktu siang dan malam. Hal inilah yang mendasari bahwa sebagai seorang anak dan istri harus menghormati ayah. Derajatnya sama dengan ayah. Hanya saja perbedaan terletak pada pengkodifikasian keduanya. Ibu yang patut dihormati dengan didikan kasih sayangnya; ayah juga wajib dihormati karena beliaulah yang berjuang mendidik keluarga, banting tulang menafkahi keluarga, serta berani melawan getirnya dunia.

Hal inilah yang menjadi dasar bagiku untuk hormat dan taat kepadanya, tanpa mengurangi sedikit pun penghormatanku kepada ibuku, beliau yang sudah berjuang mati-matian membiayai kehidupan, membiayai sekolah anak-anaknya, menjadi sosok superhero, dan penasihat handal yang memberikan petuah-petuah kehidupan. Demi Allah, aku menghormatimu Ayah Penjahit.

*Salam dari seorang anak yang menghormatimu (Rick Dinata)

Cerpen Karangan: Erik Suwandinata
Facebook: Erik Suwandinata

Ig :Erik Suwandinata

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

 

Pak Guru Oh Pak Guru - Cerpen Pendidikan

Di sebuah kampung nelayan, seorang Bapak Guru Muda yang baru datang dari kota sangat bersemangat menjadikan murid-muridnya terpelajar dan berdisiplin tinggi. Pada awal tatap muka, Sang Guru Muda mulai mengumumkan beberapa peraturan kedisiplinan siswa.

“Anak-anak bapak yang baik, bapak senang sekali bisa mengajar kalian di sini. Harapan bapak, kita bisa sama-sama melaksanakan pembelajaran dengan baik ke depan. Oleh karena itu, mulai sekarang jangan ada lagi yang terlambat. Bapak juga tidak mau melihat kalian berangkat sekolah dengan tidak rapi, dan kalian harus merapikan rambut juga kuku-kuku kalian. Tidak boleh ada rambut yang panjang apalagi kuku. Bapak akan periksa satu persatu besok pagi”.

Keesokan harinya, Guru itu pun datang berpagi-pagi. Ia ingin melihat keseriusan muridnya mematuhi perintahnya. Anak-anak pun satu persatu datang tepat waktu, Pak Guru merasa gembira, “Memang hebat anak-anak saya”, ujarnya di dalam hati.

Setibanya ia memasuki ruangan kelas, mata Pak Guru Muda itu menatap rambut-rambut siswa. Lagi-lagi ia senang, karena para murid mematuhi perintahnya. Ia membayangkan betapa nikmatnya mengajari anak-anak yang mau mendengarkan kata-katanya, “Anak-anak hebat” ujarnya.

Kemudian tatapan pak Guru beralih ke arah kuku-kuku siswa. Ia pun terkejut karena mendapati 75% dari siswa tidak memotong kuku. Wajahnya mulai mengesut, tampak rona kekecewaan terpancar dari matanya. “Murid-muridku, kalian dengarkan apa yang bapak katakan kemarin kan?”
“Iya, Pak” jawab anak-anak serentak.
“Bapak bilang apa?”
“Bapak bilang kami harus belajar disiplin, datang tepat waktu. Berpakaian rapi dan memotong kuku dan rambut” kata murid-murid.
“Bapak senang kalian telah mendengarkan bapak, kalian sudah rapi, datang tepat waktu, juga sudah memotong rambut. Tapi kenapa tidak juga kalian memotong kuku? Kenapa kalian mematuhinya setengah hati?.” Salah satu siswa yang duduk paling depan mengacungkan jari telunjuknya dan berkata “Kalau saya boleh mewakili teman-teman, Pak Guru. Kami semua ingin mematuhi Pak Guru, datang tepat waktu, memotong rambut dan kuku. Namun yang terakhir kami tidak bisa Pak Guru. Kami adalah anak-anak nelayan, sepulang sekolah kami biasa membantu orangtua mengupas kulit kerang. Kalaulah kami memotong kuku kami, maka kami tidak bisa lagi membantu orangtua kami.” Guru Muda itu kaget, perkataan yang baru saja ia dengar menyadarkannya tentang hal baru.

Menjalani profesi guru bukanlah hal yang mudah. Guru bukanlah seorang pemahat patung yang dengan mudah membentuk kayu menjadi mahakarya indah. Guru juga bukan file komputer yang terus meng-copy paste segala memori untuk ditransfer ke murid-murid. Dalam menjalankan profesinya, Guru tidak sedang berhadapan dengan benda kosong yang sesuka hati mengisinya. Tapi yang ia hadapi adalah anak manusia yang punya emosi, perasaan dan memiliki pengalaman dunia yang beragam. Oleh karena itu, selain benar-benar menguasai pelajaran dan piawai dalam berkomunikasi. Guru mesti memiliki kepekaan sosial atas apa yang dihadapi murid. Di lapangan, terkadang tak sesuai dengan teori yang dipelajari saat “ngampus”. Dalam kondisi tersebut, Guru harus berani meninggalkan teori yang lazim dan bertindak dengan cara yang baru.

Di sinilah butuh kearifan seorang guru, kemampuan yang bisa menimbang antara menjalankan prinsip umum atau mengalah dengan melihat kondisi yang berbeda. Seorang guru semestinya paham, bahwa di dunia ini banyak jalan untuk menggapai tujuan. Banyak pengertian yang berubah, dalam tempat dan situasi yang berbeda. Memaksakan para siswa untuk berfikir dengan satu pola hanya akan membelenggu kreativitas mereka dalam menyerap ilmu pengetahuan. Sesuatu yang justru bertentangan dengan prinsip pengetahuan. Semoga pendidikan Indonesia hari demi hari semakin membaik.

Cerpen Karangan: Erik Suwandinata

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"