Selasa, 11 April 2023

Commen Sa Va? Je Va Bien Merci - Cerpen Persahabatan

Hari itu, Jum’at, 26 September 2008, terlihat seorang pria foreign sedang berjalan menuju ke sebuah warung kecil yang menjual kudapan seperti tempe goreng, tahu isi, risol, molen, dan lain lain. Tampak juga peci putih dengan balutan baju gamis putih menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia berjalan mendekati warung itu tepat berada di depan Pasar Payaman. Sebuah pasar tradisional yang terletak di Utara kota Magelang yang biasanya orang-orang berbelanja pangan sehari-hari. Sementara itu, di seberang pasar payaman berbataskan jalan Raya, aku duduk di depan Toko Classical Book milik pesantren memperhatikan pria bule itu dengan seksama, tampak pria itu kesulitan saat berkomunikasi kepada penjual kudapan. Pada akhirnya, dengan bahasa isyarat yang ia miliki, pria tersebut berhasil membeli tempe goreng seharga 5.000 rupiah beserta rawitnya. Kemudian ia datang menghampiriku dan berkata: “Do you want?” sambil menawarkan bungkusan plastik biru. “Yes, Thanks, Sir” jawabku.

Hari itu merupakan hari pertamaku bertemu dengan pria bule itu. Namanya adalah Abdullah, seorang pria lajang berkebangsaan Perancis yang datang ke Indonesia. Rupanya, bule ini adalah muallaf yang sedang belajar membaca Alquran di salah satu cabang pesantren kami yang terletak di Kerincing. Ia mengawali menjadi seorang muslim setelah melakukan diskusi panjang mengenai agama Islam dengan seorang ‘Amir (ketua kelompok) dari kelompok Jamaah Dakwah (Jamaah Tabligh) yang datang ke Eropa untuk mengajak muslim Eropa agar salat berjamaah bersama-sama. Semula namanya adalah Sadrick, setelah ia memeluk Islam maka diganti menjadi Abdullah, memang sejak belasan tahun yang lalu ia sudah memiliki ketertarikan terhadap Islam. Namun hatinya tergugah dan mantap memeluk Islam setelah mendengar penjelasan dari ketua jamaah tersebut. Tibanya ia ke pesantren kami juga karena arahan ketua itu, sungguh apresiasi yang tak ternilai harganya patut diberikan kepada para jamaah ini, dakwah yang dilakukan begitu menyentuh kalbu, untaian-untaian mutiara hikmah yang disampaikan membuat orang yang mendengarnya hanyut dalam keimanan, patuh terhadap ulil amri, tidak radikal apalagi rasism, penuh perjuangan dalam berdakwah sampai ke daerah terpencil sekalipun. Pantas saja, sangat banyak sekali dari jamaah ini yang sudah mengislamkan umat belahan dunia.

Setelah perjumpaan itu, kami semakin akrab. Hampir setiap saat aku selalu bertemu dengan beliau, bercerita dan berbagi pengamalan satu sama lain. Terlebih lagi beliau adalah salah satu tentor bahasa Inggris di pesantren kami, kemudian aku pun tak menyiakan-nyiakan waktu bersama beliau. Aku mempelajari bahasa Inggris dengan beliau dan beliau mempelajari bahasa Indonesia denganku. Maklum saja, dia sama sekali tak pandai berbahasa Indonesia.

Bulan demi bulan kami jalani, aku pun mulai bosan belajar bahasa Inggris sebab keseharian kami menggunakan bilingual. Aku pun meminta beliau untuk mengajarkan bahasa Perancis kepada aku.
“Excusme, Sir. I wanna learn French with you” ujarku dengan nada bercanda.
“Ha ha. Of course, but why you feel interest with our language?” tanya bule.
“I dunno exactly, but I have a plan gonna travelling to your country, then will take studying overthere, Insyaallah” jawabku.
“Are u sure? Look at this!” Ia berkata dan memperlihatkan gambar-gambar dan video yang ada di dalam handphonenya. “This my home and that’s Eiffel” sambil memperlihatkan jendela ruangan apartemen dan tampak menara Eiffel di depannya.
“Wow, really, that’s wonderfull” kataku dengan kagum.

Terlihat sebuah menara Eiffel dicapture dari ketinggian 50 meter di atas permukaan bumi, di dalam video juga terlihat menara Eiffel memancarkan kelap-kelip warna-warni lampu yang berubah tiap menitnya. Ah, sepertinya ia ingin menunjukkan bahwa negaranya punya tempat eksotik untuk dinikmati.
Kemudian ia menutup handphonenya dan berkata: “Ok, I’ll teach you, we will start with ‘how are u?’ In French ‘commen sa va?”.
“Commen sa va?” kataku.
“Yes, je va bien merci. Uno por te mengkueledo bi supreso continue… blaaa… blaaa…” katanya, mengawali kalimat dengan bahasa negaranya, mulutnya komat-kamit berbicara panjang lebar tapi aku tak paham artinya, aku pun membiarkan ia berbicara. Setelah beliau berbicara, menurutku vokal “R” sepertinya tidak terdengar jelas, hal ini mengingatkanku pada temanku di kampung tatkala ia berbicara bahasa daerah mereka. Ha ha.

Semenjak liburan semester tiba, aku dan pria bule muallaf itu pun berpisah. Aku menghabiskan liburanku dengan keluargaku di Sumatera, sementara beliau masih berjuang untuk mempelajari bacaan Alquran dengan sisa waktu 1 bulan lagi. Namun sayangnya, setelah masa liburan selesai dan aku kembali lagi ke Jawa, beliau sudah tidak lagi berada di Pesantren. Masa Visa-nya habis dan ia harus pulang ke negara tercinta. Akhirnya sampai saat ini kami tak pernah lagi bertemu tapi tetap berkomunikasi. Hanya satu yang dapat kuambil dari pelajaran bahasa Perancis yang ia ajarkan yaitu: “Commen sa va? (Apa kabar teman?), je va bien merci (Kabarku baik-baik saja)”.

Salam, May Allah always blessing you Mr. Sadrick. Remember that Allah has placed the success of human life in this world and hereafter only in the perfect dien.

Cerpen Karangan: Erik Suwandinata
Facebook: Erik Suwandinata

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

 

Apatah Arti Namaku? - Cerpen Jenaka

Dua puluh tiga tahun yang lalu menjadi momen bahagia bagi kedua orangtuaku. Keduanya melakukan beberapa tradisi kehamilan dalam adat Jawa seperti tujuh bulanan atau yang sering disebut “Tingkeban/mitoni”. Tingkeban/mitoni merupakan upacara syukuran pada masa kehamilan wanita, masa kehamilan tersebut berkisar antara 6 – 7 bulanan dengan harapan kelak anak yang dikandung lahir dengan normal; terhindar dari bala’ (musibah); dan sehat walafiat. Acara ini dilakukan dengan memanjatkan doa kepada Tuhan; membelah cengkir; membuat kudapan khas Jawa. Biasanya selang beberapa bulan acara ini dilaksanakan, anak yang dinanti kelahirnya, terlahir ke dunia. Ya, anak yang lahir dari rahim seorang Ibu Jawa itu adalah aku, wajahku persis seperti Ayahku.

Namaku “Erik Suwandinata”. Anak laki-laki pertama dari empat bersaudara yang telah tumbuh dan berkembang selama 23 tahun. Wajahku oval, hidungku pesek, rambutku sedikit ikal, aku memiliki tinggi badan 173 cm dengan berat 55 kg. Deskripsi ini sepintas menggambarkan bahwa perawakanku kurus. Ada hal yang masih menjadi pertanyaan di benakku mengenai arti namaku. Pikirku berkata: “Apa sebenarnya yang melandasi orangtuaku memberikan nama itu ‘Erik Suwandinata’. Tak puas hasrat batinku, kumulai bertanya kepada keduanya mengenai makna namaku.
“lah, yo mboh, mamak wae ra ngerti opo maksud namamu iku le, jal takon karo bapakmu kui. Wong aku ndisek nge’i namamu iku Wandi tok, malah bapak mu kui seng ora setuju (Ibu tidak tahu menahu apa maksud namamu itu, Nak. Dahulu ibu memberi nama Wandi saja, tapi ayahmu tidak menyetujuinya, cobalah kamu tanyakan hal itu kepada beliau)”, ujar Ibuku.

Aku merasa tak puas mendengar jawaban ibu. Kuberanikan diri untuk bertanya kepada ayah. “Apatah arti namaku ini, Yah?” Pria beruban itupun menjawab “Erik itu diambil dari pemain bola, Erik Cantona, kalau Suwan itu artinya angsa, dan Dinata itu berarti menata, jika di gabungkan keseluruhan maka artinya, ‘Si Erik sedang menata angsa’, ha ha ha.” Kami pun terkekeh mendengar penjelasan ayah meskipun belum mengerti maksudnya.

Pada saat tujuh belas tahun aku dibesarkan keduanya. Allah memberiku kesempatan untuk mempelajari agama Islam di Ponpes Sirojul Mukhlasin Magelang. Sebuah “Pesantren Klasik” yang memperkenalkan aku kepada ilmu-ilmu keislaman. Sesampainya di sana aku disambut ramah oleh beberapa santri yang sudah menunggu kehadiranku, kami pun saling bertutur sapa.
Salah seorang santri menanyakan namaku: “Man ismuka yaa Akhi? (Siapa namamu, Kawan?)”.
“Apa?” Jawabku.
“Siapa nama Antum?” ujar beliau.
“O, namaku Erik, Erik Suwandinata” kataku.
Dahi mereka tampak mengkerut, Firasatku mengatakan bahwa mereka sedang mencari tahu arti namaku, mungkin mereka berpikir nampaknya namaku tak berkorelasi dengan wajahku. Wajah kejawen dengan nama kebarat-baratan. Ironisnya, ada yang berpikir bahwa aku adalah muallaf, “astagfirullah” ucapku di dalam hati.

Bulan demi bulan telah ku jalani. Ustad Samik menawarkan agar mengganti namaku. tawaran ini kusambut positif, aku berharap semoga dengan berubahnya namaku ini, rezeki dan kehidupanku semakin membaik. Apalagi nama baru ini adalah pemberian dari seorang Kiai besar, biasanya, para santri berasumsi bahwa hal apapun yang telah diberikan Kiai akan memberikan keberkahan dalam kehidupan. Ditemani Ustad Samik akupun mulai sowan ke Romo Kiai pimpinan Ponpes guna mengubah namaku.
“Ono opo nang? (Ada apa, Nak?)” tanya pak Kiai.
“Niki pak Yai, kulo bade haturaken supados pak Yai nipun gantiaken namine rencange kulo niki (Saya ingin menyampaikan kepada Pak Kiai agar nama teman saya ini diganti oleh Pak Kiai)” jawab Ustad Samik.
“Sopo jeneng’e? (Siapakah namanya?)” Pak Kiai balik bertanya.
“Erik pak Yai (Namanya Erik, Pak Kiai)” jawab Ustad Samik.
“Ha, opo?, Erik, ganti Khoiri nang, Muhammad Khoiri, opo kui jeneng kok Erik, ha ha (Apa! Erik, lebih bagus diganti Khoiri saja, Nak. Ya, Muhammad Khoiri)” Pak Kiai tertawa kekeh kelihatan giginya yang sudah banyak tanggal.
“Matursuwon sanget pak Yai (Terima kasih banyak Pak Kiai)”, kami meminta untuk pamit sambil mencium tangan beliau sebagai wujud ta’dzim (hormat) kepada beliau. Setelah sowan kubuat acara syukuran dengan membeli “nasi kucingan” sebanyak 20 bungkus dan membagikannya kepada teman sekelas.

Setahun lamanya di Ponpes. aku mulai terbiasa dengan bacaan kitab-kitab kuning (classical book) karangan ulama-ulama Islam terdahulu (tabi’ tabi’in). Kitab-kitab itu dengan mudah dapat ditemui di perpustakaan pesantren dan kamar-kamar pemondokan kami. Tiba-tiba rasa penasaranku muncul untuk mencari tahu tentang hukum mengubah nama seseorang, kuambil pena dan kertas lalu bergegas pergi ke perpustakaan hingga kutemukan dua buku monumental yang sepertinya bisa menjadi landasan tentang hukum ini. Ya, kitab Tanwirul Qulub karangan Syekh Muhammad Amin al-Kurdi dan kitab Hasyiyah Al-Bajuri ‘Alal Fathul Qorib Juz II karangan Syekh Al-‘Allamah Ibrohim Al-Bajuri kujumpai dan berpikir bahwa kitab-kitab ini bisa bisa menjadi landasan hukum, kumulai menulis, berikut isi karangannya:

Adapun hukumnya mengubah nama, itu adakalanya wajib apabila nama itu haram (seperti: Abdussyaitan, Tuhan, dan Iblis), adakalanya sunat apabila namanya itu makruh (seperti: himar [keledai]), dan adakalanya boleh apabila namanya itu tidak haram, juga tidak makruh diganti dengan nama yang tidak dilarang agama.

Mengubah nama-nama yang haram itu hukumnya wajib dan nama-nama yang makruh hukumnya sunnah. Dan disunahkan memperbagus nama sesuai dengan Hadis Nabi saw; “kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka perbagusilah nama-nama kalian.” Dimakruhkan sesuatu yang tidak jelas eksistensinya. Haram memberikan nama dengan Abdu al-Ka’bah, Abdu al-Hasan atau Abdu Ali (Hamba Ka’bah, Hamba Hasan atau Hamba Ali). Wajib mengubah karena berarti menghilangkan kemungkaran, walaupun Imam Rahmani ragu-ragu apakah mengubah nama demikian, wajib atau sunnah.
Apa yang dikatakan kedua ulama ini sudah cukup jelas. “Alhamdulillah”, ujarku. Akhirnya aku mengetahui tentang alasan Ustad Samik menyuruhku mengganti nama. Kini, aku mempunyai dua nama.

Beberapa hari yang lalu, aku mencoba “googling” mencari tahu arti kedua namaku. Kemudian, aku mendapati artinya, berikut penjelasannya:
Erik: Raja (kata dari bahasa Skandinavia, Cekoslovakia), Penguasa abadi (bahasa Jerman dan Denmark), Sangat lucu (bahasa Afrika – Amerika)
Suwan: Berasal dari kata suwon yang berarti terimakasih (bahasa Jawa)
Dinata: Hadiah (kata dari bahasa Sunda)
Jika digabung keseluruhan katanya maka memiliki arti “Berterimakasih atas hadiah dari Penguasa Abadi.” sementara itu, nama pemberian Kiai bermakna:
Muhammad: Nama Nabi terakhir yang menjadi panutan umat
Khoiri: Baik, kebaikan (kata dari bahasa Arab)
Jika digabung kedua kata ‘Muhammad Khoiri’ maka akan memiliki makna: Nabi Muhammad yang penuh kebaikan.

Sekarang, Aku bersyukur kepada Tuhan karena aku termasuk orang yang kaya karena memiliki dua nama dan aku pun sudah tidak akan bertanya lagi tentang arti dari namaku ini serta mempertemukan kepada orang-orang hebat di dalam hidupku, semoga Allah swt. merahmati mereka. Akhirnya, KTP dan SIM ku sudah tercantum nama Erik Suwandinata. Namun, aku tak mengkhususkan orang-orang harus memanggilku Erik atau Khoiri karena kedua-duanya mempunyai arti yang baik. Ah, bagaimana baik dan enaknya sajalah! Ha ha…

Cerpen Karangan: Erik Suwandinata
Facebook: Erik Suwandinata

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

 

Impian si Ayah Penjahit - Cerpen Keluarga

Digelarkanlah sehelai kain gerusan yang berwarna kuning tua di atas meja dan diukur dengan menggunakan meteran pakaian. Seorang laki-laki tua tampak sedang menghitung dan mengukur kain gerusan untuk dibentuk menjadi beberapa pola dasar baju safari. Dua buah rol pembentuk pola dan sebuah kapur penggaris diletakkan di dekatnya. Tampak pula gunting merah tajam yang bobotnya hampir dua ons, berada di sisi kanan kain. Sementara itu, seorang laki-laki beruban mengganti baju kokonya yang berwarna putih dengan kaos kemeja abu-abu yang sudah hampir lusuh, di sana sini terdapat banyak tambalan-tambalan dari beberapa benang. Ia menanggalkan sarung biru berliris hitamnya untuk diganti dengan celana panjang dari kain dril. Lelaki tua itu menghadapi kain gerusan tersebut. Adegan ini mengingatkan pada proses operasi medis, tatkala banyak benda-benda yang berjejer di depannya.

Keheningan malam merangsang mata memenuhi kebiasaannya, sedang udara malam menusuk pori-pori kulit keriput yang renta karena termakan usia. Rambutnya yang sudah memutih lebat, punggungnya yang sudah tidak lagi gagah membuat ia harus menahan sedikit rasa letih dan kantuknya. Di samping itu, ada sebuah tatapan yang tajam sekaligus lembut di matanya, yang mengingatkan pada seorang penjahit profesional atau kepada seseorang yang mahir mengukur diameter suatu tempat. Dari wajahnya yang mudah tersenyum memancar keakraban dan keramah tamahan yang mengasyikkan.

Itulah Ayahku, Amran namanya, sebagaimana dikenal orang sekitar bahwa ia adalah seorang penjahit rumahan. Ia terkenal sangat ramah dengan kerabatnya, mudah bergaul dan selalu memberikan kontribusi terhadap orang-orang di sekitarnya. Hasil jahitannya yang rapi menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang hendak menempah jahitan kepadanya, maklum saja, karena ia sudah menggeluti profesi ini hampir 30 tahun.

Dua puluh sembilan tahun yang lalu dengan ditutori oleh kerabat dekatnya, Hamdan. Ayahku diberi pelajaran awal menjahit kain perca (potongan kain sisa jahitan). Potongan-potongan itu ia jahit lurus untuk melatih keapikan, setelah itu dilanjutkan dengan teknik menjahit pola kantung; mata itik (jahitan bergelombang); dan membentuk biku (lipatan-lipatan pada tepian kain). Untuk mahir dalam mengerjakan teknik ini, ia menghabiskan waktu selama 1 tahun. Hal itu dikarenakan teknik ini merupakan teknik dasar yang harus dikuasai bagi seorang penjahit agar memiliki modal skill kerapian dalam jahitan. Selanjutnya, setelah laki-laki tua itu menguasai teknik dasar ini, kerabatnya memerintahkan agar ia membantunya menjahit pakaian yang sebelumnya sudah diberi pola, tugasnya hanya menjahit sesuai pola bukan membentuk pola atau menciptakan pakaian sendiri. Hal ini ia lakukan selama 3 tahun, sementara itu, materi membentuk pola dan menciptakan baju sendiri baru ia dapatkan setahun setelahnya.

Setahun setelah ia mahir menjahit, Ayahku pun mulai bekerja di perusahaan kerabatnya. Perusahaan sederhana yang mereka bangun sangat berkembang pesat di kala itu, banyak dari masyarakat datang berduyun-duyun menempah pakaian di perusahaan mereka. Tentunya dengan banyaknya konsumen yang datang menyebabkan income perusahaan tinggi, laba yang didapatkan Ayahku mampu memodalinya untuk berumahtangga. Dalam hal yang sama, Ayahku memutuskan untuk mempersunting Ibuku menjadi belahan jiwanya.

Nasib berlaku nahas, beberapa bulan setelah pernikahan keduanya. Perusahaan tempat Ayahku bekerja dilahap si jago merah. Suasana riuh, api dengan cepat menghanguskan material di perusahaan itu. walhasil, tak ada satu pun barang-barang yang bisa diselamatkan, pakaian tempahan konsumen juga ikut terlahap si jago merah. Hanya sisa-sisa material dan kepala mesin jahit yang gosong yang tampak di perusahaan Ayahku pasca kebakaran.

Setelah kebakaran itu terjadi, sedikit pun tak mengurungkan niat Ayahku yang beruban itu untuk berhenti menjahit. Ia pun mulai membuka jahitan di rumahnya, dengan sisa gaji yang ia dapatkan sebelumnya, Ayahku membeli mesin jahit bermerek ‘Standard’ seharga 200 ribu rupiah. Mesin inilah yang ia pakai untuk mengais rezeki memberikan makan anak-istri sampai sekarang.

Ayahku mempunyai impian agar anak-anaknya kelak menjadi orang-orang sukses, sukses menurut perspektif beliau adalah anak mampu memberikan kebaikan kepada orang lain, tanpa meminta sepeser pun imbalan atas kebaikan yang telah dilakukan; mampu menghidupi anak-istri kelak ketika sudah berumahtangga; dan memiliki ilmu yang dapat menuntun diri si anak, dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat. Itulah sebabnya ia sangat responsif dan banting-tulang untuk menyekolahkan anak-anaknya, karena beliau tahu bahwa impian itu akan raih ketika anak-anaknya mendapat pendidikan yang cukup. Sungguh beliau adalah sosok trainer masa depan bagi anak-anaknya.

Kini, beliau mempunyai empat buah hati. Anak sulung sudah menyelesaikan pendidikan strata satu dan sedang menyelesaikan program magister; anak kedua sedang belajar di SLTA; anak ketiga juga masih sekolah di Sekolah Dasar; anak bungsu mulai belajar di TK Islamiyah. Melihat anak-anaknya bisa bersekolah merupakan hal yang paling bahagia dalam hidup laki-laki tua beruban ini, ia sangat yakin bahwa Allah akan senantiasa memberikan kemudahan untuk menyekolahkan anak-anaknya. Meskipun, ia harus lembur mengerjakan tempahan pakaian dari para konsumen, “tak apalah” pikirnya, ini sudah menjadi kewajiban bagi seorang ayah untuk menafkahi keluarga.

Pernah diceritakan oleh Sayyidina Abu Hurairah r.anhu bahwa seorang laki-laki mendatangi Baginda Rasulullah saw. dan berkata:

 “Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling pantas untuk kuperlakukan dengan baik? Rasulullah menjawab: Ibumu, kemudian siapa? Tanya laki-laki itu, Rasulullah menjawab: Ibumu, dan siapa lagi ya Rasulullah? Kemudian Rasulullah pun menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi yang harus kuperlakukan dengan baik ya Rasulullah, Rasulullah pun mengakhiri dengan jawaban: Ayahmu” (H.R. al-Bukhari, pada bab “hak-hak manusia untuk berbuat baik kepada Saudara,” h. 5971)

Hadis ini menjelaskan bahwa pentingnya menghormati dan berbuat baik kepada orangtua, terkhusus kepada ibu. Dengan 3 kali pengulangan kata yang diucapkan oleh Baginda Rasulullah saw. memberikan isyarat bahwa ibu harus dihormati daripada ayah. Lantas, apakah hal ini mutlak diperuntukkan kepada ibu saja? Bagaimana dengan penghormatan kepada seorang ayah, apakah harus jauh lebih rendah dari ibu? Jawabnya: Tidak! Ibu memang telah melahirkan dan mendidik dengan kasih sayang, namun, tak bisa dipungkiri bahwa ibu juga harus takdim (hormat) kepada ayah, karena ayah adalah kepala madrasah dalam keluarga. Kemudian, ayah mencari nafkah dari pagi hingga petang, tak kenal waktu siang dan malam. Hal inilah yang mendasari bahwa sebagai seorang anak dan istri harus menghormati ayah. Derajatnya sama dengan ayah. Hanya saja perbedaan terletak pada pengkodifikasian keduanya. Ibu yang patut dihormati dengan didikan kasih sayangnya; ayah juga wajib dihormati karena beliaulah yang berjuang mendidik keluarga, banting tulang menafkahi keluarga, serta berani melawan getirnya dunia.

Hal inilah yang menjadi dasar bagiku untuk hormat dan taat kepadanya, tanpa mengurangi sedikit pun penghormatanku kepada ibuku, beliau yang sudah berjuang mati-matian membiayai kehidupan, membiayai sekolah anak-anaknya, menjadi sosok superhero, dan penasihat handal yang memberikan petuah-petuah kehidupan. Demi Allah, aku menghormatimu Ayah Penjahit.

*Salam dari seorang anak yang menghormatimu (Rick Dinata)

Cerpen Karangan: Erik Suwandinata
Facebook: Erik Suwandinata

Ig :Erik Suwandinata

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

 

Pak Guru Oh Pak Guru - Cerpen Pendidikan

Di sebuah kampung nelayan, seorang Bapak Guru Muda yang baru datang dari kota sangat bersemangat menjadikan murid-muridnya terpelajar dan berdisiplin tinggi. Pada awal tatap muka, Sang Guru Muda mulai mengumumkan beberapa peraturan kedisiplinan siswa.

“Anak-anak bapak yang baik, bapak senang sekali bisa mengajar kalian di sini. Harapan bapak, kita bisa sama-sama melaksanakan pembelajaran dengan baik ke depan. Oleh karena itu, mulai sekarang jangan ada lagi yang terlambat. Bapak juga tidak mau melihat kalian berangkat sekolah dengan tidak rapi, dan kalian harus merapikan rambut juga kuku-kuku kalian. Tidak boleh ada rambut yang panjang apalagi kuku. Bapak akan periksa satu persatu besok pagi”.

Keesokan harinya, Guru itu pun datang berpagi-pagi. Ia ingin melihat keseriusan muridnya mematuhi perintahnya. Anak-anak pun satu persatu datang tepat waktu, Pak Guru merasa gembira, “Memang hebat anak-anak saya”, ujarnya di dalam hati.

Setibanya ia memasuki ruangan kelas, mata Pak Guru Muda itu menatap rambut-rambut siswa. Lagi-lagi ia senang, karena para murid mematuhi perintahnya. Ia membayangkan betapa nikmatnya mengajari anak-anak yang mau mendengarkan kata-katanya, “Anak-anak hebat” ujarnya.

Kemudian tatapan pak Guru beralih ke arah kuku-kuku siswa. Ia pun terkejut karena mendapati 75% dari siswa tidak memotong kuku. Wajahnya mulai mengesut, tampak rona kekecewaan terpancar dari matanya. “Murid-muridku, kalian dengarkan apa yang bapak katakan kemarin kan?”
“Iya, Pak” jawab anak-anak serentak.
“Bapak bilang apa?”
“Bapak bilang kami harus belajar disiplin, datang tepat waktu. Berpakaian rapi dan memotong kuku dan rambut” kata murid-murid.
“Bapak senang kalian telah mendengarkan bapak, kalian sudah rapi, datang tepat waktu, juga sudah memotong rambut. Tapi kenapa tidak juga kalian memotong kuku? Kenapa kalian mematuhinya setengah hati?.” Salah satu siswa yang duduk paling depan mengacungkan jari telunjuknya dan berkata “Kalau saya boleh mewakili teman-teman, Pak Guru. Kami semua ingin mematuhi Pak Guru, datang tepat waktu, memotong rambut dan kuku. Namun yang terakhir kami tidak bisa Pak Guru. Kami adalah anak-anak nelayan, sepulang sekolah kami biasa membantu orangtua mengupas kulit kerang. Kalaulah kami memotong kuku kami, maka kami tidak bisa lagi membantu orangtua kami.” Guru Muda itu kaget, perkataan yang baru saja ia dengar menyadarkannya tentang hal baru.

Menjalani profesi guru bukanlah hal yang mudah. Guru bukanlah seorang pemahat patung yang dengan mudah membentuk kayu menjadi mahakarya indah. Guru juga bukan file komputer yang terus meng-copy paste segala memori untuk ditransfer ke murid-murid. Dalam menjalankan profesinya, Guru tidak sedang berhadapan dengan benda kosong yang sesuka hati mengisinya. Tapi yang ia hadapi adalah anak manusia yang punya emosi, perasaan dan memiliki pengalaman dunia yang beragam. Oleh karena itu, selain benar-benar menguasai pelajaran dan piawai dalam berkomunikasi. Guru mesti memiliki kepekaan sosial atas apa yang dihadapi murid. Di lapangan, terkadang tak sesuai dengan teori yang dipelajari saat “ngampus”. Dalam kondisi tersebut, Guru harus berani meninggalkan teori yang lazim dan bertindak dengan cara yang baru.

Di sinilah butuh kearifan seorang guru, kemampuan yang bisa menimbang antara menjalankan prinsip umum atau mengalah dengan melihat kondisi yang berbeda. Seorang guru semestinya paham, bahwa di dunia ini banyak jalan untuk menggapai tujuan. Banyak pengertian yang berubah, dalam tempat dan situasi yang berbeda. Memaksakan para siswa untuk berfikir dengan satu pola hanya akan membelenggu kreativitas mereka dalam menyerap ilmu pengetahuan. Sesuatu yang justru bertentangan dengan prinsip pengetahuan. Semoga pendidikan Indonesia hari demi hari semakin membaik.

Cerpen Karangan: Erik Suwandinata

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Jumat, 20 Mei 2016

Perkembangan Peserta Didik

Perkembangan Sosial Peserta Didik 
oleh:
Erik Suwandinata


               Perkembangan yang terjadi pada anak meliputi segala aspek kehidupan yang mereka jalani baik bersifat fisik maupun non fisik. Perkembangan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Beberapa teori perkembangan manusia telah mengungkapkan bahwa manusia telah tumbuh dan berkembang dari masa bayi kemasa dewasa melalui beberapa langkah jenjang.
        Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangannya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan eksternal mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang yang secara aktif melakukan proses sosialisasi.
        Manusia sejatinya merupakan makhluk sosial tidak akan mampu hidup sendiri dan butuh interaksi dengan manusia lainnya. Interaksi ini merupakan kebutuhan kodrati yang dimiliki manusia. Karena pada dasarnya, manusia dilahirkan belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuaan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang disekitar lingkungannya. 
       Kebutuhan berinteraksipun akan muncul sejak usia enam bulan. Saat itu anak telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah dan kasih sayang. Oleh sebab itu, Dalam penyajian makalah yang ringkas ini, akan diuraikan beberapa bentuk-bentuk dari perkembangan sosial, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial serta upaya yang dilakukan oleh orang tua, masyarakat dan terkhusus pendidik dalam membantu mengembangkan kemampuan sosial peserta didik.
A.    Pengertian Perkembangan Sosial
         Hubungan sosial merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa kebutuhan manusia menjadi semakin kompleks dan tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi amat kompleks. Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dn tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.[1] Berikut ini beberapa pengertian perkembangan sosial menurut beberapa ahli:
1.                 Menurut Elizabeth B. Hurlock, perkembangan sosial adalah kemampuan seseorang dalam bersikap atau tata cara perilakunya dalam berinteraksi dengan unsur sosialisasi di masyarakat.
2.      Abu Ahmadi, berpendapat bahwa perkembangan sosial telah dimulai sejak manusia itu lahir. Sebagai contoh, anak menangis saat dilahirkan, atau anak tersenyum saat disapa. Hal ini membuktikan adanya interaksi sosial antara anak dan lingkungannya.[2]
3.                              Perkembangan sosial adalah kemajuan yang progresif melalui kegiatan yang terarah dari individu dalam pemahaman atas warisan sosial dan formasi pola tingkah lakunya yang luwes. Hal itu disebabkan oleh adanya kesesuaian yang layak antara dirinya dengan warisan sosial itu.[3]
            Jadi, dapat diartikan bahwa perkembangan sosial akan menekankan perhatiannya kepada pertumbuhan yang bersifat progresif. sebagaimana orang atau individu bereaksi terhadap orang-orang di sekitarnya dan sebagaimana pula pengaruh hubungan itu pada diri individu sendiri.
B.     Bentuk-bentuk Penyesuaian Sosial
            Dalam perkembangan kematangan sosial, anak biasanya mewujudkan bentuk-bentuk interaksi sosial sebagai berikut:
1.      Pembangkangan (negativisme)
            Pembangkangan merupakan bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku ini muncul pada usia sekitar 18 bulan dan mencapai puncaknya pada usia 3 tahun dan mulai menurun pada usia 4 hingga 6 tahun.[4]
            Sikap orang tua terhadap anak seharusnya tidak memandang pertanda bahwa mereka anak yang nakal, keras kepala, bodoh atau sebutan-sebutan negatif lainnya. Namun sebaliknya, orang tua hendaknya mau memahami bahwa sikap pembangkangan itu sebagai proses perkembangan anak dari sikap kebergantungan (dependent) menuju ke arah sikap bebas (independent).
            Mulai usia dua tahun, anak mulai menunjukkan sikap membangkang misalnya anak tidak mau disuapi, anak tidak mau digendong, atau diajak bermain oleh pengasuh. Mereka memilih makan sendiri meskipun berantakan dan memilih berteman dengan anak-anak sebayanya.[5]
2.      Agresi (agresion)
            Yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap rasa frustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang seperti: mencubit, menggigit, menendang dan lain sebagainya.[6]
            Orang tua hendaknya berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara mengalihkan perhatian dan keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang agresif maka agresifitasnya akan semakin meningkat. Hendaknya juga orang tua mengarahkan anak untuk mengalihkan sikap agresifnya kepada hal-hal yang positif seperti kegiatan melempar dan menangkap bola, atau dengan permainan-permainan yang membutuhkan ketangkasan.
3.      Berselisih (clashing)
            Sikap ini terjadi jika tatkala anak merasa tersinggung atau terganggu oleh perilaku anak lain. Sering kali anak-naka berselisih pendapat tentang suatu masalah, perselisihan juga kadang-kadang menyebabkan perkelahian. Oleh sebab itu, peran orang tua dan guru ketika menghadapi situasi seperti ini adalah sebagai penengah antara masalah keduanya dan tidak membela sikap anak yang satu atau menyalahkan yang lain. Orang tua atau guru sebaiknya mengajak anak untuk mencari jalan damai dari perselisihan mereka tanpa menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar, cara ini dapat membantu anak mengenali perasaannya masing-masing dan membantu anak untuk mengakui kesalahannya masing-masing.[7]
4.      Menggoda (teasing)
            Menggoda merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan yang menimbulkan amarah pada orang yang digodanya. Misalnya anak-anak memberi gelar tertentu kepada temannya atau saudaranya untuk emembuat mereka marah.
            Peran orang tua dalam kondisi ini adalah mengajak anak merasakan jika gelar atau sebutan yang diberikannya kepada anak lain terjadi pada dirinya, metode ini disebut metode induksi dimana metode ini dapat membantu anak merasakan akibat perbuatannya terhadap orang lain dan dapat membantu berempati terhadap orang lain.[8]
5.      Persaingan (rivaly)
            Persaingan adalah keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. Sikap ini mulai terlihat pada usia 4 tahun yakni persaingan prestise dan pada usia 6 tahun semangat bersaing ini akan semakin baik. Persaingan yang baik jika masih berada dalam intensitas normal. Agar sikap bersaing berada pada intensitas itu maka guru atau orang tua selalu menciptakan suasana bersaing yang positif pada anak.[9]
6.      Kerjasama (cooperation)
            Sikap mau bekerja sama dengan orang lain mulai tampak pada usia 3 tahun atau awal 4 tahun. pada usia 6 hingga 7 tahun sikap ini semakin berkembang dengan baik. Sikap dapat dikembangkan melalui kegiatan belajar bersama. Mereka akan terbiasa untuk bekerja dalam satu tim, sehingga mereka dapat memudahkan mengerjakan pekerjaan jika dilakukan bersama-sama.
7.      Tingkah laku berkuasa (acendant behavior)
            Tingkah laku yang dilakukan untuk menguasai situai sosial, mendominasi atau bersikap seperti boss, bentuk dari sikap ini adalah berkuasa pada anak-anak selalu menimbulkan perselisihan antar anak. Anak-anak yang bersifat “bossy” ini dijauhi oleh teman-temannya atau hanya ditemani karena takut dengan kejahatannya.[10]
            Di dalam pembelajaran tingkah laku berkuasa ini dapat dikontrol dengan memberikan kesempatan kepada tiap anak dalam pembelajaran secara bergantian menjadi ketua dan anggota. Guru atau orang tua dapat memberikan peran-peran yang berbeda kepada setiap anak, sehingga semua anak berkesempatan menjadi pimpinan dan dipimpin.
8.      Mementingkan diri sendiri (selffishness)
            Sikap egosentris dalam memenuhi keinginannya sendiri. Anak-anak menyukai hal-hal yang menguntungkan dirinya. Mereka melakukan sesuatu hal yang dapat menyenangkan dirinya, meskipun hal itu kadang kala bertentangan dengan kepentingan atau bahkan merugikan orang lain. Seorang anak yang menginginkan mainan temannya misalnya, terkadang langsung merebut mainan tersebut tanpa meminjam atau memintanya.
            Sikap ini sebenarnya berguna dalam mempertahankan diri, tetapi dapat merufgikan orang lain jika dilakukan secara berlebihan. Orang tua atau guru harus mengajarkan kepada anak batasan-batasan kepemilikan atau kepentingan orang lain. Penanaman batasan-batasan ini dapat dilakukan guru atau orang tua melalui permainan, cerita atau nasihat.[11]
9.      Simpati (sympaty)
            Simpati merupakan sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain, mau mendekati atau bekerjasama dengan dirinya. Mereka rela berbagi apa yang mereka punya. Pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok dapat membantu mengembangkan sikap empati pada anak.[12]
C.    Tokoh Perkembangan Sosial
            Salah satu tokoh psikologi perkembangan yang merumuskan teori perkembangan sosial peserta didik adalah Erik Erikson (1902-1994). Beliau mengembangkan teori yang disebut teori perkembangan psikososial dimana beliau membagi tahap-tahap perkembangan manusia menjadi delapan tahapan. Berikut ini teori perkembangan sosial menurut Erik Erikson yang tergambar pada tahap-tahap perkembangan anak sebagai berikut:[13]
Umur
Fase Perkembangan
Perkembangan Perilaku
0 – 1 tahun
Trust vs Mistrust (percaya versus tidak percaya)
Tahap pertama adalah tahap pengembangan rasa percaya diri kepada orang lain, sehingga mereka sangat memerlukan sentuhan dan pelukan.
2 – 3 tahun
Autonomy vs Shame (otonomi versus malu-malu)
Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa pemberontakan anak atau masa “nakalnya”.  Namun kenakalannya tidak dapat dicegah begitu saja, karena tahap ini anak sedang mengembangkan kemampuan motorik dan mental, sehingga yang diperlukan justru mendorong dan memberikan tempat untuk mengembangkan motorik dan mental. Pada saat ini anak sangat terpengaruh oleh orang-orang penting disekitarnya, misal orang tua atau guru.
4 – 5 tahun
Inisiative vs Guilt (inisiatif versus rasa bersalah)
Mereka banyak bertanya dalam segala hal, sehingga terkesan cerewet. Mereka juga mengalami perngembangan inisiatif/ide, sampai pada hal-hal yang berbau fantasi.
6 – 11 tahun
Indusstry vs Inferiority (upaya versus inferioritas)
Mereka sudah bisa mengerjakan tugas-tugas sekolah dan termotivasi untuk belajar. Namun masih memiliki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan menuntut perhatian.
12 -18/20 tahun
Ego-identity vs Role on fusion (identitas versus kekacauan) peran)
Tahap ini manusia ingin mencari identitas dirinya.  Anak yang sudah beranjak menjadi remaja mulai ingin tampil memegang peran-peran sosial di masyarakat.  Namun masih belum bisa mengatur dan memisahkan tugas dalam peran yang berbeda.
18/19 – 30 tahun
Intimacy vs Isolation (intimasi versus isolasi)
Memasuki tahap ini manusia sudah mulai siap menjalani hubungan intim dengan orang lain, membangun bahtera rumah tangga bersama calon pilihannya.
31 – 60 tahun
Generation vs Stagnation (perluasan versus stagnasi)
Tahap ini ditandai dengan munculnya kepedulian yang tulus terhadap sesama. Tahap ini terjadi saat seseorang telah memasuki usia dewasa.
60 tahunan ke atas
Ego Integrity vs Despair (integritas versus kekecewaan)
Masa ini dimulai pada usia 60-an, masa dimana manusia mulai mengembangkan integritas dirinya.

D.    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
       Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.
1.      Keluarga
          Keluarga merupakan lingkungan pertama memberikan pengaruh berbagai aspek perkembangan peserta didik, termasuk perkembangan sosialnya. Dimana kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga juga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, peseta didik pertama-tama belajar memperhatikan keinginan-keinginan, belajar bekerja sama, membantu dengan orang tua; saudara laki-laki; saudara perempuan.[14]
      Pengamalan interaksi sosial di dalam keluarga turut menentukan pula cara-cara tingkah lakunya terhadap orang lain. Apabila interaksi sosialnya di dalam keluarga tidak baik atau tidak lancar, maka besar kemungkinan bahwa interaksi sosial dengan masyarakat juga berlangsung tidak lancar.[15] Oleh karena itu, proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.
2.      Kematangan Anak
        Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangkan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula menentukan. Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.[16]
3.      Status Sosial Ekonomi
            Keadaan sosial ekonomi keluarga juga dapat berperan terhadap perkembangan peserta didik. Misalnya anak-anak yang orang tuanya berpenghasilan cukup, maka anak-anak tersebut lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kecakapan, begitu pula sebaliknya.[17] Namun demikian, status sosial ekonomi tidaklah mutlak dikatakan sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial peserta didik. Toh, pada kenyataannya ini bergantung kepada sikap orang tua dan corak interaksi dalam keluarga itu.
            Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan sosial anak akan senantiasa menjaga status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu, maksud menjaga status sosial keluarganya itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi terisolasi dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.
4.      Pendidikan
            Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan.
            Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan (sekolah). Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa (nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.[18]
5.      Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi
            Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.[19] Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.
E.     Upaya Mengembangkan Sikap Sosial Peserta Didik
            Upaya yang harus dilakukan pendidik dalam mengembangkan sikap sosial peserta didik dapat dilakukan sebagai berikut:
1.      Melaksanakan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran koperatif akan mengembangkan sikap kerjasama dan saling tolong menolong sesama peserta didik. Dalam pembelajaran ini salah satu elemen penting yang mendapat perhatian utama adalah interpendensi psitif dimana setiap peserta didik saling bergantung satu sama lain untuk mencapai kesuksesan bersama, tentunya hal ini akan mendorong peserta didik untuk menghargai kemampuan orang lain dan bersabar dengan sikap orang lain.[20]
2.      Melaksanakan pembelajaran kolaboratif. pembelajaran yang melibatkan siswa dalam suatu kelompok untuk membangun pengetahuan dan mencapai tujuan pembelajaran bersama melalui interaksi sosial di bawah bimbingan pendidik baik di dalam maupun di luar  kelas,  sehingga  terjadi  pembelajaran  yang  penuh  makna  dan  siswa  akan saling menghargai kontribusi semua anggota kelompok.[21] Siswa lebih pintar akan senantiasa membantu temannya yang belum memahami materi pelajaran yang akan menimbulkan sikap saling menyayangi diantara peserta didik.
3.      Menjalin komunikasi interpersonal kepada orang tua peserta didik.
            Di samping upaya yang harus dilakukan pendidik dalam mengembangkan sosial peserta didik di atas, peran orang tua juga diperlukan agar peserta didik lebih terarah dalam sikap sosialnya. Baumrind dalam John W. Santrock mengatakan bahwa ada empat bentuk gaya asuh (parenting) orang tua yaitu:[22]
1.      Authoratorian parenting adalah gaya asuh yang bersifat membatasi dan menghukum. Di mana hanya ada sedikit percakapan antara orang tua dan murid; menghasilkan anak yang tidak kompeten secara sosial. Gaya pengasuhan ini hendaknya dihindari karena bisa berdampak pada kesulitan perkembangan sosial anak, mereka cenderung cemas menghadapi situasi sosial, tak bisa membuat inisiatif untuk beraktivitas dan keahlian komunikasinya buruk.[23]
2.      Authoritative parenting, gaya asuh positif yang mendorong anak untuk independen tapi masih membatasi dan mengontrol tindakan mereka, percakapan ekstensif seperti tukar pendapat dan orang tua bersikap membimbing atau mendukung sering dilakukan. Orang tua seperti ini mungkin akan merangkul anaknya dengan lembut dan berkata “kamu kan tahu seharusnya kamu tidak boleh melakukan itu. mari kita bahas bagaimana cara kamu bisa menangani situasi secara berbeda lain kali”. Hasilnya anak akan kompeten secara sosial. Mereka cenderung mandiri, tidak cepat puas, gaul, dan memperlihatkan harga diri yang tinggi.[24]
3.      Neglectful parenting, gaya asuh di mana orang tua tidak peduli, atau orang tua hanya meluangkan waktu sedikit untuk anak-anaknya, hasilnya anak akan tidak kompeten secara sosial. Mereka cenderung kurang bisa mengontrol diri, tidak cukup mandiri, dan tidak termotivasi untuk berprestasi.[25]
4.      Indulgent parenting, gaya asuh di mana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anaknya tapi tidak banyak memberi batasan atau kekangan pada perilaku mereka. Orang tua ini sering membiarkan anak mencari cara sendiri untuk mencapai tujuannya sebab orang tua semacam ini percaya bahwa kombinasi dukungan dan pengasuhan dan sedikit pembatasan akan menciptakan anak yang kreatif dan percaya diri. Hasilnya adalah si anak biasanya tidak belajar untuk mengontrol perilakunya sendiri. Orang tua ini tidak memperhitungkan seluruh aspek perkembangan si anak.[26]
            Selain itu Rasulullah saw. juga memberikan anjuran untuk saling bersikap baik dalam sosial kemasyarakatan, sebagaimana sabda beliau:
            Artinya: “Perumpaan orang-orang mukmin dalam hal saling rasa cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh yang apabila ada salah satu anggotanya yang mengeluh sakit, maka anggota-anggota tubuhnya mengeluh kesakitan maka anggota-anggotanya tubuh lainnya akan ikut merasa sakit.” (HR. Muslim dan Ahmad)
            Maka dari itu hendaknya segala upaya maksimal harus dilakukan oleh pendidik dan orang tua dalam membentuk sikap sosial anak, barangkali dengan pembekalan keterampilan sosial dan kemampuan menyelesaikan masalah sosial, peserta didik akan dilatih untuk menyelelesaikan masalah-masalah sosialnya, baik dengan teman, tetangga, teman sebaya maupun terhadap orang tuanya sendiri.
            Dari paparan pembahasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama. Adapun bentuk-bentuk tingkah laku sosial peserta didik diantaranya:
1.      Pembangkangan (negativisme)
2.      Agresi (agresion)
3.      Berselisih (clashing)
4.      Menggoda (teasing)
5.      Persaingan (rivaly)
6.      Kerjasama (cooperation
7.      Tingkah laku berkuasa (acendant behavior)
8.      Mementingkan diri sendiri (selffishness)
9.      Simpati (sympaty)
            Bentuk tingkah laku di atas dapat diidentifikasi dari tahapan usia peserta didik sendiri, di samping itu, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial peserta didik yaitu:
1.      Keluarga
2.      Kematangan Anak
3.      Status Sosial Ekonomi
4.      Pendidikan
5.      Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi
            Peran orang tua, guru dan masyarakat sangat diperlukan dalam mengembangkan dan mendukung perkembangan sosial peserta didik. Kesemuanya merupakan instrumen bagi anak untuk mengembangkan kemampuan sosialnya.




DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. Psikologi Sosial. Jakarta: PT. Rineka Pustaka, 1991.

Djaali. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 2007.

Santrock, John W. Educational Psychologi: Psikologi Pendidikan, terj. Tri Wibowo, Edisi: II. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011.

Sitorus, Masganti. Perkembangan Peserta Didik. Medan: Perdana Publishing, 2012.

Swandinata, Erik. Penerapan Collaborative Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Materi Pokok Akhlak Tercela Kelas VII MTs Darul Aman Medan. Skripsi: UIN Sumatera Utara, 2015.

Mithaul Huda, Cooperatif Learning: Metode, Teknik, Struktur, dan Model Terapan. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011.

Monks, F.J., A.M.P. Knoers dan Siti Rahayu Haditono , Psikologi perkembangan: pengantar dalam bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994. h. 197-202.





[1]Masganti Sitorus, Perkembangan Peserta Didik (Medan: Perdana Publishing, 2012), h. 105.
[2]Abu Ahmadi, Psikologi Sosial (Jakarta: PT. Rineka Pustaka, 1991), h. 201.
[3]Djaali, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 48.
[4]Masganti Sitorus, Perkembangan, h. 106-107.
[5]Ibid.
[6]Ibid.
[7]Ibid., h. 108.
[8]Ibid.
[9]Ibid., h. 109.
[10]Ibid.
[11]Ibid., h. 110.
[12]Ibid.
[13]John W. Santrock, Educational Psychologi: Psikologi Pendidikan, terj. Tri Wibowo, Edisi: II (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h. 91.
[14]Abu Ahmadi, Psikologi, h. 255-256.
[15]Ibid.
[16]Masganti Sitorus, Perkembangan, h. 123.
[17]Abu Ahmadi, Psikologi, h. 256.
[18]F.J. Monks, et. al., Psikologi perkembangan: pengantar dalam bagiannya (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994), h. 197-202.
[19]Masganti Sitorus, Perkembangan, h. 123.
[20]Mithaul Huda, Cooperatif Learning: Metode, Teknik, Struktur, dan Model Terapan (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011), h. 37-38.
[21]Erik Swandinata, Penerapan Collaborative Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Materi Pokok Akhlak Tercela Kelas VII MTs Darul Aman Medan (Skripsi: UIN Sumatera Utara, 2015), h. 19.
[22]John W. Santrock, Educational, h. 91.
[23]Ibid.
[24]Ibid.
[25]Ibid.
[26]Ibid.