Perkembangan Sosial Peserta Didik
oleh:
Erik Suwandinata
Perkembangan
yang terjadi pada anak meliputi segala aspek kehidupan yang mereka jalani baik
bersifat fisik maupun non fisik. Perkembangan berarti serangkaian perubahan
progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Beberapa teori perkembangan manusia telah
mengungkapkan bahwa manusia telah tumbuh dan berkembang dari masa bayi kemasa
dewasa melalui beberapa langkah jenjang.
Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangannya itu pada
dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses
integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan eksternal mengambil peranan penting. Proses tersebut
merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang yang secara aktif melakukan
proses sosialisasi.
Manusia
sejatinya merupakan makhluk sosial tidak akan mampu hidup sendiri dan butuh
interaksi dengan manusia lainnya. Interaksi ini merupakan kebutuhan kodrati
yang dimiliki manusia. Karena pada dasarnya, manusia dilahirkan belum memiliki
kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuaan sosial anak
diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang
disekitar lingkungannya.
Kebutuhan berinteraksipun akan muncul sejak usia enam bulan. Saat itu anak telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah dan kasih sayang. Oleh sebab itu, Dalam penyajian makalah yang ringkas ini, akan diuraikan beberapa bentuk-bentuk dari perkembangan sosial, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial serta upaya yang dilakukan oleh orang tua, masyarakat dan terkhusus pendidik dalam membantu mengembangkan kemampuan sosial peserta didik.
Kebutuhan berinteraksipun akan muncul sejak usia enam bulan. Saat itu anak telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah dan kasih sayang. Oleh sebab itu, Dalam penyajian makalah yang ringkas ini, akan diuraikan beberapa bentuk-bentuk dari perkembangan sosial, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial serta upaya yang dilakukan oleh orang tua, masyarakat dan terkhusus pendidik dalam membantu mengembangkan kemampuan sosial peserta didik.
A. Pengertian Perkembangan Sosial
Hubungan
sosial merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan
sosial dimulai dari tingkat yang sederhana yang didasari oleh kebutuhan yang
sederhana. Semakin dewasa kebutuhan manusia menjadi semakin kompleks dan
tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi amat kompleks. Perkembangan
sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan
sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri
terhadap norma-norma kelompok, moral, dn tradisi meleburkan diri menjadi satu
kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.[1] Berikut
ini beberapa pengertian perkembangan sosial menurut beberapa ahli:
1. Menurut Elizabeth B. Hurlock, perkembangan sosial adalah kemampuan
seseorang dalam bersikap atau tata cara perilakunya dalam berinteraksi dengan
unsur sosialisasi di masyarakat.
2. Abu Ahmadi, berpendapat bahwa perkembangan sosial telah dimulai sejak
manusia itu lahir. Sebagai contoh, anak menangis saat dilahirkan, atau anak
tersenyum saat disapa. Hal ini membuktikan adanya interaksi sosial antara anak
dan lingkungannya.[2]
3. Perkembangan sosial adalah kemajuan yang progresif melalui kegiatan yang
terarah dari individu dalam pemahaman atas warisan sosial dan formasi pola
tingkah lakunya yang luwes. Hal itu disebabkan oleh adanya kesesuaian yang
layak antara dirinya dengan warisan sosial itu.[3]
Jadi,
dapat diartikan bahwa perkembangan sosial akan menekankan perhatiannya kepada
pertumbuhan yang bersifat progresif. sebagaimana orang atau individu bereaksi
terhadap orang-orang di sekitarnya dan sebagaimana pula pengaruh hubungan itu
pada diri individu sendiri.
B. Bentuk-bentuk Penyesuaian Sosial
Dalam
perkembangan kematangan sosial, anak biasanya mewujudkan bentuk-bentuk
interaksi sosial sebagai berikut:
1. Pembangkangan (negativisme)
Pembangkangan
merupakan bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi
terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai
dengan kehendak anak. Tingkah laku ini muncul pada usia sekitar 18 bulan dan
mencapai puncaknya pada usia 3 tahun dan mulai menurun pada usia 4 hingga 6
tahun.[4]
Sikap
orang tua terhadap anak seharusnya tidak memandang pertanda bahwa mereka anak
yang nakal, keras kepala, bodoh atau sebutan-sebutan negatif lainnya. Namun
sebaliknya, orang tua hendaknya mau memahami bahwa sikap pembangkangan itu
sebagai proses perkembangan anak dari sikap kebergantungan (dependent)
menuju ke arah sikap bebas (independent).
Mulai
usia dua tahun, anak mulai menunjukkan sikap membangkang misalnya anak tidak
mau disuapi, anak tidak mau digendong, atau diajak bermain oleh pengasuh.
Mereka memilih makan sendiri meskipun berantakan dan memilih berteman dengan
anak-anak sebayanya.[5]
2. Agresi (agresion)
Yaitu
perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal).
Agresi merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap rasa frustasi (rasa kecewa
karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini
diwujudkan dengan menyerang seperti: mencubit, menggigit, menendang dan lain
sebagainya.[6]
Orang
tua hendaknya berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara
mengalihkan perhatian dan keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang
agresif maka agresifitasnya akan semakin meningkat. Hendaknya juga orang tua
mengarahkan anak untuk mengalihkan sikap agresifnya kepada hal-hal yang positif
seperti kegiatan melempar dan menangkap bola, atau dengan permainan-permainan
yang membutuhkan ketangkasan.
3. Berselisih (clashing)
Sikap
ini terjadi jika tatkala anak merasa tersinggung atau terganggu oleh perilaku
anak lain. Sering kali anak-naka berselisih pendapat tentang suatu masalah,
perselisihan juga kadang-kadang menyebabkan perkelahian. Oleh sebab itu, peran
orang tua dan guru ketika menghadapi situasi seperti ini adalah sebagai
penengah antara masalah keduanya dan tidak membela sikap anak yang satu atau
menyalahkan yang lain. Orang tua atau guru sebaiknya mengajak anak untuk
mencari jalan damai dari perselisihan mereka tanpa menjelaskan siapa yang salah
dan siapa yang benar, cara ini dapat membantu anak mengenali perasaannya
masing-masing dan membantu anak untuk mengakui kesalahannya masing-masing.[7]
4. Menggoda (teasing)
Menggoda
merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental
terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan yang
menimbulkan amarah pada orang yang digodanya. Misalnya anak-anak memberi gelar
tertentu kepada temannya atau saudaranya untuk emembuat mereka marah.
Peran
orang tua dalam kondisi ini adalah mengajak anak merasakan jika gelar atau
sebutan yang diberikannya kepada anak lain terjadi pada dirinya, metode ini
disebut metode induksi dimana metode ini dapat membantu anak merasakan akibat
perbuatannya terhadap orang lain dan dapat membantu berempati terhadap orang
lain.[8]
5. Persaingan (rivaly)
Persaingan
adalah keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain.
Sikap ini mulai terlihat pada usia 4 tahun yakni persaingan prestise dan pada
usia 6 tahun semangat bersaing ini akan semakin baik. Persaingan yang baik jika
masih berada dalam intensitas normal. Agar sikap bersaing berada pada
intensitas itu maka guru atau orang tua selalu menciptakan suasana bersaing
yang positif pada anak.[9]
6. Kerjasama (cooperation)
Sikap
mau bekerja sama dengan orang lain mulai tampak pada usia 3 tahun atau awal 4
tahun. pada usia 6 hingga 7 tahun sikap ini semakin berkembang dengan baik.
Sikap dapat dikembangkan melalui kegiatan belajar bersama. Mereka akan terbiasa
untuk bekerja dalam satu tim, sehingga mereka dapat memudahkan mengerjakan
pekerjaan jika dilakukan bersama-sama.
7. Tingkah laku berkuasa (acendant behavior)
Tingkah
laku yang dilakukan untuk menguasai situai sosial, mendominasi atau bersikap
seperti boss, bentuk dari sikap ini adalah berkuasa pada anak-anak selalu menimbulkan
perselisihan antar anak. Anak-anak yang bersifat “bossy” ini dijauhi oleh
teman-temannya atau hanya ditemani karena takut dengan kejahatannya.[10]
Di dalam pembelajaran tingkah laku
berkuasa ini dapat dikontrol dengan memberikan kesempatan kepada tiap anak
dalam pembelajaran secara bergantian menjadi ketua dan anggota. Guru atau orang
tua dapat memberikan peran-peran yang berbeda kepada setiap anak, sehingga
semua anak berkesempatan menjadi pimpinan dan dipimpin.
8.
Mementingkan diri
sendiri (selffishness)
Sikap egosentris dalam memenuhi
keinginannya sendiri. Anak-anak menyukai hal-hal yang menguntungkan dirinya.
Mereka melakukan sesuatu hal yang dapat menyenangkan dirinya, meskipun hal itu
kadang kala bertentangan dengan kepentingan atau bahkan merugikan orang lain.
Seorang anak yang menginginkan mainan temannya misalnya, terkadang langsung merebut
mainan tersebut tanpa meminjam atau memintanya.
Sikap ini sebenarnya berguna dalam
mempertahankan diri, tetapi dapat merufgikan orang lain jika dilakukan secara
berlebihan. Orang tua atau guru harus mengajarkan kepada anak batasan-batasan
kepemilikan atau kepentingan orang lain. Penanaman batasan-batasan ini dapat
dilakukan guru atau orang tua melalui permainan, cerita atau nasihat.[11]
9.
Simpati (sympaty)
Simpati merupakan sikap emosional
yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain, mau
mendekati atau bekerjasama dengan dirinya. Mereka rela berbagi apa yang mereka
punya. Pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok dapat membantu
mengembangkan sikap empati pada anak.[12]
C. Tokoh Perkembangan Sosial
Salah
satu tokoh psikologi perkembangan yang merumuskan teori perkembangan sosial
peserta didik adalah Erik Erikson (1902-1994). Beliau mengembangkan teori yang
disebut teori perkembangan psikososial dimana beliau membagi tahap-tahap
perkembangan manusia menjadi delapan tahapan. Berikut ini teori perkembangan
sosial menurut Erik Erikson yang tergambar pada tahap-tahap perkembangan anak
sebagai berikut:[13]
Umur
|
Fase Perkembangan
|
Perkembangan Perilaku
|
0 – 1 tahun
|
Trust vs Mistrust (percaya versus
tidak percaya)
|
Tahap pertama adalah tahap pengembangan rasa
percaya diri kepada orang lain, sehingga mereka sangat memerlukan sentuhan
dan pelukan.
|
2 – 3 tahun
|
Autonomy vs Shame (otonomi versus
malu-malu)
|
Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa
pemberontakan anak atau masa “nakalnya”.
Namun kenakalannya tidak dapat dicegah begitu saja, karena tahap ini
anak sedang mengembangkan kemampuan motorik dan mental, sehingga yang
diperlukan justru mendorong dan memberikan tempat untuk mengembangkan motorik
dan mental. Pada saat ini anak sangat terpengaruh oleh orang-orang penting
disekitarnya, misal orang tua atau guru.
|
4 – 5 tahun
|
Inisiative vs Guilt (inisiatif versus
rasa bersalah)
|
Mereka banyak bertanya dalam segala hal,
sehingga terkesan cerewet. Mereka juga mengalami perngembangan inisiatif/ide,
sampai pada hal-hal yang berbau fantasi.
|
6 – 11 tahun
|
Indusstry vs Inferiority (upaya versus
inferioritas)
|
Mereka sudah bisa mengerjakan tugas-tugas
sekolah dan termotivasi untuk belajar. Namun masih memiliki kecenderungan
untuk kurang hati-hati dan menuntut perhatian.
|
12 -18/20 tahun
|
Ego-identity vs Role on fusion (identitas versus
kekacauan) peran)
|
Tahap ini manusia ingin mencari identitas
dirinya. Anak yang sudah beranjak
menjadi remaja mulai ingin tampil memegang peran-peran sosial di
masyarakat. Namun masih belum bisa
mengatur dan memisahkan tugas dalam peran yang berbeda.
|
18/19 – 30 tahun
|
Intimacy vs Isolation (intimasi versus isolasi)
|
Memasuki tahap ini manusia sudah mulai siap
menjalani hubungan intim dengan orang lain, membangun bahtera rumah tangga
bersama calon pilihannya.
|
31 – 60 tahun
|
Generation vs Stagnation (perluasan versus
stagnasi)
|
Tahap ini ditandai dengan munculnya
kepedulian yang tulus terhadap sesama. Tahap ini terjadi saat seseorang telah
memasuki usia dewasa.
|
60 tahunan ke atas
|
Ego Integrity vs Despair (integritas versus kekecewaan)
|
Masa ini dimulai pada usia 60-an, masa
dimana manusia mulai mengembangkan integritas dirinya.
|
D.
Faktor-faktor Yang
Mempengaruhi Perkembangan Sosial
Perkembangan
sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan
anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental
terutama emosi dan inteligensi.
1. Keluarga
Keluarga
merupakan lingkungan pertama memberikan pengaruh berbagai aspek perkembangan
peserta didik, termasuk perkembangan sosialnya. Dimana kondisi dan tata cara
kehidupan keluarga merupakan lingkungan kondusif bagi sosialisasi anak. Di
dalam keluarga juga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, peseta didik
pertama-tama belajar memperhatikan keinginan-keinginan, belajar bekerja sama,
membantu dengan orang tua; saudara laki-laki; saudara perempuan.[14]
Pengamalan
interaksi sosial di dalam keluarga turut menentukan pula cara-cara tingkah
lakunya terhadap orang lain. Apabila interaksi sosialnya di dalam keluarga
tidak baik atau tidak lancar, maka besar kemungkinan bahwa interaksi sosial
dengan masyarakat juga berlangsung tidak lancar.[15] Oleh
karena itu, proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak
lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam
menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan
oleh keluarga.
2. Kematangan Anak
Bersosialisasi
memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangkan dalam
proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan
intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula
menentukan. Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan
kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan
fungsinya dengan baik.[16]
3. Status Sosial Ekonomi
Keadaan
sosial ekonomi keluarga juga dapat berperan terhadap perkembangan peserta didik.
Misalnya anak-anak yang orang tuanya berpenghasilan cukup, maka anak-anak
tersebut lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kecakapan,
begitu pula sebaliknya.[17] Namun
demikian, status sosial ekonomi tidaklah mutlak dikatakan sebagai faktor yang
mempengaruhi perkembangan sosial peserta didik. Toh, pada kenyataannya ini
bergantung kepada sikap orang tua dan corak interaksi dalam keluarga itu.
Dari
pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif
yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan
sosial anak akan senantiasa menjaga status sosial dan ekonomi keluarganya.
Dalam hal tertentu, maksud menjaga status sosial keluarganya itu mengakibatkan
menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat
berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi terisolasi dari kelompoknya. Akibat
lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.
4. Pendidikan
Pendidikan
merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai
proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial
anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang.
Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh
kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan.
Penanaman
norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang
belajar di kelembagaan pendidikan (sekolah). Kepada peserta didik bukan saja
dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma
kehidupan bangsa (nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan
membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.[18]
5. Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi
Kemampuan
berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan
masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan
berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual
tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang
sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.[19] Sikap
saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam
kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan
intelektual tinggi.
E. Upaya Mengembangkan Sikap Sosial Peserta Didik
Upaya
yang harus dilakukan pendidik dalam mengembangkan sikap sosial peserta didik
dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Melaksanakan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran koperatif akan
mengembangkan sikap kerjasama dan saling tolong menolong sesama peserta didik.
Dalam pembelajaran ini salah satu elemen penting yang mendapat perhatian utama
adalah interpendensi psitif dimana setiap peserta didik saling bergantung satu
sama lain untuk mencapai kesuksesan bersama, tentunya hal ini akan mendorong
peserta didik untuk menghargai kemampuan orang lain dan bersabar dengan sikap
orang lain.[20]
2. Melaksanakan pembelajaran kolaboratif. pembelajaran yang melibatkan siswa dalam suatu kelompok
untuk membangun pengetahuan dan mencapai tujuan pembelajaran bersama
melalui interaksi sosial di bawah bimbingan pendidik baik di dalam maupun di luar
kelas, sehingga terjadi
pembelajaran
yang penuh
makna dan siswa akan saling menghargai kontribusi semua
anggota kelompok.[21] Siswa lebih pintar akan senantiasa membantu temannya
yang belum memahami materi pelajaran yang akan menimbulkan sikap saling
menyayangi diantara peserta didik.
3. Menjalin komunikasi
interpersonal kepada orang tua peserta didik.
Di
samping upaya yang harus dilakukan pendidik dalam mengembangkan sosial peserta
didik di atas, peran orang tua juga diperlukan agar peserta didik lebih terarah
dalam sikap sosialnya. Baumrind dalam John W. Santrock mengatakan bahwa ada
empat bentuk gaya asuh (parenting) orang tua yaitu:[22]
1. Authoratorian parenting adalah gaya asuh yang bersifat membatasi dan menghukum.
Di mana hanya ada sedikit percakapan antara orang tua dan murid; menghasilkan
anak yang tidak kompeten secara sosial. Gaya pengasuhan ini hendaknya dihindari
karena bisa berdampak pada kesulitan perkembangan sosial anak, mereka cenderung
cemas menghadapi situasi sosial, tak bisa membuat inisiatif untuk beraktivitas
dan keahlian komunikasinya buruk.[23]
2. Authoritative parenting, gaya asuh positif yang mendorong anak untuk independen
tapi masih membatasi dan mengontrol tindakan mereka, percakapan ekstensif
seperti tukar pendapat dan orang tua bersikap membimbing atau mendukung sering
dilakukan. Orang tua seperti ini mungkin akan merangkul anaknya dengan lembut
dan berkata “kamu kan tahu seharusnya kamu tidak boleh melakukan itu. mari kita
bahas bagaimana cara kamu bisa menangani situasi secara berbeda lain kali”.
Hasilnya anak akan kompeten secara sosial. Mereka cenderung mandiri, tidak
cepat puas, gaul, dan memperlihatkan harga diri yang tinggi.[24]
3. Neglectful parenting, gaya asuh di mana orang tua tidak peduli, atau orang tua
hanya meluangkan waktu sedikit untuk anak-anaknya, hasilnya anak akan tidak
kompeten secara sosial. Mereka cenderung kurang bisa mengontrol diri, tidak
cukup mandiri, dan tidak termotivasi untuk berprestasi.[25]
4. Indulgent parenting, gaya asuh di mana orang tua sangat terlibat dalam
kehidupan anaknya tapi tidak banyak memberi batasan atau kekangan pada perilaku
mereka. Orang tua ini sering membiarkan anak mencari cara sendiri untuk
mencapai tujuannya sebab orang tua semacam ini percaya bahwa kombinasi dukungan
dan pengasuhan dan sedikit pembatasan akan menciptakan anak yang kreatif dan
percaya diri. Hasilnya adalah si anak biasanya tidak belajar untuk mengontrol
perilakunya sendiri. Orang tua ini tidak memperhitungkan seluruh aspek
perkembangan si anak.[26]
Selain
itu Rasulullah saw. juga memberikan anjuran untuk saling bersikap baik dalam
sosial kemasyarakatan, sebagaimana sabda beliau:
Artinya:
“Perumpaan orang-orang mukmin dalam hal saling rasa cinta dan kasih sayang
mereka adalah seperti satu tubuh yang apabila ada salah satu anggotanya yang
mengeluh sakit, maka anggota-anggota tubuhnya mengeluh kesakitan maka
anggota-anggotanya tubuh lainnya akan ikut merasa sakit.” (HR. Muslim dan
Ahmad)
Maka
dari itu hendaknya segala upaya maksimal harus dilakukan oleh pendidik dan
orang tua dalam membentuk sikap sosial anak, barangkali dengan pembekalan
keterampilan sosial dan kemampuan menyelesaikan masalah sosial, peserta didik
akan dilatih untuk menyelelesaikan masalah-masalah sosialnya, baik dengan
teman, tetangga, teman sebaya maupun terhadap orang tuanya sendiri.
Dari
paparan pembahasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa perkembangan sosial
adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat
pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap
norma-norma kelompok, moral, dan tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan
dan saling berkomunikasi dan kerja sama. Adapun bentuk-bentuk tingkah laku
sosial peserta didik diantaranya:
1. Pembangkangan (negativisme)
2. Agresi (agresion)
3. Berselisih (clashing)
4. Menggoda (teasing)
5. Persaingan (rivaly)
6. Kerjasama (cooperation
7. Tingkah laku berkuasa (acendant behavior)
8.
Mementingkan diri
sendiri (selffishness)
9.
Simpati (sympaty)
Bentuk
tingkah laku di atas dapat diidentifikasi dari tahapan usia peserta didik
sendiri, di samping itu, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan
sosial peserta didik yaitu:
1. Keluarga
2. Kematangan Anak
3. Status Sosial Ekonomi
4. Pendidikan
5. Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi
Peran
orang tua, guru dan masyarakat sangat diperlukan dalam mengembangkan dan
mendukung perkembangan sosial peserta didik. Kesemuanya merupakan instrumen
bagi anak untuk mengembangkan kemampuan sosialnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. Psikologi Sosial. Jakarta:
PT. Rineka Pustaka, 1991.
Djaali. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
Santrock, John W. Educational Psychologi:
Psikologi Pendidikan, terj. Tri Wibowo, Edisi: II. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2011.
Sitorus, Masganti. Perkembangan Peserta
Didik. Medan: Perdana Publishing, 2012.
Swandinata, Erik. “Penerapan
Collaborative Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata
Pelajaran Akidah Akhlak Materi Pokok Akhlak Tercela Kelas VII MTs Darul Aman
Medan”. Skripsi: UIN Sumatera Utara, 2015.
Mithaul Huda, Cooperatif Learning: Metode,
Teknik, Struktur, dan Model Terapan. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011.
Monks, F.J., A.M.P. Knoers dan Siti Rahayu Haditono
, Psikologi perkembangan: pengantar dalam bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 1994. h. 197-202.
[1]Masganti Sitorus, Perkembangan Peserta
Didik (Medan: Perdana Publishing, 2012), h. 105.
[2]Abu Ahmadi, Psikologi Sosial (Jakarta:
PT. Rineka Pustaka, 1991), h. 201.
[4]Masganti Sitorus, Perkembangan, h.
106-107.
[13]John W. Santrock, Educational Psychologi:
Psikologi Pendidikan, terj. Tri Wibowo, Edisi: II (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2011), h. 91.
[14]Abu Ahmadi, Psikologi, h. 255-256.
[16]Masganti Sitorus, Perkembangan, h. 123.
[17]Abu Ahmadi, Psikologi, h. 256.
[18]F.J. Monks, et. al., Psikologi
perkembangan: pengantar dalam bagiannya (Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press, 1994), h. 197-202.
[19]Masganti Sitorus, Perkembangan, h. 123.
[20]Mithaul Huda, Cooperatif Learning: Metode,
Teknik, Struktur, dan Model Terapan (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011), h.
37-38.
[21]Erik Swandinata, “Penerapan
Collaborative Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata
Pelajaran Akidah Akhlak Materi Pokok Akhlak Tercela Kelas VII MTs Darul Aman
Medan” (Skripsi: UIN Sumatera Utara, 2015), h. 19.
[22]John W. Santrock, Educational, h. 91.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar