Lembaga Pendidikan Sains dan Teknologi Pada Masa
Islam Klasik
Oleh: Erik Suwandinata
Gelora
kaum Muslimin untuk mendirikan pendidikan dalam bidang sains dan teknologi
didorong oleh akidah mereka. Islam bukan hanya mengajarkan perihal ibadah
kepada Tuhannya, namun kitab suci yang dimiliki umat Muslim memuat keseimbangan
antara ibadah dan sains. Berlandaskan firman Allah swt. yang berbunyi: “Allah
akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa
derajat.”[1]
Serta Hadis Rasulullah saw.:
عَنْ أَبِيْ دَرْداءِ رضيالله عنه قال: إِنِّي سَمِعْتُ
رسول الله صلَّى الله عليهِ وسلّم يَقُولُ: مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيهِ
عِلمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ,...(رواه أبو داود في
فضل العلم, رقم:3641)
Artinya:
“Dari Abu Darda’ r.anhu. berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw.
bersabda: ‘Barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allah
mempermudah langkahnya menuju surga’,..”(Riwayat Abu Daud pada bab keutamaan
ilmu, no. 3641).”[2]
Tampaknya
hadis di atas memberikan motivasi kepada para Ilmuwan Muslim yang berjuang
mencari ilmu, disinyalir bahwa hadis dan ayat di atas menempatkan kegiatan
mencari ilmu di bagian orang-orang yang berjuang untuk menegakkan firman Allah,
dari segi ganjaran atau pahala yang akan mereka dapatkan. Rasulullah juga
mengibaratkan jalan yang ditempuh pencari ilmu sebagai jalan yang akan
menghantarkannya ke surga.
Alquran
tak membedakan ilmu dunia dan ilmu agama, justru mengamanatkannya untuk
dipelajari. Alquran menghimpun kedua ilmu tersebut di dalam satu firman Allah
swt. yang berbunyi:
óOs9r& ts? ¨br& ©!$# tAtRr& z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB $oYô_t÷zr'sù ¾ÏmÎ/ ;NºtyJrO $¸ÿÎ=tFøC $pkçXºuqø9r& 4 z`ÏBur ÉA$t6Éfø9$# 7yã` ÖÙÎ/ ÖôJãmur ì#Î=tFøC $pkçXºuqø9r& Ü=Î/#{xîur ×qß ÇËÐÈ
Artinya:
“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami
hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di
antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam
warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.”[3]
ÆÏBur Ĩ$¨Z9$# Å_U!#ur¤$!$#ur ÉO»yè÷RF{$#ur ì#Î=tFøèC ¼çmçRºuqø9r& Ï9ºxx. 3 $yJ¯RÎ) Óy´øs ©!$# ô`ÏB ÍnÏ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$# 3 cÎ) ©!$# îÍtã îqàÿxî ÇËÑÈ
Artinya: “Dan demikian (pula) di antara
manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang
bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di
antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Pengampun.”[4]
Apabila
ayat ini dianalisis secara sederhana, maka akan memberikan isyarat untuk
mempelajari ilmu sains. Sebagaimana Allah swt. berfirman: “Tidakkah kamu
melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit.” Ayat ni
mengisyaratkan ilmu astronomi dan keterkaitan antara langit dan bumi. Kemudian
Allah swt. berfirman: “Lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang
beraneka macam jenisnya.” Ayat ini juga mengisyaratkan ilmu tumbuhan (botanical
science) beserta berbagai keajaiban dan proses kimiawinya.
Selanjutnya
Allah swt. berfirman: “Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih
dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” Ini mengisyaratkan adanya ilmu geologi,
lapisan-lapisan bumi, dan garis-garis edarnya. Adakah bahasan ilmu biologi?
Jawabnya adalah firman Allah swt.: “Dan demikian (pula) di antara manusia,
binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam
warnanya (dan jenisnya).” Ayat inilah yang mengisyaratkan ilmu biologi
beserta cabangnya yakni: ilmu antropologi (ilmu tentang manusia, khususnya mengenai asal-usul, aneka
warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya),
etnomologi (ilmu tentang serangga), dan zoologi (ilmu tentang kehidupan
binatang dan pembuatan klasifikasi aneka macam bentuk binatang di dunia).
Pada
akhirnya Allah swt. menutup firmannya dengan kalimat: “Sesungguhnya yang
takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” Dari susunan kalimat fantastis
inilah Allah swt. menganjurkan dan memerintahkan manusia agar mempelajari alam
semesta, lalu mengelompokkan orang-orang yang mengetahui rincian dan
rahasia-rahasianya ke dalam kelompok orang yang takut kepada-Nya, dengan kata
lain orang yang berilmu dan beriman.
Fakta
ilmiah inilah yang membuat ghirah umat Islam khususnya umat Muslim pada
masa klasik dahulu berjaya di dunia. Maka dari itu dalam pembahasan yang
ringkas ini akan diketengahkan sejauh mana pencapaian umat Muslim generasi
pertama itu di bidang sains, eksplorasi dan inovasi.
A.
Sains dan Teknologi Masa Klasik
Sains
merupakan suatu usaha kultural ekstensif yang mengisi pikiran dan menguras
energi banyak intelektual Muslim abad pertengahan. Bahkan sains dipraktekkan
pada skala yang tidak terprediksikan pada sejarah manusia kontemporer. Ribuan
manuskrip ilmiah dari berbagai wilayah belahan dunia tersebar di
perpustakaan-perpustakan modern. Sumber-sumber yang banyak juga diberikan
sebagai dukungan atas aktifikats ilmiah dunia Islam. Sampai munculnya sains
modern, tidak ada peradaban lain mendorong begitu banyak dukungan beragam dan
terus menerus atas aktifitas ilmiah.
Sains
adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari sesuatu observasi,
penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip
sesuatu yang sedang diselidiki, dipelajari dan sebagainya.[5]
Sains Islam adalah sains yang dikembangkan oleh kaum Muslimin sejak abad Islam
kedua, sudah tentu merupakan pencapaian besar dalam peradaban Islam.
Pentingnya
sains Islam dalam peradaban Islam dan juga peranannya dalam pembentukan sains
di Barat adalah keluasaan subjeknya yang memerlukan perlakuan berbeda-beda.
Disini, pertama-tama perlu dipahami bahwa sains Islam bukan hanya sekadar
kelanjutan dari sains Yunani serta leluhur sains Barat melainkan tidak lebih
dari penghubung antara sains kepurbakalaan, yunani dan Alexandria, dengan sains
Barat yang mendominasi peta keilmuwan selama beberapa abad.
Kedua,
walaupun mereka mempengaruhi sains Barat, namun sains Islam secara mandiri
menelaah watak fenomena, kausalitas, hubungan antar berbagai bentuk objek mulai
dari macam-macam mineral hingga tumbuhan dan hewan, makna perubahan dan
perkembangan di alam semesta serta akhir dan tujuan alam ini. Seluruh objek ini
ditelaah oleh sains Islam di bawah naungan ajaran Alquran dan Hadis dan menjadi
sebentuk sains yang dikembangkan bukan sekadar sebagai tahap awal perkembangan
sains Barat walaupun berperan penting dalam beberapa bidang sains dan eksakta
dan kuantitatif seperti matematika dan astronomi.
Telah
lazim diketahui bahwa peradaban adalah hasil dari kejeniusan sebuah bangsa atau
budaya, sehingga peradaban Yunani adalah merupakan hasil dari para jenius
bangsa Yunani, peradaban Cina adalah merupakan hasil jenius dari para jenius
bangsa Cina, peradaban Islam merupakan hasil dari para jenius Islam pula, begitu
juga dengan peradaban Barat yang sekarang sedang jaya merupakan hasil jenius
dari bangsa Barat.
Dikatakan
sebagai masa klasik karena temuan saintis Muslim tersebut memiliki kualitas
prima serta menjadi dasar dan tolak ukur pengetahuan keilmuan sampai hari ini.
Klasik mempunyai arti nilai atau mutu yang diakui dan menjadi tolak ukur kesempurnaan
yang abadi atau tertinggi.[6]
karena pada masa inilah lahirnya ilmuan Muslim sebagai penemu dari berbagai
disiplin imu pengetahuan, dan pada masa inilah lembaga pendidikan sains Islam
marak didirikan.
B.
Tranmisi Ilmu-ilmu Asing ke dalam Peradaban Islam
Tersebarnya
ilmu pengetahuan Yunani dan Helenisme ke penjuru dunia Muslim menurut simpulan
Mehdi Nakosteen dalam Hasan Asari kiranya dapat memberikan gambaran bahwa ada
empat faktor utama yang mendorong terjadinya transmisi ilmu-ilmu asing ke dalam
peradaban Islam klasik, sebagaimana berikut:
1.
Penganiayaan dan pengusiran yang dilakukan
oleh orang-orang Kristen Ortodoks yang menerapkan pemisahan antara beberapa institusi
dengan Gereja Induk (Mother Church) karena alasan-alasan perbedaan
doktrinal. Pemisahan tersebut antara lain pada gereja Timur, sekte-sekte
Nestorian dan Monophysite. Mereka dipaksa untuk berpindah kepada kebudayaan
yang lebih bersahabat, dimana mereka memperoleh perlindungan dan kesempatan
untuk mempertahankan keberadaannya. Setelah bergerak dari pusat-pusat Nicene
Ortodoks, yakni dari Nestorian kepada kekaisaran Persia, Monopyhsite ke dunia
Persia dan Arab. Sekte-sekte yang bermusuhan ini membawa wariasan ilmu
pengetahuan Greco-Helenistik terutama ilmu kedokteran, matematika, astronomi,
teknologi, filsafat dan membantu melestarikannya dari tangan orang asing.
Warisan ini kemudian kembali kepada cendikiawan melalui jalur orang-orang Muslim.
Ketika
orang-orang Muslim Arab menyerbu kekaisaran Romawi dan Persia, sekte-sekte
minoritas ini menyambut orang-orang Arab yang menjadi penakluk tersebut sebagai
pembebas mereka dan mengikat hubungan yang bersahabat dengan mereka sejak awal.
Para penyerbu Muslim ini bersifat toleran terhadap adat istiadat, agama dan
kebudayaan masyarakat setempat yang mereka taklukkan. Mereka membiarkan
tradisi-tradisi ilmu pengetahuan untuk tidak diganggu dan dilindungi dari
gangguan internal.
Minat
terhadap neo-Platonisme dan Aristotelisme, meskipun ditafsirkan dengan
istilah-istilah Kristen, dan disesuaikan dengan doktrin-doktrin Kristen,
bagaimanapun menjadikan orang-orang Nestorian dan Jacobites berada pada
tingkatan pendidikan umum yang lebih tinggi. Khususnya bagi orang-orang
Nestorian, minat terhadap Helenistik ini dapat berlangsung berkat perlindungan
yang diberikan Sassanian Persia dan kemudian oleh Islam sampai abad ke-11 dan
orang-orang Turki yang memegang kekuasaan. Sesungguhnya melalui orang-orang
Nestorianlah unsur-unsur pemikiran Yunani yang penting tersebut seperti
Aristotelian, dilestarikan melalui penerjemahan dalam bahasa Yunani dan Syiria
untuk menjadi tulang punggung kehidupan intelektual Persia dan Islam.
2. Penaklukan yang dilakukan Aleksander Agung sampai ke Mesir, Persia, dan
India. Penaklukan ini secara otomatis disertai oleh penyebaran ilmu pengetahuan
Yunani ke kawasan-kawasan tersebut. kemudian ilmu pengetahuan ini diperkaya
dengan tradisi lokal sebelum akhirnya diserap ke dalam peradaban Islam.
3. Faktor ketiga, akademi Jundi Syapur yang memadukan tradisi ilmiah berbagai
budaya seperti: India, Syria, Grecian, Helenistik, Hebrew dan Persia sendiri.
Di Akademi inilah digalakkan penerjemahan ilmu pengetahuan dan filsafat klasik
Yunani ke dalam bahasa Pahlavi dan Bahasa Syria yang berlangsung secara
intensif hingga awal abad-abad Islam. pusat-pusat pendidikan dan ilmu
pengetahuan kuno menyebar kepada dunia Muslim dan Barat, sampai tugas ini
diambil alih oleh Baghdad di Islam Timur dan Sisilia serta Cordoba di Islam
Barat.
4. Karya Ilmiah bangsa Yahudi merupakan faktor signifikan. Para penerjemah
Hebrew merupakan alat yang hebat dalam alih pengetahuan ini karena keterampilan
berbahasa mereka, pada masa awal Islam ketika mereka menerjemahkan karya-karya
Yunani kedalam bahasa Hebrew dan Arab. Demikian pula pada abad ketigabelas,
ketika mereka menerjemahkan karya-karya tersebut dan karya-karya lainnya dari
bahasa Arab ke bahasa Hebrew dan Latin, atau dari bahasa Hebrew ke dalam bahasa
Latin.[7]
Dengan
keempat faktor diatas sebagai pendorong utama, jelas terlihat bahwa inti
dari proses transmisi tersebut adalah penerjemahan yang melibatkan berbagai bahasa.[8] Berdasarkan keterlibatan bahasa, materi ilmiah yang ditransmisikan ini dapat dikelompokkan menjadi:
dari proses transmisi tersebut adalah penerjemahan yang melibatkan berbagai bahasa.[8] Berdasarkan keterlibatan bahasa, materi ilmiah yang ditransmisikan ini dapat dikelompokkan menjadi:
1. Bahan-bahan yang diterjemahkan langsung dari bahasa latin ke dalam bahasa
Arab.
2. Bahan-bahan yang diterjemahkan kedalam bahasa Pahlavi, berbaur dengan
pemikiran Zoroaster-Hindu (Budha), lalu ditransfer lewat terjemahan bahasa
Arab.
3. Bahan-bahan yang diterjemahkan dari Hindu (Sansekerta) kedalam bahasa
Pahlavi, lalu ke dalam bahasa-bahasa Syiria, Ibrani, dan Arab.
4. Bahan-bahan yang ditulis pada masa Islam oleh ilmuan-ilmuan Muslim, tetapi
sebenarnya hanya merupakan jiplakan dari sumber-sumber non-Muslim, dengan garis
transmisi yang tidak jelas.
5. Bahan-bahan yang tidak lebih dari sekedar komentar-komentar atau
ringkasan-ringkasan dari karya-karya Yunani atau Persia.
6. Bahan-bahan yang merupakan pengembangan dari kegiatan ilmiah pra-Islam,
tetapi tidak akan berkembang dalam sejarah bila tidak didasarkan atas kegiatan
ilmiah masa Helenisme, Syiria, Zoroaster, dan Hindu pra-Islam.
7.
Bahan-bahan yang muncul dari jenius individual
dan dorongan kebangsaan maupun kedaerahan, bahan-bahan] ini akan berkembang,
lepas dari [kegiatan] pendidikan pra-Islam, meskipun bentuk yang akan diambil
oleh penemuan-penemuan orisinil ini mungkin saja berbeda kalau saja mereka
berkembang dalam satu konteks atau kerangka kerja yang non-Islam.[9]
Gerakan penerjemah besar-besaran terhadap tradisi
peradaban-peradaban terdahulu di atas mulai digalakkan pada masa Abbasiyyah dan
dana untuk membangunnya juga sangat besar digelontorkan. Gerakan ini terdiri
dari dua fase. Fase pertama, dimulai pada awal berdirinya Dinasti Abbasiyah
hingga masa pemerintahan al-Ma’mum (132/750 – 198/814). Pada fase ini, sejumlah
besar karya Yunani klasik telah diterjemahkan. Kebanyakan dari para
penerjemahnya adalah orang Kristen, Yahudi dan mereka yang baru memeluk agama Islam.
Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Salih katakan bahwa contoh literatur-literatur
yang diterjemahkan antara lain: buku medis karya Hippocrates (ahli medis
Yunani), Analitica Priora karya Aristoteles, buku anatomi karya Galenus,
Alamagest karya Ptolomeus, Floaters karya Archimedes dan
buku-buku lainnya.[10]
Fase
kedua adalah pada era pemerintahan al-Ma’mun dan generasi sesudahnya. Pada fase
ini, pekerjaan penerjemahan dipusatkan di akademi yang baru didirikan di
Baghdad yakni Baitul Hikmah. Khalifah al-Mansur yang dikenal sangat menyukai
filsafat, ilmu hukum, dan astronomi mendirikan kota Baghdad pada tahun 148/765.
Beliau dikabarkan pernah memerintahkan penerjemahan banyak naskah filsafat dan
sains Yunani, dan memberi upah yang besar kepada para penerjemahnya.
Kemajuan
yang sangat besar juga dicapai pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid. Banyak
karya astronomi diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa Harun ar-Rasyid.
Sedangkan pada masa kekhalifahan berikutnya yaitu pada masa al-Ma’mun, prestasi
terbesar adalah pembangunan Baitul Hikmah yang terdiri dari perpustakaan,
observatorium, dan departemen penerjemahan.
Baitul Hikmahlah
merupakan pusat penerjemahan buku-buku karya filusuf Yunani ke dalam bahasa
Arab yang dilakukan secara besar-besaran. Abad ke-4/10 adalah abad yang paling
subur dalam usaha penerjemahan karya intelektual Yunani ke dalam bahasa Arab.
Sebagian besar terjemahan tersebut dilakukan dari bahasa Syria, tetapi banyak
juga yang diterjemahkan langsung dari bahasa Yunani oleh orang yang telah
mempelajari bahasa tersebut. Sering pula terjadi seorang penerjemahan yang sama
dengan membuat terjemahan ke dalam bahasa Syria dan bahasa Arab sekaligus dari
teks Yunani.
Kaum Muslimin
mendalami seluruh ilmu generasi terdahulu, lalu mulai mengembangkannya dan
mengkajinya. Sigrid berkata: “Orang-orang Sahara ini membawa panji
kebangkitan ilmiah di dunia dan bergerak maju secepat kilat, mereka membawa
panji ini tanpa ada yang menandinginya, selama lebih dari 8 abad. Bangsa Arab
tidak menelan mentah-mentah tradisi yang mereka terima, tetapi mengolahnya dan
menjadikannya sebagai ciptaan baru.”[11]
C.
Perpustakaan
Perpustakaan
merupakan salah satu lembaga yang memiliki peranan penting dalam menyimpan
karya ilmiah dan penelitian. Perhatian Islam terhadap pendidikan dan kemuliaan
buku sebagai media pembelajaran berada di belakang tumbuhnya perpustakaan dalam
peradaban Islam. Dalam Islam, buku tak hanya diperlakukan semata-mata sebagai
media namun mempunyai nilai moral yang melandasi perhatian besar yang diberikan
kepadanya. Perhatian ini mengharuskan penyebarluasan dan pemeliharaan buku
sebagai bagian dari kegiatan mendukung ilmu pengetahuan dan kegiatan pendidikan.[12]
Pada
saat buku-buku masih langka dan mahal harganya, karena masih ditulis pakai
tangan sehingga terbatas jumlahnya, perpustakaan merupakan jalan keluar untuk
mendapatkan buku. Belum adanya produksi kertas juga merupakan faktor lain yang
menyebabkan belum dapat digunakannya buku dalam jumlah besar. Dengan keadaan
inilah, maka keberadaan perpustakaan sangat membantu penyebaran ilmu
pengetahuan.[13]
Pada
masa Islam klasik terdapat tiga jenis perpustakaan yakni, perpustakaan umum,
semi-umum dan perpustakan pribadi, sebagaimana berikut:
1. Perpustakaan Umum
Perpustakaan jenis ini biasanya didirikan di masjid-masjid,
madrasah atau instansi lainnya. Tujuannya adalah agar setiap orang yang datang
dan berkunjung dapat belajar dan membaca buku-buku yang mereka butuhkan. Salah
satu perpustakaan umum adalah Baitul Hikmah. perpustakaan yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid dan
berkembang pesat pada masa Al-Ma’mun, merupakan salah satu contoh dari
perpustakaan dunia Islam yang lengkap, yang berisi ilmu agama dan bahasa arab.
Di dalamnya terdapat bermacam-macam buku ilmu pengetahuan yang berkembang pada
masa itu serta berbagai buku terjemahan dari bahasa Yunani, Persia, India,
Qibti dan Aramy.[14]
Perpustakaan Al-Haidariyah di
An-Najaf. Perpustakaan ini masih ada sampai sekarang, nama perpustakaan diambil
dari kata “Haidar” yakni panggilan kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Perpustakaan
Darul Hikmah di Kairo, perpustakaan ini didirikan oleh Khalifah Hakim bin
Amrillah al-Fathimi. Perpustakaan ini dibuka pada tahun 966 M dengan tujuan
untuk menyaingi keagungan Baitul Hikmah.
Perpustakaan Madrasah, perpustakaan
madrasah yang terkenal adalah perpustakaan madrasah Nizamiyah di Baghdad. Pada
saat itu keberadaaan perpustakaan sangat erat karena perpustakaan ini didukung
oleh penguasa dan cendikiawan beserta masyarakat umum.
Penyair Ibnu Hamdan membuka
perpustakaan kepada semua mahasiswa dan memberikan secara gratis kertas dan
alat-alat tulis kepada pelajar kurang mampu. Demikian juga perpustakaan Adhud
ad-Dawlah di Basrah membuka perpustakaan untuk masyarakat umum, ia memberikan
uang dan beasiswa kepada orang-orang dan mahasiswa yang membaca disana.[15]
2.
Perpustakaan
Semi-Umum
Perpustakaan
ini didirikan oleh para Khalifah dan raja yang dikhususkan kepada orang-orang
tertentu saja. Biasanya hanya untuk kalangan ilmuan dan bangsawan.[16]
Salah satu yang termasuk ke dalam perpustakaan ini adalah: perpustakaan
perpustakaan An-Nashiruddinillah dan perpustakaan Al-Mu’tasimbillah, yang didirikan
oleh khalifah an-Nashir dan khalifah terakhir Abasiyyah.
3.
Perpustakaan
Pribadi
Perpustakaan pribadi adalah
perpustakan yang dikelola oleh pihak swata atau pribadi dengan tujuan melayani
keperluan bahan pustaka bagi kelompok, keluarga, individu tertentu.[17]
Perpustakaan ini didirikan oleh para sarjana maupun orang-orang yang
mengumpulkan buku untuk kepentingan mereka sendiri. Salah satu perpustakaan
jenis ini adalah:
Perpustakaan Hunayn bin Ibnu Ishaq, Hunayn
bin Ibnu Ishaq adalah seorang dokter dan filosof, ia juga penerjemah terkemuka
pada masa Al-Ma’mun, intelektualnya dan penguasaan terhadap berbagai bahasa
seperi: Yunani, Persia, dan Hebrew menjadikannya sangat terkenal.[18]
Perpustakaan
Al-Mubassyir Ibnu Fatik, al-Mubassyir adalah seorang pangeran Mesir terkemuka
dan dikenal sebagai ulama yang ahli dalam ilmu falak, matematika, filsafat dan
ilmu kedokteran. Perpustakaan Jamaluddin al-Qifthi. Kecintaannya terhadap buku
membuat ia rajin mengumpulkan buku yang sangat banyak, ia juga mewasiatkan
perpustakaannya bernilai 50.000 dinar kepada an-Nashir.[19]
Sebagai
pusat informasi dan pembelajaran, maka pada masa itu perpustakaan-perpustakaan Islam
mempunyai banyak fungsi, sebagaimana berikut:
1. Pusat pembelajaran, perpustakaan yang terkenal (the House of Science) dari
khalifah Al-Hakim di kairo memiliki koleksi buku-buku dengan perkiraan
1.600.000 jilid yang merupakan perpustakaan umum yang digunakan sebagai pusat
ilmu pengetahuan.[20]
2. Pusat penelitian, Hal ini dapat dilihat ketika utusan khalifah-khalifah
dan raja-raja melakukan penelitian dengan membahas suatu bidang ilmu tertentu
di perpustakaan-perpustakaan yang terkenal. Karena di perpustakaan tersebut
memiliki koleksi yang cukup besar dan lengkap seperti Baitul Hikmah dan Darul
Hikmah. Pada masa itu juga banyak para ilmuwan yang
melakukan perjalanan dari suatu perpustakaan ke perpustakaan lain untuk merumuskan
dan melakukan penemuan-penemuan terbaru.[21]
3. Pusat penerjemahan. Perkembangan ilmu pengetahuan yang berpusat di Baghdad
dimulai dengan menggalakkan aktivitas penerjemahan buku-buku yang tertulis
dalam bahasa Yunani, Persia dan India ke dalam Bahasa Arab. Dalam Periode penerjemahan itu,
para penerjemah
dihimpun dalam satu lembaga yaitu Perpustakaan Darul Hikmah. Sehingga dapat
dikatakan bahwa pada masa itu perpustakaan sebagai jembatan ilmu dan kebudayaan,
dan dalam konteks ini perpustakaan menjadi sponsor atas semua kegiatan.[22]
4. Sebagai pusat penyalinan dan penerbitan. Salah satu hal yang dapat dibanggakan oleh
kaum Muslimin
pada masa itu dan dirasakan amat penting adalah bagian percetakan dan penerbitan
dalam suatu perpustakaan. Hal ini disebabkan pada saat itu alat pencetak dan penerbit
buku belumlah ditemukan. Sehingga peradaban Islamlah yang telah memberikan kontribusi
tersebut untuk dunia.[23]
Kemunduran
dan kehancuran perpustakaan Islam dilatar belakangi oleh berbagai sebab. Perang
barangkali menjadi salah satu sebab utama, serbuan tentara mongol, perang salib
dan pengusiran Muslim dari Spanyol memakan korban sejumlah perpustakaan di
kota-kota besar seperti Baghdad, Tripoli, Aleppo, Iskandaria, Jerusaleem,
Cordoba, Sevilla, dan Granada. Pergantian pemerintahan dan ketidakstabilan
politik dan ekonomi juga berpengaruh, sebab kebanyakan perpustakaan dibiayai
oleh pemerintah dan bangsawan, Bencana alam seperti banjir dan kebakaran juga
merupakan penyebab lainnya.[24]
D.
Rumah Sakit
Rumah
sakit juga merupakan lembaga penting untuk dipelajari, karena sebagian besar
pembelajaran ilmu kedokteran klinik medis dilakukan di rumah sakit. Sementara
aspek teori sebuah ilmu kedokteran berlangsung di masjid maupun madrasah, aspek
praktis biasanya diajarkan di rumah-rumah sakit, sangat banyak perpustakaan dan
sekolah yang didesain khusus untuk tujuan ini.[25]
Rumah
sakit tertua Islam dibangun pada tahun 88/707 oleh Khalifah Umayyah Walid bin
‘Abdul Malik di Damaskus. Para khalifah Abasiyyah mengorganisasikan pendidikan
kedokteran agar para mahasiswa setelah melalui pendidikan teoritis dan praktis
menulis sebuah penemuan (karya) – semacam tesis masa kini – dan dengan
diterimanya karya tesebut dari guru (profesor) mereka, kemudian mereka pun
diberikan izin untuk membuka praktek.[26]
Sangat
banyak rumah sakit pada masa itu yang dibangun oleh pemerintah atau secara
pribadi sepanjang dunia Islam, sebagaimana Rumah sakit Mansuri di Kairo yang
masih berdiri sampai sekarang, Rumah sakit Nuri di Damaskus 60/11 wilayah,
salah satu rumah sakit paling megah yang pernah dibangun oleh dunia Islam.[27]
Meskipun lembaga-lembaga semacam masjid atau madrasah mengajarkan ilmu kedokteran,
tetapi di lembaga ini (masjid dan madrasah) pengajaran terbatas hanya teori saja,
sebaliknya para mahasiswa dapat belajar teori dan praktek sekaligus di rumah
sakit.[28]
Rumah
sakit Islam selalu dipimpin oleh dokter-dokter yang ahli diantaranya adalah Abu
Bakar Muhammad bin Zakaria Al-Razi (Rhazes), beliau memimpin rumah sakit dan
bekerja di dalamnya serta mengajarkan ilmu kedokteran kepada muridnya.[29]
Adapun metode yang dilakukan beliau adalah metode eksperimen yang tidak pernah
dipraktekkan dan diperhatikan pada ilmuan terdahulu (Yunani). Para ilmuan
terdahulu hanya menggunakan metode penelitian ilmiah sederhana.
Ketika
hendak berencana membangun rumah sakit baru di Baghdad, Sultan Adhuh ad-Dawlah
memerintahkan kepada al-Razi (Rhazes) untuk memilih lokasi yang baik untuk
didirikannya rumah sakit. Kemudian al-Razi pun memanggil para muridnya untuk
dilakukan sterilisasi tempat dengan menaruh potongan daging yang diletakkan di
berbagai tempat berbeda di seluruh penjuru Baghdad. Selang beberapa waktu
kemudian, al-Razi mengecek tempat-tempat tersebut, lalu memilih tanah tempat
potongan daging yang paling lama membusuk dan di atas tanah itulah lokasi rumah
sakit dibangun.[30]
Dari eksperimen ini, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa al-Razi memilih tanah
yang steril dari penyakit dan bakteri.
Melalui
metode eksperimen, Hasan ibn al-Haytam juga berhasil mengungkap kekeliruan
Ptomeus dan Euclid. Menurut keduanya, mata mengirimkan cahaya yang dengannya
kita bisa melihat. Jadi cahaya dari mata menyinari objek yang kita lihat.
Tetapi teori yang benar adalah sebaliknya, objek-objek terlihat adalah yang
mengirim cahaya ke mata, lalu cahaya tersebut diterima oleh lensa mata.
Artinya, bisanya pengelihatan karena ada cahaya yang masuk ke mata.[31]
Dengan fungsi gandanya sebagai pusat
pendidikan dan sekaligus pelayanan masyarakat, maka pembangunan rumah sakit
pada Abad pertengahan Islam biasanya dilandasi oleh dua motif: motif keagamaan
dan kemanusiaan. Persembahan ilmiah kaum Muslim kepada umat manusia didorong
keridhaan Tuhan mereka dan kecintaan mereka terhadap kemanusiaan.[32]
Disamping itu, sebagian besar rumah sakit dalam sejarah peradaban Islam
didukung oleh dan dana wakaf yang menjamin kelancaran operasi dan pemeliharaan
bangunan. Hal ini setelah abad ke-51/11 dan seterusnya.[33]
Semangat
pelayanan sosial dan dukungan dana yang baik menjamin perkembangan rumah sakit
pada skala yang besar dan tingkat pelayanan yang baik. Dikatakan bahwa Rumah
sakit Mansuri di Kairo, misalnya melayani sekitar 4.000 pasien setiap harinya.[34]
Cordoba memiliki rumah sakit yang airnya berjalan baik, memiliki kamar-kamar
mandi, mempunyai kamar khusus pemisah antara penyakit menular dan penyakit
biasa yang ditangani oleh dokter spesialis, dan kamar khusus bagi wanita atau
pria serta selalu siaga (stand by) 24 jam perhari terbuka bagi siapa
saja yang sakit.[35]
Di samping penyebab-penyebab alamiah, kesulitan ekonomi dan ketidakstabilan
politik penyebab kemunduran sistem rumah sakit Islam.[36]
E.
Observatorium
Jika
pada rumah sakit sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu kedokteran
medis, maka observatorium juga memiliki peranan penting dalam pengembangan
sains dan teknologi, yaitu astronomi. Latar belakang munculnya lembaga ini
berkaitan erat dengan kebutuhan umat Islam akan astronomi yang membantu
kehidupan mereka dalam berbagai bidang, mulai dari menentukan arah dalam
perjalanan sampai pada upaya memperkirakan musim dan cuaca.[37]
Ehsan
Masood katakan bahwa: “Kurang lebih ada tiga pengajaran Islam dalam
penerapan ilmu astronomi. Pertama, guna mengetahui 5 waktu yang sebagai
penunjuk umat Muslim untuk berdoa [salat] setiap hari – terbitnya fajar
(Subuh), Dhuha, Zuhur, Ashar, dan Magrib.”[38]
Disebabkan dahulu masyarakat pada umumnya menggunakan matahari sebagai
tanda waktu salat. Maka dengan adanya kegiatan observatotium mereka dengan
mudah mengetahui waktu-waktu awal salat.
“Kedua,
untuk mengetahui arah kiblat di Mekkah.”[39]
Banyak para astronom dan ilmuan matematika bekerja keras untuk mengetahui akurasi
arah kiblat dengan benar. Hal ini didasari karena masalah bumi yang mereka
tempati jauh dari kota Mekkah, maka dari itu kegiatan observatorium
mengharuskan mereka untuk mengetahuinya. “Ketiga, menentukan kalender Islam
sebanyak 12 bulan dalam setahun dan hari-hari besar keagamaan.”[40]
Perkembangan
observatorium juga berkaitan dengan kenyataan bahwa astronomi tidak diajarkan
pada lembaga-lembaga lain. Sifatnya yang sangat praktis dan membutuhkan
alat-alat khusus tidak memungkinkan pengajaran dilakukan di masjid atau
madrasah. Asosiasi observatorium dengan disiplin yang sangat terbatas membuat
lembaga ini tidak berkembang dalam jumlah besar bila dibandingkan dengan rumah
sakit, masjid, perpustakaan dan madrasah.[41]
Pembangunan
observatorium menurut Sayyed Hossein Nasr sebagai juga sebagai bentuk lembaga
sains dan sebagai pusat pembelajaran astronomi luar angkasa, observatorium
merupakan kontribusi asli peradaban Islam.[42] Adapun
observatorium yang jaya pada saat itu adalah:
1. Observatorium Shammasiyah
Observatorium
ini merupakan observatorium pertama dalam Islam. Pembangunnya adalah khalifah
Al-Ma’mun di Baghdad sekitar 213/828, dan dikepalai oleh dua astronomi terkenal
yakni Fadl bin al-Naubakht dan Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Kemudian
diikuti oleh beberapa observatorium-observatorium selanjutnya, seperti
observatorium Hamadan yang dibangun oleh raja persia ‘Ala’ al-Daulah kepada
Ibnu Rusyd (Avicenna) sekitar 414/1023. Kurang lebih setahun dari pemerintahan
Saljuk, Malikshah membangun observatorium royal untuk digunakan sepanjang masa
dan menjadi pusat penelitian para astronomer, termasuk di dalamnya Umar Khayyam
yang mencetuskan kalender Jalali.[43]
2.
Observatorium Maragah
Perkembangan
baru dalam sejarah observatorium dimulai pada 657/1261, observatorium Maragah
dibangun oleh Hulagu Khan cucu dari Jengis Khan dan pendukung dari ilmuan Muslim
pada saat itu. kurang lebih ada 400.000 buku yang terdapat dalam perpustakaan
observatorium dan juga dilengkapi dengan peralatan-peralatannya.[44]
Adapun kepala observatorium Maragah ini adalah Nasir al-Din al-Tusi dan memiliki
pekerja seperti: Qutb al-Syirazi (penemu teori pelangi), Muhyi al-Din
al-Maghribi, Najm al-Din Dabiran al-Qazwini dan Athir al-Din al-Abhari.
Kebanyakan dari mereka terkenal sebagai ahli filsafat dan astronom. Disamping
itu, observatorium ini memiliki staf yang berasal dari Cina yakni: Fao Mun Ji.[45]
3. Observatorium Ulugh Beg
Gelombang
baru selanjutnya terjadi pada abad ke-9/15 ketika Ulugh Beg cucu dari Tamerlane
(Timur Leng), membangun sebuah observatorium di Samarkand. Di samping
Ulugh Beg sebagai astronom kompeten, ia juga meminta kepada ilmuan terbaik
seperti: Qadizadah, ‘Ali Qushji dan terkhusus Ghiyath al-Din al-Kashani yang
merupakan master dari teori-teori angka dan teknik-teknik penghitungan untuk
membantu dan mendukung dalam pengoperasian observatorium ini.[46]
Dari hasil observasi itu mereka menyiapkan
tabel-tabel astronomi matahari, bulan dan planet-planet lain yang telah diamati
dengan tingkat kecermatan tinggi, yang akurasinya tidak terlalu jauh berbeda
dengan hasil pengamatan astronom modern yang menggunakan berbagai teleskop yang
canggih. Di observatorium inilah astronomi berkembang seiring dengan perkembangan
ilmu matematika.
Beberapa
observatorium di atas merupakan hasil dari peradaban Islam masa klasik, masih
banyak ditemukan observatorium berkembang pesat pada saat itu seperti:
observatorium Jaipur yang dibangun oleh raja Jai Sing di Delhi. Ada juga
Observatorium Istanbul di Turki yang didirikan oleh Ottoman Sultan Murad II
dinakhodai oleh Taqi al-Din.[47]
Berdasarkan penelitian Sayili dalam Hasan Asari bahwa pengajaran astronomi di
observatorium-observatorium tidak terorganisir dengan baik. Dukungan beasiswa
terhadap penuntut ilmu bukan merupakan praktik yang umum. Sejak Abad ke-9/15
dikatakan bahwa kondisi observatorium berada dalam proses kemunduran sejalan
dengan menurunnya vitalitas peradaban Islam secara umum.[48]
F.
Pencapaian Sains dan Teknologi
Pencapaian
sains dan teknologi pada masa Islam klasik tak lepas dari peran penting ketiga
lembaga yang telah disebutkan di atas. Ketiga lembaga tersebut “Perpustakaan,
Rumah sakit dan Observatorium” merupakan instansi utama dalam mengembangkan ilmu-ilmu
yang dikuasai oleh ilmuan Muslim. Seperti halnya perpustakaan, di lembaga
inilah awal mula ilmu-ilmu sains baru itu dilahirkan. Di rumah sakit, muncul
beberapa ilmu-ilmu kedokteran yang sangat besar manfaatnya pada masa sekarang,
dan observatorium juga merupakan awal teknologi dilahirkan. Adapun pencapaian
tersebar dan menjadi warisan umat Islam sepanjang sejarah adalah:
1. Ilmu Kedokteran
Penerjemah dan dokter
pada masa awal paling
terkenal adalah Yuhana Ibn
Masawayh (w. 857) kepala
Bayt Al- Hikmah, dan Hunayn Ibn Ishaq
(808-873). Bersama dengan
para siswanya, Hunayn
menterjemahkan hampir semua karya medis berbahasa Yunani ke dalam bahasa Syria maupun
Arab.
Selama abad keemasan
ilmu pengetahuan
kedokteran lebih didominasi orang-orang Muslim Persia.
Kemajuan yang telah dicapai mencakup pada hal-hal
kesehatan
diantaranya
adalah:
a. Farmasi atau Farmakologi, prestasi Islam terhadap penelitian medis dan
percobaan menghasilkan ilmu farmakologi yang
mana digambarkan oleh maraknya kegiatan penelitian mengenai komposisi obat,
pemberian dosis, penggunaan obat dan efek pengobatan serta pembuatan
bahan-bahan campuran obat. Mereka juga telah diketahui menjual beberapa bahan
obat-obatan seperti: madu, kayu adas, kayu manis, cengkeh, kapur barus, sulpur
dan air raksa. [49]
Tokoh-tokoh Islam juga telah banyak mengeluarkan
farmakopeia
yang menceritakan
tentang
cara-cara pembuatan dan khasiat-khasiatnya. Bentuk dan penyajian obat dapat
dibuat secara merebus, penyulingan, membasuh,
larutan, salep,
sublimasi, dan lainnya. Bahkan
ada juga obat yang diberikan secara supositori (melalui anus), dan melalui pundi kencing. Uraian obat-obatan dan
farmakologi telah dimuat dalam
kitab-kitab yang
terkenal seperti al-Hawi (oleh
ar-Razi, 830 jenis), al-
Mughani
fil
Adwiyat al-Mufradah (oleh
al-Baitar, 1400 jenis), al-Qanun
(oleh
Ibn Sina, 760 jenis) dan
oleh al-Kindi,
al-Zahrawi maupun al-Ghafiqi yang terkenal sebagai pioner dalam bidang
tumbuh-tumbuhan medis, farmasi dan bahan pengobatan.[50]
b. Anatomi dan Fisiologi, prestasi umat
Muslim terhadap bidang anatomi dapat dilihat dari bentuk struktur manusia, sirkulasi darah (diantara jantung dan
paru-paru) yang mereka pelajari, Abdullatif al-Baghdadi
(1181-1231) banyak mempelajari bentuk
tulang-tulang dengan menggunakan ribuan kumpulan tulang manusia yang dijumpai di suatu daerah. Beliau mempunyai
perbedaan pendapat dengan
Galen sebelumnya, tentang tulang
sakrum.
Abdullatif memperbaiki
kesalahan
Galen dan mengatakan bahwa tulang sakrum
terbentuk dari gabungan
beberapa tulang.[51]
c. Anestetik atau Pembedahan: pembiusan pada pasien sebelum pembedahan dapat
dilakukan dengan menggunakan campuran zoari, candu, hyocyamus dan mandrake,
obat-obatan itu juga dapat digunakan sebagai anti bodi untuk mengobati alergi
dan asma.[52]
d. Opthalmologi. Sumbangan Islam sangat besar pada bidang ini, istilah retina,
katarak dan lain-lain telah dideskripsikan pada abad ke-13. Teori baru tentang
pengelihatan yaitu pembiasan terjadi di lensa mata dan difokuskan di retina,
teori ini meruntuhkan teori yang dibuat oleh Yunani sebagaimana yang ditulis
Aristoteles yang mengatakan bahwa cahaya dihantarkan dari mata untuk melihat
objek yang dipandang.
Beberapa
jenis penyakit mata seperti: Katarak, trakauma, dan glukoma telah diuraikan
dalam ophaltomologi Islam. Di samping itu, pembedahan katarak dengan
menggunakan suntikan lensa yang legap (opaque) melalui suatu tabung juga
bisa dilakukan. Salah satu yang ahli dalam bidang ini adalah: Ibn al-Haytam,
Hunayn, Ali Abbas dan Abul at-Tabri.[53]
e. Operasi, sebanyak lebih kurang 200 jenis alat-alat
operasi telah dibuat oleh dokter Islam sebagaimana tertera di dalam kitab
al-Tasrif oleh al-Zahrawi, termasuk: gunting, pisau silet, pena, pisau, dan
gergaji.[54] Pembedahan dijalankan dengan menggunakan teknik steril (tanpa kuman), kuman
dimusnahkan
dengan alkohol atau pembakar. Torehan (incision) dan pembuang
(excision)
dilakukan
berpedoman pada pengetahuan anatomi,
pembuluh darah yang
terpotong diberhentikan
pendarahannya dengan ligasi (ikatan benang), atau kauteri (dibakar dengan kain panas), jaringan
tubuh
dibuka dan
akhirnya ditutup, dilapis
demi
lapis dengan
jahitan benang dan menggunakan teknik steril seperti yang dilakukan
sekarang. Sebagai pelengkap anatomi
manusia, ilmuwan Muslim
juga mengkaji binatang
karena alasan
praktis dan medis, dari sebuah
manuskrip Mesir abad
ke lima belas
menunjukkan kerangka seekor kuda yang
diobservasi.[55]
2. Ilmu Matematika
Ilmuan
Muslim dalam bidang matematika telah menemukan struktur angka yang sistematis
dan digunakan sampai sekarang. Dibandingkan dengan sistem angka pada masa
sebelum Islam sistem angkanya tidak bersistem. Struktur angka tersebut lebih
praktis dari struktur angka yang diciptakan oleh orang-orang Romawi. Pada
struktur ini setiap digit (angka) mempunyai arti satuan, puluhan, ratusan,
ribuan dan seterusnya. Misalnya jika hendak menuliskan 1825 maka tulisannya
adalah: MDCCCXXV (M=1000, D=500, C+C+C=100+100+100=300, X+X= 10+10=20, V=5),
atau pada penulisan 383 ditulis CCCLXXXIII (C+C+C=100+100+100=300, L=50,
X+X+X=10+10+10=30, I+I+I=1+1+1=3).[56]
Para
ilmuan sejarah dan matematika membagi 3 jenis ilmu yang termasuk ke dalam ilmu
matematika yakni: (1) Ilmu Aritmatika, (2) Ilmu Geometri, (3) Ilmu Astronomi,
dan (4) Ilmu Musik. Musik adalah pengetahuan tentang perpaduan antar melodi,
dengan tujuan mengelaborasikan prinsip-prinsip melodi; Astronomi berkaitan
dengan ilmu perbintangan, berdasarkan teori-teori yang telah dibawa oleh
Almagest sebagaimana Ilmu Geometri yang juga dipelopori oleh Euclid pada abad
ke-5; dan Aritmatik merupakan ilmu yang membahas tentang properti angka-angka
yang telah dimulai sejak Pythagoras dan Nichomachus.[57]
Dalam
bidang Aritmatika, Umat Islam menemukan pendapat-pendapat baru sebelumnya yang
tidak dikenal orang, diantaranya adalah segi empat ajaib dan angka ramah tamah,
dengan menghilangkan angka 9. Ketika angka 9 hilang maka didapatilah angka
rangkap atau palsu di Eropa. Cara ini diketahui orang pada abad ke-18 dengan
nama Regula Duarum Falsorum.
Bidang
geometri, penguasaan ilmu ini membutuhkan tingkat intelijensi seni yang sangat
tinggi. Sebab ilmu ini merupakan ilmu ukur suatu benda, ilmu yang menjadi pintu
masuk untuk mengetahui hakikat sesuatu benda, akar dari semua pengetahuan,
unsur dari kebijaksanaan dan asas dari semua praktisi maupun seni berfikir.[58]
Bidang Astronomi adalah
suatu disiplin
ilmu yang membicarakan tentang
matahari, bulan, bintang
dan
planet-planet lainnya, baik yang dapat
dipahami secara tekstual maupun konstektual.
Umat Islam
menjadikan ilmu astronomi
sebagai suatu ilmu
penyelidikan
tidak dipengaruhi oleh pendapat atau keterangan dogmatis, sehingga mereka banyak
mendirikan observatorium, sebagaimana telah disebutkan di atas.
Bidang
Musik, sebagaimana telah diketahui bahwa musik merupakan adopsi dari peradaban
Yunani, namun ilmuan Muslim telah
mengembangkannya menjadi sebuah terapi pengobatan. Diantara ilmuan Muslim yang
mempeloporinya adalah: al-Mawsili dan anaknya yang merupakan musisi terkemuka di
Baghdad pada masa khalifah al-Ma’mun, selanjutnya muncul musisi baru seperti: al-Mas’udi,
Abu ‘I-Faradj al-Isfahani, al-Razi, al-Kindi, Ibn Sina dan terkhusus al-Farabi
yang telah mengarang satu buku berjudul Kitab al-Musiqa (Book of
Music).[59]
Tangga nada, tipe melodi, dan bentuk ornamen alat musik hampir semuanya
menjadi dasar pengembangan musik Islam pada saat itu.[60]
3. Ilmu Aljabar
Seorang pakar Aljabar, yaitu Muhammad bin Musa
al-Khawarizmi (780-850 M) menyusun sebuah buku yang berjudul Kitab al-Mukhtasar
fi Hisab al-Jabr wa’l-Muqabalah (The Book Summary in the Process of
Calculation for Compulsion and Equation).[61]
Buku ini berisi pembahasan lengkap tentang Aljabar (Algebra) dan mulai dikenal
pada tahun 215/830 yang akhirnya dijadikan sebagai buku wajib di sekolah-sekolah
dan universitas Eropa hingga akhir abad ke-16.
Al-Khawarizmi
memberikan satu teori sebagai solusi atas semua bentuk rumus linear maupun
kuadrat. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Robert dan
Chester. Hasil terjemahan tersebut guna memperkenalkan ilmu Aljabar ke Eropa.[62]
Pada abad ke-8, seorang ahli Aljabar Barat bernama Leonardo Fibonacci dari Pisa
Italia mengadakan penelitian lanjutan tentang Aljabar yang dipelajari orang-orang
Barat, ia mengunjungi Mesir, Yunani, dan Sicilia yang pada akhirnya ia mengakui
bahwa Aljabar adalah suatu ilmu hitung berasal dari Muslim.[63]
Adapun ahli ilmu Aljabar yang diperngaruhi
oleh al-Khawarizmi adalah Umar al-Hayyam, ia mengembangkan ilmu Aljabar lebih
lanjut. Al-Khawarizmi lebih banyak memfokuskan perhatiannya kepada kuadratik
lipat empat. Sementara al-Hayyam mengutamakan persamaan kubik dan persamaan
derajat.[64]
Masih
sangat banyak capaian umat Islam yang menjadi warisan peradaban Islam. Tak
hanya jenis capaian ilmu di atas, namun beberapa diantaranya seperti: ilmu Kimia,
kosmografi, geologi, geografi, teknik mesin, zoologi, botanical science,
dan lain-lain. Seluruhnya hampir diwariskan oleh ilmuan sains Islam. Namun
sangat disayangkan, karena beberapa alasan
yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran kekuasaan Islam, antara lain
adanya konflik antara Islam dan Kristen, kesulitan ekonomi, tidak jelasnya
sistem peralihan kekuasaan dan jauh dari tanah Arab menyebabkan kemunduran total
sains dan teknologi pada saat itu, sangat minim didapati sisa-sisa manuskrip
karya ilmiah mereka yang tertinggal sampai saat ini.
Sebagai
penutup dari bahasan di atas, ditarik kesimpulan bahwa faktor pendukung
perkembangan sains Islam pada saat itu tak terlepas dari peran serta pusat
pendidikan. Dalam sejarahnya, banyak sekali dikenali tempat pusat-pusat
pendidikan dengan jenis dan tingkatan serta sifatnya yang khas seperti: madrasah
Nizamiyah di Baghdad atau Universitas Cordoba di Spanyol. Secara umum,
kemungkinan dua tempat inilah (Baghdad dan Spanyol) yang mempunyai peran aktif
dalam menumbuhkan ilmu-ilmu sains dan teknologi.
Sejalan
dengan itu, institusi pendidikan Islam mengalami perkembangan sesuai dengan
kebutuhan dan perubahan masyarakat pada waktu itu. Jika dahulu kaum Muslim pada
masa awal hanya memahami Alquran secara dogmatis saja, namun pada
perkembangannya, umat Islam lebih memperhatikan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan
Alquran seperti tafsir, hadis, qira’at, ushl fiqh, dan lain sebagainya.
Kemudian disusul dengan menghubungkan dengan ilmu-ilmu Kealaman seperti:
kedokteran, filsafat dan matematika.
Di
samping itu, perkembangan kebutuhan yang pada awalnya hanya mendakwahkan Islam,
maka dengan kemajuan intelektual, keadaan yang semakin baik dengan banyaknya
umat Islam yang tersebar ke penjuru dunia, mengharuskan umat Muslim untuk
mendalami ilmu-ilmu sains yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi
kemaslahatan umat pada saat itu, misalnya: lahirnya ilmu Astronomi untuk
membantu meningkatkan akurasi penentuan arah kiblat bagi umat Islam, yang
berada jauh dari Ka’bah di Mekkah. Rumah sakit yang dibangun untuk media
penelitian atau penyembuhan dan lain sebagainya.
Secara
khusus, dapat dikatakan bahwa peranan perpustakaan, rumah sakit dan
observatorium tersebut juga mendorong ilmuan Muslim menghasilkan karya-karya
yang dapat bermanfaat pada saat itu sampai sekarang. Institusi tersebut
merupakan wadah untuk menghasilkan ilmuan sains Islam yang karyanya dikenang
sepanjang waktu. Pendek kata, apresiasi terbaik patut kita berikan kepada
seluruh ilmuan Muslim pada masa klasik.
DAFTAR PUSTAKA
al-Kandahlawi, Muhammad Yusuf. Muntakhob
Ahadis. Nizamuddin: Kitab Khanahufaid, t.t.
Asari, Hasan. Menyingkap Zaman Keemasan
Islam: Kajian Atas Lembaga-lembaga Pendidikan. Bandung: Citapustaka Media
Perintis, 2013.
Basuki, Sulistiyo. Pengantar Ilmu
Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997.
Ibrahim, Qasim A. dan Muhammad A. Salih. al-Mausu’ah
al-Muyassarah fî at-Tarikh al-Islami: Sejarah Islam. terj. Zainal Arifin.
Jakarta: Zaman, t.t.
Iqbal, Muzaffar. Science and Islam. London:
Greenwood Press, 2007.
Masood, Ehsan. Science and Islam: A History.
London: Icon Books Ltd, 2009.
Munawwir, Imam. Kebangkitan Islam. Surabaya:
Bina Ilmu, 1984.
Nakosteen, Mehdi. Kontribusi Islam atas
Dunia Intelektual Barat. Surabaya: Risalah Gusti, 1995.
Nasional, Departemen Pendidikan. Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Edisi: III. Jakarta: Balai Pustaka, 2002.
Nasr, Sayyed Hossein. Science and
Civilization in Islam. Chicago: ABC International Group Inc., 2001.
Rohana. “Perpustakaan Bayt Al-Hikmah Pada
Masa Keemasan Islam”. Tesis: UIN Sunan Kalijaga, 2013.
Syalabi, Ahmad. History of Muslim
Education: Sejarah Pendidikan Islam. terj. Muhtar Yahya dan Sanusi Latief.
Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
Turner, Howard R. Science in Medieval
Islam: An Illustrated Introduction. Austin: University of Texas Press,
2006.
Zuhairini. Sejarah Pendidikan Islam.
Jakarta: Bumi Aksara,1997.
[1]Q.S. Al-Mujadalah/58: 11.
[2]Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, Muntakhob
Ahadis (Nizamuddin: Kitab Khanahufaid, t.t.), h. 174.
[3]Q.S. Fathir/35: 27.
[4]Q.S. Fathir/35: 28.
[5]Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Edisi: III (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 80.
[7]Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan
Islam: Kajian Atas Lembaga-lembaga Pendidikan (Bandung: Citapustaka Media
Perintis, 2013), h. 195-197.
[10]Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Salih, al-Mausu’ah
al-Muyassarah fî at-Tarikh al-Islami: Sejarah Islam, terj. Zainal Arifin (Jakarta:
Zaman, t.t.), h. 1145.
[12]Hasan Asari, Menyingkap, h. 202.
[13]Ahmad Syalabi, History of Muslim Education:
Sejarah Pendidikan Islam, terj. Muhtar Yahya dan Sanusi Latief (Jakarta:
Bulan Bintang, 1973), h. 59.
[15]Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas
Dunia Intelektual Barat (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), h. 90-91.
[16]Hasan Asari, Menyingkap, h. 204.
[17]Sulistiyo Basuki, Pengantar Ilmu
Perpustakaan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997), h. 49.
[18]Imam Munawwir, Kebangkitan Islam (Surabaya:
Bina Ilmu, 1984), h. 95.
[19]Mehdi Nakosteen, Kontribusi, h. 90.
[20]Rohana, “Perpustakaan Bayt Al-Hikmah Pada
Masa Keemasan Islam“ (Tesis: UIN Sunan Kalijaga, 2013), h. 100.
[24]Hasan Asari, Menyingkap, h. 208.
[25]Sayyed Hossein Nasr, Science and
Civilization in Islam (Chicago: ABC International Group Inc., 2001), h.89.
[28]Hasan Asari, Menyingkap, h. 213.
[29]Sayyed Hossein Nasr, Science, h. 89.
[30]Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Salih, al-Mausu’ah,
h. 1146.
[33]Hasan Asari, Menyingkap, h. 217.
[35]Ehsan Masood, Science and Islam: A History
(London: Icon Books Ltd, 2009), h 75.
[36]Hasan Asari, Menyingkap, h. 218.
[38]Ehsan Masood, Science, h. 118.
[41]Hasan Asari, Menyingkap, h. 209.
[42]Sayyed Hosein Nasr, Science, h. 80.
[48]Hasan Asari, Menyingkap, h. 212.
[49]Howard R. Turner, Science in Medieval
Islam: An Illustrated Introduction (Austin: University of Texas Press,
2006), h. 138-139.
[56]Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, al-Mausu’ah,
h. 1147.; Ehsan Masood, Science,
h. 141.; Howard R. Turner, Science, h. 51-52.
[57]Sayyed Hossein Nasr, Science, h. 154.
[59]Howard R. Turner, Science, h. 49.
[61]Sayyed Hossein Nasr, Science, h.
157-158.
[63]Ehsan Masood, Science, h. 144-145.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar