Jumat, 20 Mei 2016

Sejarah Sosial Pendidikan Islam

Lembaga Pendidikan Sains dan Teknologi Pada Masa Islam Klasik
Oleh: Erik Suwandinata


            Gelora kaum Muslimin untuk mendirikan pendidikan dalam bidang sains dan teknologi didorong oleh akidah mereka. Islam bukan hanya mengajarkan perihal ibadah kepada Tuhannya, namun kitab suci yang dimiliki umat Muslim memuat keseimbangan antara ibadah dan sains. Berlandaskan firman Allah swt. yang berbunyi: “Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat.”[1] Serta  Hadis Rasulullah saw.:
عَنْ أَبِيْ دَرْداءِ رضيالله عنه قال: إِنِّي سَمِعْتُ رسول الله صلَّى الله عليهِ وسلّم يَقُولُ: مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ,...(رواه أبو داود في فضل العلم, رقم:3641)
            Artinya: “Dari Abu Darda’ r.anhu. berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allah mempermudah langkahnya menuju surga’,..”(Riwayat Abu Daud pada bab keutamaan ilmu, no. 3641).”[2]
            Tampaknya hadis di atas memberikan motivasi kepada para Ilmuwan Muslim yang berjuang mencari ilmu, disinyalir bahwa hadis dan ayat di atas menempatkan kegiatan mencari ilmu di bagian orang-orang yang berjuang untuk menegakkan firman Allah, dari segi ganjaran atau pahala yang akan mereka dapatkan. Rasulullah juga mengibaratkan jalan yang ditempuh pencari ilmu sebagai jalan yang akan menghantarkannya ke surga.
            Alquran tak membedakan ilmu dunia dan ilmu agama, justru mengamanatkannya untuk dipelajari. Alquran menghimpun kedua ilmu tersebut di dalam satu firman Allah swt. yang berbunyi:
óOs9r& ts? ¨br& ©!$# tAtRr& z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB $oYô_t÷zr'sù ¾ÏmÎ/ ;NºtyJrO $¸ÿÎ=tFøƒC $pkçXºuqø9r& 4 z`ÏBur ÉA$t6Éfø9$# 7Šyã` ÖÙÎ/ ֍ôJãmur ì#Î=tFøƒC $pkçXºuqø9r& Ü=ŠÎ/#{xîur ׊qß ÇËÐÈ  
            Artinya: “Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.”[3]
           
šÆÏBur Ĩ$¨Z9$# Å_U!#ur¤$!$#ur ÉO»yè÷RF{$#ur ì#Î=tFøƒèC ¼çmçRºuqø9r& šÏ9ºxx. 3 $yJ¯RÎ) Óy´øƒs ©!$# ô`ÏB ÍnÏŠ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$# 3 žcÎ) ©!$# îƒÍtã îqàÿxî ÇËÑÈ  
Artinya: “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”[4]
            Apabila ayat ini dianalisis secara sederhana, maka akan memberikan isyarat untuk mempelajari ilmu sains. Sebagaimana Allah swt. berfirman: “Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit.” Ayat ni mengisyaratkan ilmu astronomi dan keterkaitan antara langit dan bumi. Kemudian Allah swt. berfirman: “Lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya.” Ayat ini juga mengisyaratkan ilmu tumbuhan (botanical science) beserta berbagai keajaiban dan proses kimiawinya.
            Selanjutnya Allah swt. berfirman: “Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.”  Ini mengisyaratkan adanya ilmu geologi, lapisan-lapisan bumi, dan garis-garis edarnya. Adakah bahasan ilmu biologi? Jawabnya adalah firman Allah swt.: “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).” Ayat inilah yang mengisyaratkan ilmu biologi beserta cabangnya yakni: ilmu antropologi (ilmu tentang manusia, khususnya mengenai asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya), etnomologi (ilmu tentang serangga), dan zoologi (ilmu tentang kehidupan binatang dan pembuatan klasifikasi aneka macam bentuk binatang di dunia).
            Pada akhirnya Allah swt. menutup firmannya dengan kalimat: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” Dari susunan kalimat fantastis inilah Allah swt. menganjurkan dan memerintahkan manusia agar mempelajari alam semesta, lalu mengelompokkan orang-orang yang mengetahui rincian dan rahasia-rahasianya ke dalam kelompok orang yang takut kepada-Nya, dengan kata lain orang yang berilmu dan beriman.
            Fakta ilmiah inilah yang membuat ghirah umat Islam khususnya umat Muslim pada masa klasik dahulu berjaya di dunia. Maka dari itu dalam pembahasan yang ringkas ini akan diketengahkan sejauh mana pencapaian umat Muslim generasi pertama itu di bidang sains, eksplorasi dan inovasi.
A.    Sains dan Teknologi Masa Klasik
            Sains merupakan suatu usaha kultural ekstensif yang mengisi pikiran dan menguras energi banyak intelektual Muslim abad pertengahan. Bahkan sains dipraktekkan pada skala yang tidak terprediksikan pada sejarah manusia kontemporer. Ribuan manuskrip ilmiah dari berbagai wilayah belahan dunia tersebar di perpustakaan-perpustakan modern. Sumber-sumber yang banyak juga diberikan sebagai dukungan atas aktifikats ilmiah dunia Islam. Sampai munculnya sains modern, tidak ada peradaban lain mendorong begitu banyak dukungan beragam dan terus menerus atas aktifitas ilmiah.
            Sains adalah pengetahuan sistematis yang diperoleh dari sesuatu observasi, penelitian, dan uji coba yang mengarah pada penentuan sifat dasar atau prinsip sesuatu yang sedang diselidiki, dipelajari dan sebagainya.[5] Sains Islam adalah sains yang dikembangkan oleh kaum Muslimin sejak abad Islam kedua, sudah tentu merupakan pencapaian besar dalam peradaban Islam. 
            Pentingnya sains Islam dalam peradaban Islam dan juga peranannya dalam pembentukan sains di Barat adalah keluasaan subjeknya yang memerlukan perlakuan berbeda-beda. Disini, pertama-tama perlu dipahami bahwa sains Islam bukan hanya sekadar kelanjutan dari sains Yunani serta leluhur sains Barat melainkan tidak lebih dari penghubung antara sains kepurbakalaan, yunani dan Alexandria, dengan sains Barat yang mendominasi peta keilmuwan selama beberapa abad.
            Kedua, walaupun mereka mempengaruhi sains Barat, namun sains Islam secara mandiri menelaah watak fenomena, kausalitas, hubungan antar berbagai bentuk objek mulai dari macam-macam mineral hingga tumbuhan dan hewan, makna perubahan dan perkembangan di alam semesta serta akhir dan tujuan alam ini. Seluruh objek ini ditelaah oleh sains Islam di bawah naungan ajaran Alquran dan Hadis dan menjadi sebentuk sains yang dikembangkan bukan sekadar sebagai tahap awal perkembangan sains Barat walaupun berperan penting dalam beberapa bidang sains dan eksakta dan kuantitatif seperti matematika dan astronomi.
            Telah lazim diketahui bahwa peradaban adalah hasil dari kejeniusan sebuah bangsa atau budaya, sehingga peradaban Yunani adalah merupakan hasil dari para jenius bangsa Yunani, peradaban Cina adalah merupakan hasil jenius dari para jenius bangsa Cina, peradaban Islam merupakan hasil dari para jenius Islam pula, begitu juga dengan peradaban Barat yang sekarang sedang jaya merupakan hasil jenius dari bangsa Barat.
            Dikatakan sebagai masa klasik karena temuan saintis Muslim tersebut memiliki kualitas prima serta menjadi dasar dan tolak ukur pengetahuan keilmuan sampai hari ini. Klasik mempunyai arti nilai atau mutu yang diakui dan menjadi tolak ukur kesempurnaan yang abadi atau tertinggi.[6] karena pada masa inilah lahirnya ilmuan Muslim sebagai penemu dari berbagai disiplin imu pengetahuan, dan pada masa inilah lembaga pendidikan sains Islam marak didirikan.
B.     Tranmisi Ilmu-ilmu Asing ke dalam Peradaban Islam
            Tersebarnya ilmu pengetahuan Yunani dan Helenisme ke penjuru dunia Muslim menurut simpulan Mehdi Nakosteen dalam Hasan Asari kiranya dapat memberikan gambaran bahwa ada empat faktor utama yang mendorong terjadinya transmisi ilmu-ilmu asing ke dalam peradaban Islam klasik, sebagaimana berikut:
1.      Penganiayaan dan pengusiran yang dilakukan oleh orang-orang Kristen Ortodoks yang menerapkan pemisahan antara beberapa institusi dengan Gereja Induk (Mother Church) karena alasan-alasan perbedaan doktrinal. Pemisahan tersebut antara lain pada gereja Timur, sekte-sekte Nestorian dan Monophysite. Mereka dipaksa untuk berpindah kepada kebudayaan yang lebih bersahabat, dimana mereka memperoleh perlindungan dan kesempatan untuk mempertahankan keberadaannya. Setelah bergerak dari pusat-pusat Nicene Ortodoks, yakni dari Nestorian kepada kekaisaran Persia, Monopyhsite ke dunia Persia dan Arab. Sekte-sekte yang bermusuhan ini membawa wariasan ilmu pengetahuan Greco-Helenistik terutama ilmu kedokteran, matematika, astronomi, teknologi, filsafat dan membantu melestarikannya dari tangan orang asing. Warisan ini kemudian kembali kepada cendikiawan melalui jalur orang-orang Muslim.
            Ketika orang-orang Muslim Arab menyerbu kekaisaran Romawi dan Persia, sekte-sekte minoritas ini menyambut orang-orang Arab yang menjadi penakluk tersebut sebagai pembebas mereka dan mengikat hubungan yang bersahabat dengan mereka sejak awal. Para penyerbu Muslim ini bersifat toleran terhadap adat istiadat, agama dan kebudayaan masyarakat setempat yang mereka taklukkan. Mereka membiarkan tradisi-tradisi ilmu pengetahuan untuk tidak diganggu dan dilindungi dari gangguan internal.
            Minat terhadap neo-Platonisme dan Aristotelisme, meskipun ditafsirkan dengan istilah-istilah Kristen, dan disesuaikan dengan doktrin-doktrin Kristen, bagaimanapun menjadikan orang-orang Nestorian dan Jacobites berada pada tingkatan pendidikan umum yang lebih tinggi. Khususnya bagi orang-orang Nestorian, minat terhadap Helenistik ini dapat berlangsung berkat perlindungan yang diberikan Sassanian Persia dan kemudian oleh Islam sampai abad ke-11 dan orang-orang Turki yang memegang kekuasaan. Sesungguhnya melalui orang-orang Nestorianlah unsur-unsur pemikiran Yunani yang penting tersebut seperti Aristotelian, dilestarikan melalui penerjemahan dalam bahasa Yunani dan Syiria untuk menjadi tulang punggung kehidupan intelektual Persia dan Islam.
2.      Penaklukan yang dilakukan Aleksander Agung sampai ke Mesir, Persia, dan India. Penaklukan ini secara otomatis disertai oleh penyebaran ilmu pengetahuan Yunani ke kawasan-kawasan tersebut. kemudian ilmu pengetahuan ini diperkaya dengan tradisi lokal sebelum akhirnya diserap ke dalam peradaban Islam.
3.      Faktor ketiga, akademi Jundi Syapur yang memadukan tradisi ilmiah berbagai budaya seperti: India, Syria, Grecian, Helenistik, Hebrew dan Persia sendiri. Di Akademi inilah digalakkan penerjemahan ilmu pengetahuan dan filsafat klasik Yunani ke dalam bahasa Pahlavi dan Bahasa Syria yang berlangsung secara intensif hingga awal abad-abad Islam. pusat-pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan kuno menyebar kepada dunia Muslim dan Barat, sampai tugas ini diambil alih oleh Baghdad di Islam Timur dan Sisilia serta Cordoba di Islam Barat.
4.      Karya Ilmiah bangsa Yahudi merupakan faktor signifikan. Para penerjemah Hebrew merupakan alat yang hebat dalam alih pengetahuan ini karena keterampilan berbahasa mereka, pada masa awal Islam ketika mereka menerjemahkan karya-karya Yunani kedalam bahasa Hebrew dan Arab. Demikian pula pada abad ketigabelas, ketika mereka menerjemahkan karya-karya tersebut dan karya-karya lainnya dari bahasa Arab ke bahasa Hebrew dan Latin, atau dari bahasa Hebrew ke dalam bahasa Latin.[7]
            Dengan keempat faktor diatas sebagai pendorong utama, jelas terlihat bahwa inti
dari proses transmisi tersebut adalah penerjemahan yang melibatkan berbagai bahasa.[8] Berdasarkan keterlibatan bahasa, materi ilmiah yang ditransmisikan ini dapat dikelompokkan menjadi:
1.      Bahan-bahan yang diterjemahkan langsung dari bahasa latin ke dalam bahasa Arab.
2.      Bahan-bahan yang diterjemahkan kedalam bahasa Pahlavi, berbaur dengan pemikiran Zoroaster-Hindu (Budha), lalu ditransfer lewat terjemahan bahasa Arab.
3.      Bahan-bahan yang diterjemahkan dari Hindu (Sansekerta) kedalam bahasa Pahlavi, lalu ke dalam bahasa-bahasa Syiria, Ibrani, dan Arab.
4.      Bahan-bahan yang ditulis pada masa Islam oleh ilmuan-ilmuan Muslim, tetapi sebenarnya hanya merupakan jiplakan dari sumber-sumber non-Muslim, dengan garis transmisi yang tidak jelas.
5.      Bahan-bahan yang tidak lebih dari sekedar komentar-komentar atau ringkasan-ringkasan dari karya-karya Yunani atau Persia.
6.      Bahan-bahan yang merupakan pengembangan dari kegiatan ilmiah pra-Islam, tetapi tidak akan berkembang dalam sejarah bila tidak didasarkan atas kegiatan ilmiah masa Helenisme, Syiria, Zoroaster, dan Hindu pra-Islam.
7.      Bahan-bahan yang muncul dari jenius individual dan dorongan kebangsaan maupun kedaerahan, bahan-bahan] ini akan berkembang, lepas dari [kegiatan] pendidikan pra-Islam, meskipun bentuk yang akan diambil oleh penemuan-penemuan orisinil ini mungkin saja berbeda kalau saja mereka berkembang dalam satu konteks atau kerangka kerja yang non-Islam.[9]
                Gerakan penerjemah besar-besaran terhadap tradisi peradaban-peradaban terdahulu di atas mulai digalakkan pada masa Abbasiyyah dan dana untuk membangunnya juga sangat besar digelontorkan. Gerakan ini terdiri dari dua fase. Fase pertama, dimulai pada awal berdirinya Dinasti Abbasiyah hingga masa pemerintahan al-Ma’mum (132/750 – 198/814). Pada fase ini, sejumlah besar karya Yunani klasik telah diterjemahkan. Kebanyakan dari para penerjemahnya adalah orang Kristen, Yahudi dan mereka yang baru memeluk agama Islam. Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Salih katakan bahwa contoh literatur-literatur yang diterjemahkan antara lain: buku medis karya Hippocrates (ahli medis Yunani), Analitica Priora karya Aristoteles, buku anatomi karya Galenus, Alamagest karya Ptolomeus, Floaters karya Archimedes dan buku-buku lainnya.[10]
            Fase kedua adalah pada era pemerintahan al-Ma’mun dan generasi sesudahnya. Pada fase ini, pekerjaan penerjemahan dipusatkan di akademi yang baru didirikan di Baghdad yakni Baitul Hikmah. Khalifah al-Mansur yang dikenal sangat menyukai filsafat, ilmu hukum, dan astronomi mendirikan kota Baghdad pada tahun 148/765. Beliau dikabarkan pernah memerintahkan penerjemahan banyak naskah filsafat dan sains Yunani, dan memberi upah yang besar kepada para penerjemahnya.
            Kemajuan yang sangat besar juga dicapai pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid. Banyak karya astronomi diterjemahkan ke dalam bahasa Arab pada masa Harun ar-Rasyid. Sedangkan pada masa kekhalifahan berikutnya yaitu pada masa al-Ma’mun, prestasi terbesar adalah pembangunan Baitul Hikmah yang terdiri dari perpustakaan, observatorium, dan departemen penerjemahan.
            Baitul Hikmahlah merupakan pusat penerjemahan buku-buku karya filusuf Yunani ke dalam bahasa Arab yang dilakukan secara besar-besaran. Abad ke-4/10 adalah abad yang paling subur dalam usaha penerjemahan karya intelektual Yunani ke dalam bahasa Arab. Sebagian besar terjemahan tersebut dilakukan dari bahasa Syria, tetapi banyak juga yang diterjemahkan langsung dari bahasa Yunani oleh orang yang telah mempelajari bahasa tersebut. Sering pula terjadi seorang penerjemahan yang sama dengan membuat terjemahan ke dalam bahasa Syria dan bahasa Arab sekaligus dari teks Yunani.
            Kaum Muslimin mendalami seluruh ilmu generasi terdahulu, lalu mulai mengembangkannya dan mengkajinya. Sigrid berkata: “Orang-orang Sahara ini membawa panji kebangkitan ilmiah di dunia dan bergerak maju secepat kilat, mereka membawa panji ini tanpa ada yang menandinginya, selama lebih dari 8 abad. Bangsa Arab tidak menelan mentah-mentah tradisi yang mereka terima, tetapi mengolahnya dan menjadikannya sebagai ciptaan baru.”[11]
C.    Perpustakaan
            Perpustakaan merupakan salah satu lembaga yang memiliki peranan penting dalam menyimpan karya ilmiah dan penelitian. Perhatian Islam terhadap pendidikan dan kemuliaan buku sebagai media pembelajaran berada di belakang tumbuhnya perpustakaan dalam peradaban Islam. Dalam Islam, buku tak hanya diperlakukan semata-mata sebagai media namun mempunyai nilai moral yang melandasi perhatian besar yang diberikan kepadanya. Perhatian ini mengharuskan penyebarluasan dan pemeliharaan buku sebagai bagian dari kegiatan mendukung ilmu pengetahuan dan kegiatan pendidikan.[12]
            Pada saat buku-buku masih langka dan mahal harganya, karena masih ditulis pakai tangan sehingga terbatas jumlahnya, perpustakaan merupakan jalan keluar untuk mendapatkan buku. Belum adanya produksi kertas juga merupakan faktor lain yang menyebabkan belum dapat digunakannya buku dalam jumlah besar. Dengan keadaan inilah, maka keberadaan perpustakaan sangat membantu penyebaran ilmu pengetahuan.[13]
            Pada masa Islam klasik terdapat tiga jenis perpustakaan yakni, perpustakaan umum, semi-umum dan perpustakan pribadi, sebagaimana berikut:
1.      Perpustakaan Umum
Perpustakaan jenis ini biasanya didirikan di masjid-masjid, madrasah atau instansi lainnya. Tujuannya adalah agar setiap orang yang datang dan berkunjung dapat belajar dan membaca buku-buku yang mereka butuhkan. Salah satu perpustakaan umum adalah Baitul Hikmah. perpustakaan yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid dan berkembang pesat pada masa Al-Ma’mun, merupakan salah satu contoh dari perpustakaan dunia Islam yang lengkap, yang berisi ilmu agama dan bahasa arab. Di dalamnya terdapat bermacam-macam buku ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu serta berbagai buku terjemahan dari bahasa Yunani, Persia, India, Qibti dan Aramy.[14]
            Perpustakaan Al-Haidariyah di An-Najaf. Perpustakaan ini masih ada sampai sekarang, nama perpustakaan diambil dari kata “Haidar” yakni panggilan kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo, perpustakaan ini didirikan oleh Khalifah Hakim bin Amrillah al-Fathimi. Perpustakaan ini dibuka pada tahun 966 M dengan tujuan untuk menyaingi keagungan Baitul Hikmah.
            Perpustakaan Madrasah, perpustakaan madrasah yang terkenal adalah perpustakaan madrasah Nizamiyah di Baghdad. Pada saat itu keberadaaan perpustakaan sangat erat karena perpustakaan ini didukung oleh penguasa dan cendikiawan beserta masyarakat umum.
            Penyair Ibnu Hamdan membuka perpustakaan kepada semua mahasiswa dan memberikan secara gratis kertas dan alat-alat tulis kepada pelajar kurang mampu. Demikian juga perpustakaan Adhud ad-Dawlah di Basrah membuka perpustakaan untuk masyarakat umum, ia memberikan uang dan beasiswa kepada orang-orang dan mahasiswa yang membaca disana.[15]
2.      Perpustakaan Semi-Umum
Perpustakaan ini didirikan oleh para Khalifah dan raja yang dikhususkan kepada orang-orang tertentu saja. Biasanya hanya untuk kalangan ilmuan dan bangsawan.[16] Salah satu yang termasuk ke dalam perpustakaan ini adalah: perpustakaan perpustakaan An-Nashiruddinillah dan perpustakaan Al-Mu’tasimbillah, yang didirikan oleh khalifah an-Nashir dan khalifah terakhir Abasiyyah.
3.      Perpustakaan Pribadi
            Perpustakaan pribadi adalah perpustakan yang dikelola oleh pihak swata atau pribadi dengan tujuan melayani keperluan bahan pustaka bagi kelompok, keluarga, individu tertentu.[17] Perpustakaan ini didirikan oleh para sarjana maupun orang-orang yang mengumpulkan buku untuk kepentingan mereka sendiri. Salah satu perpustakaan jenis ini adalah:
            Perpustakaan Hunayn bin Ibnu Ishaq, Hunayn bin Ibnu Ishaq adalah seorang dokter dan filosof, ia juga penerjemah terkemuka pada masa Al-Ma’mun, intelektualnya dan penguasaan terhadap berbagai bahasa seperi: Yunani, Persia, dan Hebrew menjadikannya sangat terkenal.[18]
            Perpustakaan Al-Mubassyir Ibnu Fatik, al-Mubassyir adalah seorang pangeran Mesir terkemuka dan dikenal sebagai ulama yang ahli dalam ilmu falak, matematika, filsafat dan ilmu kedokteran. Perpustakaan Jamaluddin al-Qifthi. Kecintaannya terhadap buku membuat ia rajin mengumpulkan buku yang sangat banyak, ia juga mewasiatkan perpustakaannya bernilai 50.000 dinar kepada an-Nashir.[19]
            Sebagai pusat informasi dan pembelajaran, maka pada masa itu perpustakaan-perpustakaan Islam mempunyai banyak fungsi, sebagaimana berikut:
1.      Pusat pembelajaran, perpustakaan yang terkenal (the House of Science) dari khalifah Al-Hakim di kairo memiliki koleksi buku-buku dengan perkiraan 1.600.000 jilid yang merupakan perpustakaan umum yang digunakan sebagai pusat ilmu pengetahuan.[20]
2.      Pusat penelitian, Hal ini dapat dilihat ketika utusan khalifah-khalifah dan raja-raja melakukan penelitian dengan membahas suatu bidang ilmu tertentu di perpustakaan-perpustakaan yang terkenal. Karena di perpustakaan tersebut memiliki koleksi yang cukup besar dan lengkap seperti Baitul Hikmah dan Darul Hikmah. Pada masa itu juga banyak para ilmuwan yang melakukan perjalanan dari suatu perpustakaan ke perpustakaan lain untuk merumuskan dan melakukan penemuan-penemuan terbaru.[21]
3.      Pusat penerjemahan. Perkembangan ilmu pengetahuan yang berpusat di Baghdad dimulai dengan menggalakkan aktivitas penerjemahan buku-buku yang tertulis dalam bahasa Yunani, Persia dan India ke dalam Bahasa Arab. Dalam Periode penerjemahan itu, para penerjemah dihimpun dalam satu lembaga yaitu Perpustakaan Darul Hikmah. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada masa itu perpustakaan sebagai jembatan ilmu dan kebudayaan, dan dalam konteks ini perpustakaan menjadi sponsor atas semua kegiatan.[22]
4.      Sebagai pusat penyalinan dan penerbitan. Salah satu hal yang dapat dibanggakan oleh kaum Muslimin pada masa itu dan dirasakan amat penting adalah bagian percetakan dan penerbitan dalam suatu perpustakaan. Hal ini disebabkan pada saat itu alat pencetak dan penerbit buku belumlah ditemukan. Sehingga peradaban Islamlah yang telah memberikan kontribusi tersebut untuk dunia.[23]
            Kemunduran dan kehancuran perpustakaan Islam dilatar belakangi oleh berbagai sebab. Perang barangkali menjadi salah satu sebab utama, serbuan tentara mongol, perang salib dan pengusiran Muslim dari Spanyol memakan korban sejumlah perpustakaan di kota-kota besar seperti Baghdad, Tripoli, Aleppo, Iskandaria, Jerusaleem, Cordoba, Sevilla, dan Granada. Pergantian pemerintahan dan ketidakstabilan politik dan ekonomi juga berpengaruh, sebab kebanyakan perpustakaan dibiayai oleh pemerintah dan bangsawan, Bencana alam seperti banjir dan kebakaran juga merupakan penyebab lainnya.[24]
D.    Rumah Sakit
            Rumah sakit juga merupakan lembaga penting untuk dipelajari, karena sebagian besar pembelajaran ilmu kedokteran klinik medis dilakukan di rumah sakit. Sementara aspek teori sebuah ilmu kedokteran berlangsung di masjid maupun madrasah, aspek praktis biasanya diajarkan di rumah-rumah sakit, sangat banyak perpustakaan dan sekolah yang didesain khusus untuk tujuan ini.[25]
            Rumah sakit tertua Islam dibangun pada tahun 88/707 oleh Khalifah Umayyah Walid bin ‘Abdul Malik di Damaskus. Para khalifah Abasiyyah mengorganisasikan pendidikan kedokteran agar para mahasiswa setelah melalui pendidikan teoritis dan praktis menulis sebuah penemuan (karya) – semacam tesis masa kini – dan dengan diterimanya karya tesebut dari guru (profesor) mereka, kemudian mereka pun diberikan izin untuk membuka praktek.[26]
            Sangat banyak rumah sakit pada masa itu yang dibangun oleh pemerintah atau secara pribadi sepanjang dunia Islam, sebagaimana Rumah sakit Mansuri di Kairo yang masih berdiri sampai sekarang, Rumah sakit Nuri di Damaskus 60/11 wilayah, salah satu rumah sakit paling megah yang pernah dibangun oleh dunia Islam.[27] Meskipun lembaga-lembaga semacam masjid atau madrasah mengajarkan ilmu kedokteran, tetapi di lembaga ini (masjid dan madrasah) pengajaran terbatas hanya teori saja, sebaliknya para mahasiswa dapat belajar teori dan praktek sekaligus di rumah sakit.[28]
            Rumah sakit Islam selalu dipimpin oleh dokter-dokter yang ahli diantaranya adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Al-Razi (Rhazes), beliau memimpin rumah sakit dan bekerja di dalamnya serta mengajarkan ilmu kedokteran kepada muridnya.[29] Adapun metode yang dilakukan beliau adalah metode eksperimen yang tidak pernah dipraktekkan dan diperhatikan pada ilmuan terdahulu (Yunani). Para ilmuan terdahulu hanya menggunakan metode penelitian ilmiah sederhana.
            Ketika hendak berencana membangun rumah sakit baru di Baghdad, Sultan Adhuh ad-Dawlah memerintahkan kepada al-Razi (Rhazes) untuk memilih lokasi yang baik untuk didirikannya rumah sakit. Kemudian al-Razi pun memanggil para muridnya untuk dilakukan sterilisasi tempat dengan menaruh potongan daging yang diletakkan di berbagai tempat berbeda di seluruh penjuru Baghdad. Selang beberapa waktu kemudian, al-Razi mengecek tempat-tempat tersebut, lalu memilih tanah tempat potongan daging yang paling lama membusuk dan di atas tanah itulah lokasi rumah sakit dibangun.[30] Dari eksperimen ini, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa al-Razi memilih tanah yang steril dari penyakit dan bakteri.
            Melalui metode eksperimen, Hasan ibn al-Haytam juga berhasil mengungkap kekeliruan Ptomeus dan Euclid. Menurut keduanya, mata mengirimkan cahaya yang dengannya kita bisa melihat. Jadi cahaya dari mata menyinari objek yang kita lihat. Tetapi teori yang benar adalah sebaliknya, objek-objek terlihat adalah yang mengirim cahaya ke mata, lalu cahaya tersebut diterima oleh lensa mata. Artinya, bisanya pengelihatan karena ada cahaya yang masuk ke mata.[31]
              Dengan fungsi gandanya sebagai pusat pendidikan dan sekaligus pelayanan masyarakat, maka pembangunan rumah sakit pada Abad pertengahan Islam biasanya dilandasi oleh dua motif: motif keagamaan dan kemanusiaan. Persembahan ilmiah kaum Muslim kepada umat manusia didorong keridhaan Tuhan mereka dan kecintaan mereka terhadap kemanusiaan.[32] Disamping itu, sebagian besar rumah sakit dalam sejarah peradaban Islam didukung oleh dan dana wakaf yang menjamin kelancaran operasi dan pemeliharaan bangunan. Hal ini setelah abad ke-51/11 dan seterusnya.[33]
            Semangat pelayanan sosial dan dukungan dana yang baik menjamin perkembangan rumah sakit pada skala yang besar dan tingkat pelayanan yang baik. Dikatakan bahwa Rumah sakit Mansuri di Kairo, misalnya melayani sekitar 4.000 pasien setiap harinya.[34] Cordoba memiliki rumah sakit yang airnya berjalan baik, memiliki kamar-kamar mandi, mempunyai kamar khusus pemisah antara penyakit menular dan penyakit biasa yang ditangani oleh dokter spesialis, dan kamar khusus bagi wanita atau pria serta selalu siaga (stand by) 24 jam perhari terbuka bagi siapa saja yang sakit.[35] Di samping penyebab-penyebab alamiah, kesulitan ekonomi dan ketidakstabilan politik penyebab kemunduran sistem rumah sakit Islam.[36]
E.     Observatorium
            Jika pada rumah sakit sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu kedokteran medis, maka observatorium juga memiliki peranan penting dalam pengembangan sains dan teknologi, yaitu astronomi. Latar belakang munculnya lembaga ini berkaitan erat dengan kebutuhan umat Islam akan astronomi yang membantu kehidupan mereka dalam berbagai bidang, mulai dari menentukan arah dalam perjalanan sampai pada upaya memperkirakan musim dan cuaca.[37]
            Ehsan Masood katakan bahwa: “Kurang lebih ada tiga pengajaran Islam dalam penerapan ilmu astronomi. Pertama, guna mengetahui 5 waktu yang sebagai penunjuk umat Muslim untuk berdoa [salat] setiap hari – terbitnya fajar (Subuh), Dhuha, Zuhur, Ashar, dan Magrib.”[38] Disebabkan dahulu masyarakat pada umumnya menggunakan matahari sebagai tanda waktu salat. Maka dengan adanya kegiatan observatotium mereka dengan mudah mengetahui waktu-waktu awal salat.  
            “Kedua, untuk mengetahui arah kiblat di Mekkah.”[39] Banyak para astronom dan ilmuan matematika bekerja keras untuk mengetahui akurasi arah kiblat dengan benar. Hal ini didasari karena masalah bumi yang mereka tempati jauh dari kota Mekkah, maka dari itu kegiatan observatorium mengharuskan mereka untuk mengetahuinya. “Ketiga, menentukan kalender Islam sebanyak 12 bulan dalam setahun dan hari-hari besar keagamaan.”[40]
            Perkembangan observatorium juga berkaitan dengan kenyataan bahwa astronomi tidak diajarkan pada lembaga-lembaga lain. Sifatnya yang sangat praktis dan membutuhkan alat-alat khusus tidak memungkinkan pengajaran dilakukan di masjid atau madrasah. Asosiasi observatorium dengan disiplin yang sangat terbatas membuat lembaga ini tidak berkembang dalam jumlah besar bila dibandingkan dengan rumah sakit, masjid, perpustakaan dan madrasah.[41]
            Pembangunan observatorium menurut Sayyed Hossein Nasr sebagai juga sebagai bentuk lembaga sains dan sebagai pusat pembelajaran astronomi luar angkasa, observatorium merupakan kontribusi asli peradaban Islam.[42] Adapun observatorium yang jaya pada saat itu adalah:
1.      Observatorium Shammasiyah
            Observatorium ini merupakan observatorium pertama dalam Islam. Pembangunnya adalah khalifah Al-Ma’mun di Baghdad sekitar 213/828, dan dikepalai oleh dua astronomi terkenal yakni Fadl bin al-Naubakht dan Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Kemudian diikuti oleh beberapa observatorium-observatorium selanjutnya, seperti observatorium Hamadan yang dibangun oleh raja persia ‘Ala’ al-Daulah kepada Ibnu Rusyd (Avicenna) sekitar 414/1023. Kurang lebih setahun dari pemerintahan Saljuk, Malikshah membangun observatorium royal untuk digunakan sepanjang masa dan menjadi pusat penelitian para astronomer, termasuk di dalamnya Umar Khayyam yang mencetuskan kalender Jalali.[43]
2.      Observatorium Maragah
            Perkembangan baru dalam sejarah observatorium dimulai pada 657/1261, observatorium Maragah dibangun oleh Hulagu Khan cucu dari Jengis Khan dan pendukung dari ilmuan Muslim pada saat itu. kurang lebih ada 400.000 buku yang terdapat dalam perpustakaan observatorium dan juga dilengkapi dengan peralatan-peralatannya.[44] Adapun kepala observatorium Maragah ini adalah Nasir al-Din al-Tusi dan memiliki pekerja seperti: Qutb al-Syirazi (penemu teori pelangi), Muhyi al-Din al-Maghribi, Najm al-Din Dabiran al-Qazwini dan Athir al-Din al-Abhari. Kebanyakan dari mereka terkenal sebagai ahli filsafat dan astronom. Disamping itu, observatorium ini memiliki staf yang berasal dari Cina yakni: Fao Mun Ji.[45]
3.      Observatorium Ulugh Beg
            Gelombang baru selanjutnya terjadi pada abad ke-9/15 ketika Ulugh Beg cucu dari Tamerlane (Timur Leng), membangun sebuah observatorium di Samarkand. Di samping Ulugh Beg sebagai astronom kompeten, ia juga meminta kepada ilmuan terbaik seperti: Qadizadah, ‘Ali Qushji dan terkhusus Ghiyath al-Din al-Kashani yang merupakan master dari teori-teori angka dan teknik-teknik penghitungan untuk membantu dan mendukung dalam pengoperasian observatorium ini.[46]
            Dari hasil observasi itu mereka menyiapkan tabel-tabel astronomi matahari, bulan dan planet-planet lain yang telah diamati dengan tingkat kecermatan tinggi, yang akurasinya tidak terlalu jauh berbeda dengan hasil pengamatan astronom modern yang menggunakan berbagai teleskop yang canggih. Di observatorium inilah astronomi berkembang seiring dengan perkembangan ilmu matematika.
            Beberapa observatorium di atas merupakan hasil dari peradaban Islam masa klasik, masih banyak ditemukan observatorium berkembang pesat pada saat itu seperti: observatorium Jaipur yang dibangun oleh raja Jai Sing di Delhi. Ada juga Observatorium Istanbul di Turki yang didirikan oleh Ottoman Sultan Murad II dinakhodai oleh Taqi al-Din.[47] Berdasarkan penelitian Sayili dalam Hasan Asari bahwa pengajaran astronomi di observatorium-observatorium tidak terorganisir dengan baik. Dukungan beasiswa terhadap penuntut ilmu bukan merupakan praktik yang umum. Sejak Abad ke-9/15 dikatakan bahwa kondisi observatorium berada dalam proses kemunduran sejalan dengan menurunnya vitalitas peradaban Islam secara umum.[48]
F.     Pencapaian Sains dan Teknologi
            Pencapaian sains dan teknologi pada masa Islam klasik tak lepas dari peran penting ketiga lembaga yang telah disebutkan di atas. Ketiga lembaga tersebut “Perpustakaan, Rumah sakit dan Observatorium” merupakan instansi utama dalam mengembangkan ilmu-ilmu yang dikuasai oleh ilmuan Muslim. Seperti halnya perpustakaan, di lembaga inilah awal mula ilmu-ilmu sains baru itu dilahirkan. Di rumah sakit, muncul beberapa ilmu-ilmu kedokteran yang sangat besar manfaatnya pada masa sekarang, dan observatorium juga merupakan awal teknologi dilahirkan. Adapun pencapaian tersebar dan menjadi warisan umat Islam sepanjang sejarah adalah:
1.      Ilmu Kedokteran
            Penerjemah dan dokter pada masa awal paling terkenal adalah Yuhana Ibn Masawayh (w. 857) kepala Bayt Al- Hikmah, dan Hunayn Ibn Ishaq (808-873). Bersama dengan para siswanya, Hunayn menterjemahkan hampir semua karya medis berbahasa Yunani ke dalam bahasa Syria maupun Arab. Selama abad keemasan ilmu pengetahuan kedokteran lebih didominasi orang-orang Muslim Persia. Kemajuan yang telah dicapai mencakup pada hal-hal kesehatan diantaranya adalah:
a.       Farmasi atau Farmakologi, prestasi Islam terhadap penelitian medis dan percobaan menghasilkan ilmu farmakologi  yang mana digambarkan oleh maraknya kegiatan penelitian mengenai komposisi obat, pemberian dosis, penggunaan obat dan efek pengobatan serta pembuatan bahan-bahan campuran obat. Mereka juga telah diketahui menjual beberapa bahan obat-obatan seperti: madu, kayu adas, kayu manis, cengkeh, kapur barus, sulpur dan air raksa. [49]
            Tokoh-tokoh Islam juga telah banyak mengeluarkan farmakopeia yang menceritakan tentang cara-cara pembuatan dan khasiat-khasiatnya. Bentuk dan penyajian obat dapat dibuat secara merebus, penyulingan, membasuh, larutan, salep, sublimasi, dan lainnya. Bahkan ada juga obat yang diberikan secara supositori (melalui anus), dan melalui pundi kencing. Uraian obat-obatan dan farmakologi telah dimuat dalam kitab-kitab yang terkenal seperti al-Hawi (oleh ar-Razi, 830 jenis), al- Mughani fil Adwiyat al-Mufradah (oleh al-Baitar, 1400 jenis), al-Qanun (oleh Ibn Sina, 760 jenis) dan oleh al-Kindi, al-Zahrawi maupun al-Ghafiqi yang terkenal sebagai pioner dalam bidang tumbuh-tumbuhan medis, farmasi dan bahan pengobatan.[50]
b.      Anatomi dan Fisiologi,  prestasi umat Muslim terhadap bidang anatomi dapat dilihat dari bentuk struktur manusia, sirkulasi darah (diantara jantung dan paru-paru) yang mereka pelajari, Abdullatif al-Baghdadi (1181-1231) banyak mempelajari bentuk tulang-tulang dengan menggunakan ribuan kumpulan tulang manusia yang dijumpai di suatu daerah. Beliau mempunyai perbedaan pendapat dengan Galen sebelumnya, tentang tulang sakrum. Abdullatif memperbaiki kesalahan Galen dan mengatakan bahwa tulang sakrum terbentuk dari gabungan beberapa tulang.[51]
c.       Anestetik atau Pembedahan: pembiusan pada pasien sebelum pembedahan dapat dilakukan dengan menggunakan campuran zoari, candu, hyocyamus dan mandrake, obat-obatan itu juga dapat digunakan sebagai anti bodi untuk mengobati alergi dan asma.[52]
d.      Opthalmologi. Sumbangan Islam sangat besar pada bidang ini, istilah retina, katarak dan lain-lain telah dideskripsikan pada abad ke-13. Teori baru tentang pengelihatan yaitu pembiasan terjadi di lensa mata dan difokuskan di retina, teori ini meruntuhkan teori yang dibuat oleh Yunani sebagaimana yang ditulis Aristoteles yang mengatakan bahwa cahaya dihantarkan dari mata untuk melihat objek yang dipandang.
            Beberapa jenis penyakit mata seperti: Katarak, trakauma, dan glukoma telah diuraikan dalam ophaltomologi Islam. Di samping itu, pembedahan katarak dengan menggunakan suntikan lensa yang legap (opaque) melalui suatu tabung juga bisa dilakukan. Salah satu yang ahli dalam bidang ini adalah: Ibn al-Haytam, Hunayn, Ali Abbas dan Abul at-Tabri.[53]
e.       Operasi, sebanyak lebih kurang 200 jenis alat-alat operasi telah dibuat oleh dokter Islam sebagaimana tertera di dalam kitab al-Tasrif oleh al-Zahrawi, termasuk: gunting, pisau silet, pena, pisau, dan gergaji.[54] Pembedahan dijalankan dengan menggunakan teknik steril (tanpa kuman), kuman dimusnahkan dengan alkohol atau pembakar. Torehan (incision) dan pembuang (excision) dilakukan berpedoman pada  pengetahuaanatomi, pembuluh darah yang terpotong diberhentikan pendarahannya dengan ligasi (ikatan benang), atau kauteri (dibakar dengan kain panas), jaringan tubuh dibuka dan akhirnya ditutup, dilapis demi lapis dengan jahitan benang dan menggunakan teknik steril seperti yang dilakukan sekarang. Sebagai pelengkap anatomi manusia, ilmuwan Muslim juga mengkaji binatang karena alasan praktis dan medis, dari sebuah manuskrip Mesir abad ke lima belas menunjukkan kerangka seekor kuda yang diobservasi.[55]
2.      Ilmu Matematika
            Ilmuan Muslim dalam bidang matematika telah menemukan struktur angka yang sistematis dan digunakan sampai sekarang. Dibandingkan dengan sistem angka pada masa sebelum Islam sistem angkanya tidak bersistem. Struktur angka tersebut lebih praktis dari struktur angka yang diciptakan oleh orang-orang Romawi. Pada struktur ini setiap digit (angka) mempunyai arti satuan, puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya. Misalnya jika hendak menuliskan 1825 maka tulisannya adalah: MDCCCXXV (M=1000, D=500, C+C+C=100+100+100=300, X+X= 10+10=20, V=5), atau pada penulisan 383 ditulis CCCLXXXIII (C+C+C=100+100+100=300, L=50, X+X+X=10+10+10=30, I+I+I=1+1+1=3).[56]
            Para ilmuan sejarah dan matematika membagi 3 jenis ilmu yang termasuk ke dalam ilmu matematika yakni: (1) Ilmu Aritmatika, (2) Ilmu Geometri, (3) Ilmu Astronomi, dan (4) Ilmu Musik. Musik adalah pengetahuan tentang perpaduan antar melodi, dengan tujuan mengelaborasikan prinsip-prinsip melodi; Astronomi berkaitan dengan ilmu perbintangan, berdasarkan teori-teori yang telah dibawa oleh Almagest sebagaimana Ilmu Geometri yang juga dipelopori oleh Euclid pada abad ke-5; dan Aritmatik merupakan ilmu yang membahas tentang properti angka-angka yang telah dimulai sejak Pythagoras dan Nichomachus.[57]
            Dalam bidang Aritmatika, Umat Islam menemukan pendapat-pendapat baru sebelumnya yang tidak dikenal orang, diantaranya adalah segi empat ajaib dan angka ramah tamah, dengan menghilangkan angka 9. Ketika angka 9 hilang maka didapatilah angka rangkap atau palsu di Eropa. Cara ini diketahui orang pada abad ke-18 dengan nama Regula Duarum Falsorum.
            Bidang geometri, penguasaan ilmu ini membutuhkan tingkat intelijensi seni yang sangat tinggi. Sebab ilmu ini merupakan ilmu ukur suatu benda, ilmu yang menjadi pintu masuk untuk mengetahui hakikat sesuatu benda, akar dari semua pengetahuan, unsur dari kebijaksanaan dan asas dari semua praktisi maupun seni berfikir.[58]
            Bidang Astronomi adalah suatu disiplin ilmu yang membicarakan tentang matahari, bulan, bintang dan planet-planet lainnya, baik yang dapat dipahami secara tekstual maupun konstektual. Umat Islam menjadikan ilmu astronomi sebagai suatu ilmu penyelidikan tidak dipengaruhi oleh pendapat atau keterangan dogmatis, sehingga mereka banyak mendirikan observatorium, sebagaimana telah disebutkan di atas.
            Bidang Musik, sebagaimana telah diketahui bahwa musik merupakan adopsi dari peradaban Yunani,  namun ilmuan Muslim telah mengembangkannya menjadi sebuah terapi pengobatan. Diantara ilmuan Muslim yang mempeloporinya adalah: al-Mawsili dan anaknya yang merupakan musisi terkemuka di Baghdad pada masa khalifah al-Ma’mun, selanjutnya muncul musisi baru seperti: al-Mas’udi, Abu ‘I-Faradj al-Isfahani, al-Razi, al-Kindi, Ibn Sina dan terkhusus al-Farabi yang telah mengarang satu buku berjudul Kitab al-Musiqa (Book of Music).[59] Tangga nada, tipe melodi, dan bentuk ornamen alat musik hampir semuanya menjadi dasar pengembangan musik Islam pada saat itu.[60]
3.      Ilmu Aljabar
Seorang pakar Aljabar, yaitu Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780-850 M) menyusun sebuah buku yang berjudul Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wa’l-Muqabalah (The Book Summary in the Process of Calculation for Compulsion and Equation).[61] Buku ini berisi pembahasan lengkap tentang Aljabar (Algebra) dan mulai dikenal pada tahun 215/830 yang akhirnya dijadikan sebagai buku wajib di sekolah-sekolah dan universitas Eropa hingga akhir abad ke-16.
            Al-Khawarizmi memberikan satu teori sebagai solusi atas semua bentuk rumus linear maupun kuadrat. Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Robert dan Chester. Hasil terjemahan tersebut guna memperkenalkan ilmu Aljabar ke Eropa.[62] Pada abad ke-8, seorang ahli Aljabar Barat bernama Leonardo Fibonacci dari Pisa Italia mengadakan penelitian lanjutan tentang Aljabar yang dipelajari orang-orang Barat, ia mengunjungi Mesir, Yunani, dan Sicilia yang pada akhirnya ia mengakui bahwa Aljabar adalah suatu ilmu hitung berasal dari Muslim.[63]
Adapun ahli ilmu Aljabar yang diperngaruhi oleh al-Khawarizmi adalah Umar al-Hayyam, ia mengembangkan ilmu Aljabar lebih lanjut. Al-Khawarizmi lebih banyak memfokuskan perhatiannya kepada kuadratik lipat empat. Sementara al-Hayyam mengutamakan persamaan kubik dan persamaan derajat.[64]
            Masih sangat banyak capaian umat Islam yang menjadi warisan peradaban Islam. Tak hanya jenis capaian ilmu di atas, namun beberapa diantaranya seperti: ilmu Kimia, kosmografi, geologi, geografi, teknik mesin, zoologi, botanical science, dan lain-lain. Seluruhnya hampir diwariskan oleh ilmuan sains Islam. Namun sangat disayangkan, karena beberapa alasan  yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran kekuasaan Islam, antara lain adanya konflik antara Islam dan Kristen, kesulitan ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan dan jauh dari tanah Arab menyebabkan kemunduran total sains dan teknologi pada saat itu, sangat minim didapati sisa-sisa manuskrip karya ilmiah mereka yang tertinggal sampai saat ini. 
            Sebagai penutup dari bahasan di atas, ditarik kesimpulan bahwa faktor pendukung perkembangan sains Islam pada saat itu tak terlepas dari peran serta pusat pendidikan. Dalam sejarahnya, banyak sekali dikenali tempat pusat-pusat pendidikan dengan jenis dan tingkatan serta sifatnya yang khas seperti: madrasah Nizamiyah di Baghdad atau Universitas Cordoba di Spanyol. Secara umum, kemungkinan dua tempat inilah (Baghdad dan Spanyol) yang mempunyai peran aktif dalam menumbuhkan ilmu-ilmu sains dan teknologi.
            Sejalan dengan itu, institusi pendidikan Islam mengalami perkembangan sesuai dengan kebutuhan dan perubahan masyarakat pada waktu itu. Jika dahulu kaum Muslim pada masa awal hanya memahami Alquran secara dogmatis saja, namun pada perkembangannya, umat Islam lebih memperhatikan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Alquran seperti tafsir, hadis, qira’at, ushl fiqh, dan lain sebagainya. Kemudian disusul dengan menghubungkan dengan ilmu-ilmu Kealaman seperti: kedokteran, filsafat dan matematika.
            Di samping itu, perkembangan kebutuhan yang pada awalnya hanya mendakwahkan Islam, maka dengan kemajuan intelektual, keadaan yang semakin baik dengan banyaknya umat Islam yang tersebar ke penjuru dunia, mengharuskan umat Muslim untuk mendalami ilmu-ilmu sains yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi kemaslahatan umat pada saat itu, misalnya: lahirnya ilmu Astronomi untuk membantu meningkatkan akurasi penentuan arah kiblat bagi umat Islam, yang berada jauh dari Ka’bah di Mekkah. Rumah sakit yang dibangun untuk media penelitian atau penyembuhan dan lain sebagainya.
            Secara khusus, dapat dikatakan bahwa peranan perpustakaan, rumah sakit dan observatorium tersebut juga mendorong ilmuan Muslim menghasilkan karya-karya yang dapat bermanfaat pada saat itu sampai sekarang. Institusi tersebut merupakan wadah untuk menghasilkan ilmuan sains Islam yang karyanya dikenang sepanjang waktu. Pendek kata, apresiasi terbaik patut kita berikan kepada seluruh ilmuan Muslim pada masa klasik.



DAFTAR PUSTAKA

al-Kandahlawi, Muhammad Yusuf. Muntakhob Ahadis. Nizamuddin: Kitab Khanahufaid, t.t.

Asari, Hasan. Menyingkap Zaman Keemasan Islam: Kajian Atas Lembaga-lembaga Pendidikan. Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2013.

Basuki, Sulistiyo. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997.

Ibrahim, Qasim A. dan Muhammad A. Salih. al-Mausu’ah al-Muyassarah fî at-Tarikh al-Islami: Sejarah Islam. terj. Zainal Arifin. Jakarta: Zaman, t.t.

Iqbal, Muzaffar. Science and Islam. London: Greenwood Press, 2007.

Masood, Ehsan. Science and Islam: A History. London: Icon Books Ltd, 2009.

Munawwir, Imam. Kebangkitan Islam. Surabaya: Bina Ilmu, 1984.

Nakosteen, Mehdi. Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat. Surabaya: Risalah Gusti, 1995.

Nasional, Departemen Pendidikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi: III. Jakarta: Balai Pustaka, 2002.

Nasr, Sayyed Hossein. Science and Civilization in Islam. Chicago: ABC International Group Inc., 2001.

Rohana. “Perpustakaan Bayt Al-Hikmah Pada Masa Keemasan Islam”. Tesis: UIN Sunan Kalijaga, 2013.

Syalabi, Ahmad. History of Muslim Education: Sejarah Pendidikan Islam. terj. Muhtar Yahya dan Sanusi Latief. Jakarta: Bulan Bintang, 1973.

Turner, Howard R. Science in Medieval Islam: An Illustrated Introduction. Austin: University of Texas Press, 2006.

Zuhairini. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara,1997.





[1]Q.S. Al-Mujadalah/58: 11.
[2]Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, Muntakhob Ahadis (Nizamuddin: Kitab Khanahufaid, t.t.), h. 174.
[3]Q.S. Fathir/35: 27.
[4]Q.S. Fathir/35: 28.
[5]Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi: III (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), h. 80.
[6]Ibid., h. 99.
[7]Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam: Kajian Atas Lembaga-lembaga Pendidikan (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2013), h. 195-197.
[8]Ibid.
[9]Ibid., h.197-198.
[10]Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Salih, al-Mausu’ah al-Muyassarah fî at-Tarikh al-Islami: Sejarah Islam, terj. Zainal Arifin (Jakarta: Zaman, t.t.), h. 1145.
[11]Ibid., h. 1146.
[12]Hasan Asari, Menyingkap, h. 202.
[13]Ahmad Syalabi, History of Muslim Education: Sejarah Pendidikan Islam, terj. Muhtar Yahya dan Sanusi Latief (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), h. 59.
[14] Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara,1997), h. 98.
[15]Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Intelektual Barat (Surabaya: Risalah Gusti, 1995), h. 90-91.
[16]Hasan Asari, Menyingkap, h. 204.
[17]Sulistiyo Basuki, Pengantar Ilmu Perpustakaan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997), h. 49.
[18]Imam Munawwir, Kebangkitan Islam (Surabaya: Bina Ilmu, 1984), h. 95.
[19]Mehdi Nakosteen, Kontribusi, h. 90.
[20]Rohana, “Perpustakaan Bayt Al-Hikmah Pada Masa Keemasan Islam“ (Tesis: UIN Sunan Kalijaga, 2013), h. 100.
[21]Ibid., h. 102-104.
[22]Ibid., h. 105.
[23]Ibid., h. 110.
[24]Hasan Asari, Menyingkap, h. 208.
[25]Sayyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam (Chicago: ABC International Group Inc., 2001), h.89.
[26]Ibid.
[27]Ibid.
[28]Hasan Asari, Menyingkap, h. 213.
[29]Sayyed Hossein Nasr, Science, h. 89.
[30]Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Salih, al-Mausu’ah, h. 1146.
[31]Ibid., h. 1147.
[32]Ibid.
[33]Hasan Asari, Menyingkap, h. 217.
[34]Ibid., h. 133-138.
[35]Ehsan Masood, Science and Islam: A History (London: Icon Books Ltd, 2009), h 75.
[36]Hasan Asari, Menyingkap, h. 218.
[37]Ibid., h. 209.
[38]Ehsan Masood, Science, h. 118.
[39]Ibid., h. 119.
[40]Ibid., h. 220.
[41]Hasan Asari, Menyingkap,  h. 209.
[42]Sayyed Hosein Nasr, Science, h. 80.
[43]Ibid.
[44]Ibid.
[45]Ibid., h. 81.
[46]Ibid.
[47]Ibid., h. 88.
[48]Hasan Asari, Menyingkap, h. 212.
[49]Howard R. Turner, Science in Medieval Islam: An Illustrated Introduction (Austin: University of Texas Press, 2006), h. 138-139.
[50]Ibid., h. 139.
[51]Ibid., h. 144, 154.
[52]Ibid., h. 153.
[53]Ibid., h. 145.
[54]Ibid., h. 147.
[55]Ibid., h. 158.
[56]Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh, al-Mausu’ah, h. 1147.; Ehsan Masood, Science,  h. 141.; Howard R. Turner, Science, h. 51-52.
[57]Sayyed Hossein Nasr, Science, h. 154.
[58]Ibid., h. 157.
[59]Howard R. Turner, Science, h. 49.
[60]Ibid., h. 55.
[61]Sayyed Hossein Nasr, Science, h. 157-158.
[62]Ibid.; Muzaffar Iqbal, Science and Islam (London: Greenwood Press, 2007), h. 106.
[63]Ehsan Masood, Science, h. 144-145.
[64]Ibid.; Muzaffar Iqbal, Science, h. 45.; Sayyed Hossein Nasr, Science, h. 160-167.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar