Essensi Kurikulum Menurut Filsafat Pendidikan Islam
Oleh: Erik Suwandinata
Manusia diciptakan Allah swt. begitu mulia, karena selain
bentuk yang sempurna manusia juga dibekali piranti-piranti berupa akal, qolb,
dan nafsu sehingga ia mampu mentransformasikan segala anugerah itu untuk dapat
mengaktualisasikan diri dalam mencapai kesempurnaan sebagai khalifah di muka
bumi. Untuk dapat mencapai itu semua manusia butuh proses atau kegiatan
yang ilmiah yaitu pendidikan.
Pendidikan merupakan bentuk usaha sadar dan terencana
yang berfungsi untuk mengembangkan potensi yang ada pada manusia agar bisa
digunakan untuk kesempurnaan hidupnya di masa depan nanti. Jika dilihat dalam perspektif Islam
adalah untuk membentuk manusia menjadi manusia seutuhnya (insan kamil)
dan menciptakan bentuk masyarakat yang ideal dimasa depan. Dari istilah insan
kamil ini maka segala aspek dalam pendidikan haruslah sesuai dengan
idealitas Islam.
Setiap kegiatan yang akan dilakukan mencapai sesuatu dari
yang dilakukan tersebut memerlukan suatu perencanaan atau pengorganisasian yang
dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur. Demikian juga dalam suatu
pendidikan baik jenis dan jenjangnya pasti memerlukan suatu program yang
terencana dan sistematis sehingga dapat menghantarkan pada tujuan yang
diinginkan, yang proses perencanaan ini dalam istilah pendidikan disebut
dengan kurikulum.
Dalam kurikulum, tidak hanya dijabarkan serangkaian ilmu
pengetahuan yang harus diajarkan oleh pendidik kepada peserta didik, tetapi
juga segala kegiatan yang bersifat kependidikan yang dipandang perlu karena
mempunyai pengaruh terhadap anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan
Islam. Disamping itu, kurikulum juga hendaknya dapat dijadikan ukuran kwalitas
proses dan keluaran pendidikan sehingga dalam kurikulum telah tergambar
berbagai pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diharapkan
dimiliki.
Salah satu tugas dari filsafat pendidikan Islam adalah
memberikan arah bagi tercapainya tujuan pendidikan Islam. Tujuan pendidikan
Islam yang akan dicapai harus direncanakan atau di programkan melalui
kurikulum. Oleh karena itu, kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam
proses pendidikan pada lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian akan menjadi jelas
dan terencana tentang bagaimana dan apa yang harus diterapkan dalam
proses belajar mengajar. Dalam makalah yang ringkas ini akan dibahas mengenai
essensi kurikulum menurut persfektif filsafat pendidikan Islam.
A. Pengertian Kurikulum
Sebagaimana
pengertian pada umumnya, kurikulum selalu diartikan sebagai ruang lingkup suatu
pembelajaran. Banyak para pakar ahli yang mendefenisikan pengertian kurikulum
ini. Dimulai secara etimologi, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu curier
yang berarti pelari, dan curere yang berarti jarak yang harus ditempuh
oleh pelari. Kurikulum secara etimologis diartikan sebagai jarak tempuh yang
diberikan kepada pelari untuk mencapai tujuan (finish).[1]
Secara
terminologi, kurikulum dimaknai sebagai cirle of instruction yaitu
lingkaran pengajaran dimana guru terlibat di dalamnya. Juga dimaknai sebagai
seluruh program pembelajaran atau pengalaman pendidikan oleh perancang
pendidikan, sekolah, pendidik untuk mengantarkan peserta didik ke arah tujuan
pendidikan.[2]
Dalam bahasa Arab, kurikulum diartikan sebagai manhaj, yang bermakna
jalan terang, atau jalan yang harus dilalui oleh pendidik atau guru latih
dengan orang-orang yang dididik atau dilatihnya untuk mengembangkan
pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap mereka.[3]
Kurikulum
merupakan salah satu komponen yang berperan penting dalam suatu sistem
pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan
pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran semua
jenis dan tingkat pendidikan. Secara fungsional, kurikulum dapat dikategorikan
sebagai program studi, konten kegiatan berencana, hasil belajar, reproduksi
kultural, pengalaman belajar dan produksi.[4]
Pendapat
lain dikemukakan oleh Alice Miel dalam Haidar Putra Daulay bahwa kurikulum juga
meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan,
dan sikap orang-orang yang meladeni dan diladeni sekolah yakni: peserta didik,
masyarakat, para pendidik dan personalia.[5] Dari
berbagai pendapat di atas mengenai defenisi kurikulum yang telah dipaparkan
dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah kegiatan dan pengalaman pendidikan
yang dirancang, diprogramkan dan diselengggarakan oleh lembaga pendidikan baik
di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud mencapai tujuan pendidikan.[6]
B. Prinsip Umum Kurikulum Pendidikan Islam
Untuk
lebih mendekatkan pengertian kurikulum pendidikan Islam, uraian berikut ini
mengemukakan prinsip utama dalam kurikulum pendidikan Islam menurut Omar
Mohammad at-Thoumy asy-Syaibani:
1. Berorientasi pada Islam, termasuk ajaran dan nilainya. Adapun kegiatan
kurikulum yang baik berupa falsafah, tujuan, metode, prosedur, cara melakukan,
dan hubungan-hubungan yang berlaku di lembaga harus berdasarkan Islam.
2. Prinsip menyeluruh (syumuliyyah) baik dalam tujuan maupun isi
kandungannya.
3. Prinsip keseimbangan (tawazzun) antara tujuan dan kandungan
kurikulum.
4. Prinsip interaksi (ittishaliyah) antara kebutuhan siswa dan
kebutuhan masyarakat.
5. Prinsip pemeliharaan (wiqayah) antara perbedaan-perbedaan individu.
6. Prinsip perkembangan (tanmiyah) dan perubahan (taghayur)
seiring dengan tuntutan yang ada dengan tidak mengabaikan nilai-nilai absolut ilahiyah.
7. Prinsip integritas (muwaddah) antara mata pelajaran, pengalaman, dan
aktivitas kurikulum dengan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan tuntunan
zaman, tempat peserta didik berada.[7]
Adapun
fungsi kurikulum dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut: (1) Alat untuk
mencapai tujuan dan untuk menempuh harapan manusia sesuai dengan tujuan yang
dicita-citakan; (2) Pedoman dan program harus dilakukan oleh subjek dan objek
pendidikan; (3) Fungsi kesinambungan untuk persiapan pada jenjang sekolah berikutnya
dan penyiapan tenaga kerja bagi yang tidak melanjutkan; (4) Standar dalam
penilaian kriteria keberhasilan suatu proses pendidikan, atau sebagai batasan dari program kegiatan yang akan dijalankan pada
semester maupun tingkat pendidikan tertentu.[8]
C. Asas-asas Kurikulum Pendidikan Islam
Asas yang dimaksud dengan bahasan ini adalah
landasan yang menjadi dasar dalam pembentukan kurikulum pendidikan Islam. Dalam
konteks ini, Bangunan kurikulum pendidikan Islam tersebut harus mengacu dan
tersusun kepada suatu sumber kekuatan yang menjadi landasan pembentukannya.
Sebagaimana yang diuraikan oleh asy-Syaibani dalam
Al-Rasyidin berikut ini:
1. Asas agama
Seluruh sistem yang ada dalam masyarakat
Islam, termasuk sistem pendidikannya harus meletakkan dasar falsafah, tujuan,
dan kurikulumnya pada ajaran Islam yang meliputi akidah, ibadah, muamalah dan
hubungan-hubungan yang berlaku di dalam masyarakat yang mengacu kepada dua sumber
syariat Islam yakni Alquran dan Sunnah serta sumber-sumber lainnya seperti ijma’, qiyas, kepentingan umum, dan yang
dianggap baik (istihsan).[9]
2. Asas filosofis
Dasar ini memberikan arah dan kompas tujuan
pendidikan Islam. Dengan dasar filosofis ini, susunan kurikulum pendidikan
Islam akan mengandung suatu kebenaran, terutama dari sisi nilai-nilai sebagai
pandangan hidup yang diyakini kebenarannya. Secara umum, dasar falsafah ini
membawa konsekuensi bahwa rumusan kurikulum pendidikan Islam harus beranjak
dari konsep ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang digali dari pemikiran
rasional yang radikal, sistematis dan universal para filosof muslim serta tidak
bertentangan dengan Alquran dan Sunnah.[10]
3. Asas psikologis
Asas ini memebrikan arti bahwa kurikulum
pendidikan Islam harus disusun dengan mempertimbangkan tahapan-tahapan
pertumbuhan dan perkembangaan yang dilalui peserta didik. Kurikulum pendidikan
Islam harus dirancang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan peserta didik,
tahap kematangan bakat-jasmani, intelektual, bahasa, emosi, dan sosial,
kebutuhan dan keinginan, minat, kecakapan, perbedaan individual dan lain
sebagainya yang berhubungan dengan psikologis peserta didik.[11]
4. Asas sosial
Pembentukan kurikulum pendidikan Islam harus
mengacu kearah realisasi diri individu ke dalam masyarakat. Ini berarti bahwa
semua kecenderungan dan perubahan yang telah dan bakal terjadi dalam perkembangan
masyarakat manusia sebagai makhluk sosial harus mendapat tempat dan perhatian
dalam kurikulum pendidikan Islam. Hal ini dimaksudkan agar out put yang dihasilkan adalah manusia-manusia yang mampu mengambil
peran dalam masyarakat dan kebudayaan dalam konteks kehidupan zamannya.[12]
Keempat asas di atas harus dijadikan landasan
dalam pembentukan kurikulum pendidikan Islam. Perlu diketahui bahwa antara satu
asas dengan yang lain tidaklah berdiri sendiri, tetapi harus saling
berintegrasi. Sehingga kurikulum akan relevan dengan kebutuhan pengembangan
peserta didik dalam unsur ketauhidan, pengembangan potensinya sebagai khalifah,
dan pengembangan kepribadiannya sebagai individu dan anggota masyarakat.
D.
Ciri-ciri Kurikulum
Pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan Islam dapat dicirikan
dengan pencerminan nilai-nilai Islam yang dihasilkan dari pemikiran
kefilsafatan dan termanifestasikan dalam seluruh aktivitas dan kegiatan pendidikan.
Dalam konteks ini harus dipahami bahwa karakteristik kurikulum pendidikan Islam
tidak dapat dipisahkan dari prinsip-prinsip yang telah diletakkan Allah swt.
dan Rasul-Nya. Hal ini merupakan pembeda antara kurikulum pendidikan Islam
dengan kurikulum pendidikan pada umumnya. Menurut Omar Mohammad at-Thoumy as-Syaibani diantara ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam
adalah:
1. Menonjolnya tujuan
agama dan akhlak dalam berbagai tujuan-tujuan dan kandungan, metode-metode dan
alat-alat yang bercorak agama. Segala yang diajarkan dan diamalkan dalam
lingkungan berdasarkan Alquran dan Sunnah.
2. Meluasnya
perhatiannya dan menyeluruhnya kandungan-kandungannya. Kurikulum yang
betul-betul mencerminkan semangat, pemikiran dan ajaran-ajarannya adalah
kurikulum yang luas, menyeluruh dan memperhatikan pengembangan dan bimbingan
terhadap segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologi, sosial dan spiritual.
3. Adanya prinsip
keseimbangan antara kandungan kurikulum tentang ilmu dan seni, pengalaman, dan
kegiatan pengajaran yang bermacam-macam.
4. Kecenderungan pada
seni, aktivitas jasmani, latihan militer, pengetahuan teknik, latihan kejuruan,
latihan bahasa asing, sekalipun atas dasar perseorangan atau bagi mereka yang
memiliki bakat.
5. Keterkaitan antara
kurikulum dalam pendidikan Islam dengan kemampuan, keperluan dan perbedaan
individual peserta didik. Disamping itu, juga adanya keterkaitan dengan alam
sekitar, budaya dan sosial dimana sebuah kurikulum itu dilaksanakan.[13]
Dapat disimpulkan ciri-ciri yang harus dimiliki kurikulum
pendidikan menurut Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani yaitu: menonjolkan tujuan
agama dan akhlak pada tujuan kandungan kurikulum dan metode, kandungan dan
cakupannya harus luas dan menyeluruh sehingga mencerminkan semangat, berkesinambungan
antara ilmu pengetahuan yang dikembangkan, bersikap menyeluruh dalam mengatur
mata pelajaran yang diperlukan para peserta didik, selalu disesuaikan dengan
bakat dan minat peserta didik.
E.
Aspek-aspek
Kurikulum Pendidikan Islam
Untuk merumuskan kurikulum pendidikan Islam di
awali dengan merumuskan tentang tujuan pendidikan Islam. Adapun tujuan
pendidikan Islam adalah menciptakan insan
kamil yakni generasi muslim yang memiliki akidah yang benar dan kokoh,
berpikiran cerdas, berjiwa bersih, berketerampilan, berspiritual yang tinggi,
tidak mengalami penyimpangan sosial, berjasmani sehat, berakhlak mulia,
berinteraksi sosial yang baik, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.[14]
Berdasarkan hal tersebut lahirlah materi pembelajaran yang berkenaan dengan:
(1) Aspek ketuhanan dan akhlak; (2) Aspek akal dan ilmu pengetahuan; (3) Aspek
jasmani; (4) Aspek kemasyarakatan; (5) Aspek keindahan; (6) Aspek keterampilan.[15]
1. Aspek ketuhanan dan akhlak
Pendidikan ketuhanan sangat penting mengingat
banyaknya persoalan ketuhanan yang kurang kuat ditanamkan di sanubari peserta
didik. Sejalan dengan itu, hal ini disebutkan oleh Allah swt. dalam Alquran: “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “ Ya
Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku
beserta anak cucuku menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya
berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa
yang mengikutiku, sesungguhnya orang itu termasuk golonganku. Dan barangsiapa
yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha
Penyanyang.”[16]
Persoalan akidah merupakan yang sangat penting
dan harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Tanpa hal itu, nilai-nilai
Islam akan lenyap dari muka bumi dan akan diangkatlah keberkahan dari dunia
ini, sehingga perlu diingatkan agar generasi penerus tetap konsisten terhadap
kuatnya akidah.[17]Sebagaimana
kekhawatiran Nabi Yakub a.s. pada putranya dalam Alquran: “Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan tanda-tanda maut, ketika ia
berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalanku?” mereka
menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim,
Ismail, dan Ishaq, yaitu Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh
kepada-Nya.”[18]
Disamping
itu, Rasulullah saw. memerintahkan kepada orang tua muslim untuk mendidik
anak-anaknya melakukan segala bentuk ibadah ketika berusia 7 tahun, sebagaimana
sabda Rasulullah saw. berikut ini:
عن عمرو ابن شعيْبٍ عن أبيه عن جَدِّهِ قال: قال رسول الله صلّى الله عليه و
سلّم: مُرُوا أوْلاَدَكُم بالصَلاة وهم اَبْناءِ سبْعِ سِنينَ واضْرِبُواهم عليها وهم اَبْناءِ عشرٍ
وفَرَّقُوا بيْنَهم في المَضَاجِعِ.(رواه أبو داود)
Artinya:“Serulah
anak-anakmu untuk mengerjakan salat ketika mereka berumur 7 tahun, dan pukullah
mereka jika tidak mau mengerjakan salat ketika mereka telah berumur 10 tahun,
dan pisahkanlah tempat tidur mereka (putra dan putri).” (HR. Abu Daud)
سَمعْتُ أنس بن مالك يحدِّثُ عَنْ رسول الله صلّى الله عليه
و سلّم قال: اكْرِمُوا أوْلاَدَكُم وأحْسِنُوا أَدَبَهُمْ.(رواه ابن ماجه)
Artinya: “Muliakanlah
anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang baik.”(HR. Ibnu Majah)
Hadis di atas memberikan hikmah bahwa hendaknya
membiasakan anak melakukan ibadah-ibadah sejak dini agar dia terdidik menjadi
hamba Allah yang patuh dan taat kepada Tuhannya serta senantiasa berserah diri.
Ia juga akan menemukan ketenangan jiwa dalam berbagai bentuk ibadah dan akhlak
sosialnya. Selanjutnya akhlak juga perlu ditanamkan di jiwa peserta didik
seperti: mengenalkan kepada hal-hal yang dihalalkan dan diharamkan dalam
syariat Islam, mengajarkan untuk mencintai Rasulullah saw. dan ahli baitnya,
membaca Alquran serta menanamkan ke dalam diri peserta didik ruh khusyu’,
takwa dan penghambaan kepada Allah swt.[19]
Maka dari itu, pendidikan akhlak juga
merupakan bagian penting dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber
daya manusia yang Islami. Dengan membiasakan peserta didik untuk merasakan
kehadiran Allah swt. dalam setiap waktu dan tempat, maka akan tumbuh rasa takut
untuk melakukan tindakan tercela. Akhlak tidaklah akan terbentuk kecuali adanya
rasa takut kepada Allah swt. dan keyakinan terhadap balasan Allah swt. atas apa
yang telah dilakukan.[20]
2. Aspek akal dan ilmu pengetahuan
Pendidikan akal adalah upaya untuk
mencerdaskan akal dengan menanamkan berbagai macam pengetahuan yang bermanfaat
seperti ilmu-ilmu agama, kebudayaan ilmiah dan kontemporer, kesadaran berpikir
dan peradaban, mengajarkan kepada akal cara berpikir yang baik dan benar,
membebaskan akal dari taklid buta, terlalu cepat menjustifikasi, menghilangkan
segala bentuk pikiran yang negatif dan tidak membebani akal untuk memikirkan
hal-hal yang tidak sanggup untuk dijangkau.[21] Pendek
kata, Pendidikan akal bertujuan untuk membentuk peserta didik agar berpikir
ilmiah.
Banyak sekali dalam ajaran Islam yang
memerintahkan untuk melaksanakan hal ini diantaranya hadis Nabi saw.:
عَنْ أَبِيْ دَرْداءِ رضيالله عنه قال: إِنِّي سَمِعْتُ
رسول الله صلَّى الله عليهِ وسلّم يَقُولُ: مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيهِ
عِلمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ,...(رواه أبو داود في
فضل العلم)
Artinya:
“Barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allah mempermudah
langkahnya menuju surga,...”(Riwayat Abu Daud pada bab keutamaan ilmu).”[22]
Rasulullah saw.
juga menjelaskan kepada manusia untuk selalu mencari ilmu pengetahuan dan
keutamaannya sebagaimana hadis berikut:
طَلَبُ الْعِلْمِ
فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، وإنَّ طاَلِبَ العِلْم يَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلَّ شَيْءٍحَتَّى
الحْيتَان في البَحْرِ. (رواه ابن العبد البار في العلم عن أنس)
Artinya: Mencari ilmu itu
adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Dan sesungguhnya setiap makhluk yang ada di bumi
memohon ampun untuk orang yang mencari ilmu hingga ikan paus yang ada di
lautpun ikut memohon ampun. (HR. Ibnu ‘Abdul Bâri)[23]
Sejalan dengan
apa yang dikatakan Imam az-Zarnûji yang
disyarahkan oleh Imam Ibrâhîm bin Ismâ‘il, beliau
mengatakan bahwa “sesungguhnya mulianya ilmu itu karena kedudukannya menjadi wasilah
(sarana) untuk kebaikan dan takwa, sehingga dengan ilmu tersebut membuat
manusia berhak memperoleh kemulian di sisi Allah swt. dan kebahagian yang abadi.”[24]
3. Aspek jasmani
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang
terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Oleh karena itu, Islam menganjurkan
untuk memelihara dengan baik kedua unsur tersebut. Unsur jasmani dipelihara
sesuai kebutuhan yang bersifat jasmani, seperti: makan, minum, olahraga,
istirahat, dan pemeliharaan kesehatan. Dirancanglah program dan materi
pelajaran pendidikan jasmani.[25]
4. Aspek sosial kemasyarakatan
Manusia adalah makhluk sosial yang saling
membutuhkan antara satu sama lainnya. Disinilah pentingnya pendidikan sosial kemasyarakatan
dimana di dalam Islam banyak sekali ayat-ayat dan hadis yang berbicara dengan
pendidikan sosial. Diantara upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam pendidikan sosial
kemasyarakatan adalah: (1) Menanamkan prinsip-prinsip kepribadian yang mulia;
(2) Memperhatikan hak-hak orang lain; (3) Komitmen dalam melaksanakan adab-adab
yang berlaku di masyarakat secara umum; (4) Kontrol sosial.[26]
5. Aspek keindahan
Pendidikan ini berusaha menanamkan rasa indah
dalam diri manusia yang akan membawa manusia lebih menghayati kebesaran dan
keindahan Allah Maha Pencipta. Di susunlah materi pelajaran kesenian pada
setiap tingkatan jenjang dan jalur pendidikan.[27]
6. Aspek keterampilan
Manusia hidup membutuhkan beraneka keperluan.
Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia harus bekerja. Selanjutnya
agar seseorang terampil
dalam bekerja, maka ia harus dididik dalam pekerjaan tersebut. Dengan
demikian lembaga pendidikan Islam seharusnya merancang jenis-jenis pendidikan
vokasional. Disusunlah materi pelajaran yang berkenaan dengan pendidikan
keterampilan.
Prinsip pokok materi pendidikan Islam adalah
menjadi muatan dalam kurikulum pendidikan Islam. Kurikulum pendidikan Islam
disusun agar dapat mencapai tujuan pendidikan Islam. Bila sesuatu tujuan pendidikan
telah diketahui, maka upaya berikutnya ialah merumuskan dengan apa yang dicapai oleh tujuan tersebut. Jalan yang ditempuh untuk
mencapai tujuan pendidikan itu adalah melalui kurikulum.[28]
F. Kurikulum Pendidikan Islam Menurut Hasil Konferensi Dunia Tentang
Pendidikan Islam
Dalam Konferensi Pendidikan Islam Dunia Kedua
di Islamabad, dirumuskan pembagian ilmu atas dua jenis, yakni: perennial
knowledge dan acquired knowledge. Atas dasar inilah disusun
kurikulum yang meliputi kedua pembagian ilmu tersebut, ilmu yang tergolong pada
kelompok pertama (perennial knowledge) adalah:
1. Alquran yang meliputi: Bacaan, Hafalan, Tafsir, Sunnah, Sejarah Hidup Rassulullah, Tauhid, Ushul Fiqh dan Bahasa Arab.
2. Subjek tambahan: seperti Metafisika Islam dalam Ekonomi, Kebudayaan Islam dan Perbandingan Agama.[29]
Sementara ilmu yang tergolong ke dalam
kelompok kedua (acquired knowledge) adalah:
1.
Imajinatif yang
mencakup Seni dan Arsitektur Islam serta Sastra.
2.
Sains intelektual yang
terdiri atas: Studi Sosial, Filsafat, Pendidikan, Ekonomi, Ilmu Politik,
Sejarah, Peradaban Islam (termasuk paham-paham Islam tentang politik, ekonomi,
kehidupan sosial, perang dan damai), Geografi, Sosiologi, Linguistik
(islamisasi kehidupan bahasa), Psikologi (dengan acuan khusus pada konsep Islam
sebagaimana ditemukan dalam Alquran dan Hadis, dan dianalisis serta dijelaskan
oleh pemikir-pemikir muslim awal dan sufi-sufi besar), Antropologi (sebagaimana
dapat ditarik dari Alquran dan Sunnah.
3.
Ilmu kealaman yang
mencakup Filsafat Ilmu Pengetahuan, Matematika, Statistika, Fisika, Kimia,
Ilmu-Ilmu Kehidupan, Astronomi, dan Ilmu Ruang.
4.
Sains terapan: Rekayasa
dan Teknologi Sipil, Mekanika, Kedokteran, Pertanian, Ilmu Kehutanan dan
lain-lain.
5.
Ilmu praktis yang
mencakup Ilmu Perdagangan, Ilmu Administrasi, Ilmu Komunikasi, Ilmu
Perpustakaan, dan lain-lain.[30]
Hasil konferensi
dunia kedua tentang pendidikan Islam ini juga telah memperinci subjek kurikulum
yang diajarkan pada tingkat dasar, menengah, dan universitas dengan bertolak
dari dua kategori ilmu tersebut. Dalam penyusunan ini telah terlihat bahwa aspek ilmu yang
dikembangkan tidak tertumpu pada satu bagian ilmu saja, tetapi telah berupaya
untuk menyeimbangkan antara dua jenis ilmu itu. Keseimbangan antara dua jenis
ilmu itu sejalan dengan konsep kurikulum pendidikan Islam.
Kurikulum adalah elemen pokok dari pendidikan,
dan merupakan jalan raya yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan pendidikan.
Bagaimanakah mencapai tujuan pendidikan yang dikehendaki, maka perlulah
kurikulum disusun untuk itu. Dengan kurikulum tersebut akan diraih tujuan
pendidikan dan akan dibentuk tipe manusia yang dicita-citakan. Supaya kurikulum
ini menjadi alat utama dalam membentuk manusia yang dicita-citakan atau
gambaran sosok manusia yang ingin dibentuk. Maka kurikulum haruslah dilaksanakan
secara menyeluruh dan komprehensif.
Selanjutnya pula aspek kurikulum pendidikan
Islam terdiri atas 7 jenis yakni: (1) Aspek ketuhanan dan akhlak; (2) Aspek
akal dan ilmu pengetahuan; (3) Aspek jasmani; (4) Aspek kemasyarakatan; (5)
Aspek keindahan; (6) Aspek keterampilan. Kurikulum pendidikan Islam merupakan
alat untuk mendidik generasi muda dengan baik dan menolong mereka untuk membuka
dan mengembangkan kesenian, bakat, kekuatan, dan keterampilan mereka yang
bermacam-macam dan menyiapkan mereka dengan baik untuk menjalankan hak-hak dan
kewajiban, memikul tanggung jawab terhadap diri, keluarga, masyarakat dan
bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
al-Kandahlawi, Muhammad Yusuf. Muntakhob Ahadis.
Nizamuddin: Kitab Khanahufaid, t.t.
Al-Rasyidin. Filsafat Pendidikan
Islam:Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi Praktik
Pendidikan. Citapustaka: Medan, 2015.
, dan Samsul
Rizal. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press, 2005.
as-Suyûthî, Imâm Jalâluddîn bin Abû Bakr. Al-Jâmi‘us
Shagîr Fî Ahâdîsi Al-Basyîri An-Nadzîr. jilid II. Beirut: Lebanon,
Dâr Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2004.
as-Syaibani, Omar Mohammad at-Thoumy. Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta:
Bulan Bintang, 1979.
Daulay, Haidar Putra. Pendidikan
Islam dalam Perspektif Filsafat. Jakarta: Kencana Prenada Media, 2014.
Ismâ‘îl, Ibrâhîm bin. Syarah Ta’lîm Muta‘allîm. Surabaya:
Darul Abidin. t.t.
Kusmin. “Hadis-hadis
Tentang Kurikulum Pendidikan Islam,” dalam Hasan Asari (ed.), Hadis-hadis Pendidikan; Sebuah Penelusuran
Akar-akar Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Citapustaka Media, 2008.
Langgulung, Hasan. Manusia dan Pendidikan Suatu
Analisa Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pustaka
Al-Husna, 1986.
Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama
Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Rajagrafindo Persada:
Jakarta, 2005.
Mujib, Abdul dan Jusuf Muzakkir.Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010.
Nata, Abudin.Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
Usiono. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung:
Citapustaka Media, 2015.
[1]Al-Rasyidin, Filsafat Pendidikan Islam:Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi Praktik Pendidikan (Citapustaka: Medan, 2015) h. 161.;
Al-Rasyidin dan Samsul Rizal, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta:
Ciputat Press, 2005), h. 55.; Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu
Analisa Psikologi Pendidikan (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1986), h. 176.
[3]Ibid.; Omar Mohammad at-Thoumy as-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta:
Bulan Bintang, 1979), h. 478.; Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan
Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi (Rajagrafindo
Persada: Jakarta, 2005) h. 1.
[4]Abdul Mujib dan Jusuf Muzakkir, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana
Prenada Media, 2010), h. 122-123.
[5]Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat (Jakarta: Kencana
Prenada Media, 2014), h. 88.
[7]Ibid., h. 89-90.; Omar Mohammad at-Thoumy
as-Syaibani, Falsafah, h. 519-522.;
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam
(Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 128-129.
[8]Abdul Mujib dan Jusuf Muzakkir, Ilmu, h. 134.
[9]Al-Rasyidin,Falsafah, h. 169
[13]Omar Mohammad at-Thoumy as-Syaibani, Falsafah, h. 489-519.; Haidar Putra
Daulay, Pendidikan, h. 90.;
Al-Rasyidin, Filsafat, h. 172.;
Abudin Nata, Filsafat, h. 127.
[14]Usiono,
Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Citapustaka Media, 2015), h. 130.
[15]Haidar Putra Daulay, Pendidikan, h. 91.
[16]Q.S. Ibrahim/14: 35-36.
[17]Kusmin, “Hadis-hadis
Tentang Kurikulum Pendidikan Islam,” dalam Hasan Asari (ed.), Hadis-hadis Pendidikan; Sebuah Penelusuran
Akar-akar Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Citapustaka Media, 2008), h. 55.
[18]Q.S. Al-Baqarah/2: 133.
[19]Usiono,
Filsafat, h. 131-133.
[22]Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, Muntakhob
Ahadis (Nizamuddin: Kitab Khanahufaid, t.t.), h. 174.
[23]Imâm Jalâluddîn bin Abû Bakras-Suyûthî, Al-Jâmi‘us
Shagîr Fî Ahâdîsi Al-Basyîri An-Nadzîr (Beirut: Lebanon, Dâr
Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2004), jilid II, h. 325.
[24]Ibrâhîm bin Ismâ‘îl, Syarah Ta’lîm
Muta‘allîm (Surabaya: Darul Abidin, t.t.), h. 6-7.
[25]Haidar Putra Daulay, Pendidikan, h. 92.
[26]Usiono,
Filsafat, h. 168.
[27]Haidar Putra Daulay, Pendidikan, h. 93.
[30]Al-Rasyidin, Falsafah, h. 164-165.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar