Jumat, 20 Mei 2016

Essensi Kurikulum Menurut Filsafat Pendidikan Islam

Essensi Kurikulum Menurut Filsafat Pendidikan Islam 
Oleh: Erik Suwandinata

Manusia diciptakan Allah swt. begitu mulia, karena selain bentuk yang sempurna manusia juga dibekali piranti-piranti berupa akal, qolb, dan nafsu sehingga ia mampu mentransformasikan segala anugerah itu untuk dapat mengaktualisasikan diri dalam mencapai kesempurnaan sebagai khalifah di muka bumi. Untuk dapat mencapai itu semua manusia butuh proses atau kegiatan yang ilmiah yaitu pendidikan.
Pendidikan merupakan bentuk usaha sadar dan terencana yang berfungsi untuk mengembangkan potensi yang ada pada manusia agar bisa digunakan untuk kesempurnaan hidupnya di masa depan nanti. Jika dilihat dalam perspektif Islam adalah untuk membentuk manusia menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) dan menciptakan bentuk masyarakat yang ideal dimasa depan. Dari istilah insan kamil ini maka segala aspek dalam pendidikan haruslah sesuai dengan idealitas Islam.
Setiap kegiatan yang akan dilakukan mencapai sesuatu dari yang dilakukan tersebut memerlukan suatu perencanaan atau pengorganisasian yang dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur. Demikian juga dalam suatu pendidikan baik jenis dan jenjangnya pasti memerlukan suatu program yang terencana dan sistematis sehingga dapat menghantarkan pada tujuan yang diinginkan, yang proses perencanaan ini dalam istilah pendidikan disebut dengan kurikulum.
Dalam kurikulum, tidak hanya dijabarkan serangkaian ilmu pengetahuan yang harus diajarkan oleh pendidik kepada peserta didik, tetapi juga segala kegiatan yang bersifat kependidikan yang dipandang perlu karena mempunyai pengaruh terhadap anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam. Disamping itu, kurikulum juga hendaknya dapat dijadikan ukuran kwalitas proses dan keluaran pendidikan sehingga dalam kurikulum telah tergambar berbagai pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang diharapkan dimiliki.
Salah satu tugas dari filsafat pendidikan Islam adalah memberikan arah bagi tercapainya tujuan pendidikan Islam. Tujuan pendidikan Islam yang akan dicapai harus direncanakan atau di programkan melalui kurikulum. Oleh karena itu, kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pendidikan pada lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian akan menjadi jelas dan terencana tentang bagaimana dan apa yang  harus diterapkan dalam proses belajar mengajar. Dalam makalah yang ringkas ini akan dibahas mengenai essensi kurikulum menurut persfektif filsafat pendidikan Islam.
A.    Pengertian Kurikulum
            Sebagaimana pengertian pada umumnya, kurikulum selalu diartikan sebagai ruang lingkup suatu pembelajaran. Banyak para pakar ahli yang mendefenisikan pengertian kurikulum ini. Dimulai secara etimologi, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu curier yang berarti pelari, dan curere yang berarti jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Kurikulum secara etimologis diartikan sebagai jarak tempuh yang diberikan kepada pelari untuk mencapai tujuan (finish).[1]
            Secara terminologi, kurikulum dimaknai sebagai cirle of instruction yaitu lingkaran pengajaran dimana guru terlibat di dalamnya. Juga dimaknai sebagai seluruh program pembelajaran atau pengalaman pendidikan oleh perancang pendidikan, sekolah, pendidik untuk mengantarkan peserta didik ke arah tujuan pendidikan.[2] Dalam bahasa Arab, kurikulum diartikan sebagai manhaj, yang bermakna jalan terang, atau jalan yang harus dilalui oleh pendidik atau guru latih dengan orang-orang yang dididik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap mereka.[3]
            Kurikulum merupakan salah satu komponen yang berperan penting dalam suatu sistem pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran semua jenis dan tingkat pendidikan. Secara fungsional, kurikulum dapat dikategorikan sebagai program studi, konten kegiatan berencana, hasil belajar, reproduksi kultural, pengalaman belajar dan produksi.[4]       
            Pendapat lain dikemukakan oleh Alice Miel dalam Haidar Putra Daulay bahwa kurikulum juga meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan, dan sikap orang-orang yang meladeni dan diladeni sekolah yakni: peserta didik, masyarakat, para pendidik dan personalia.[5] Dari berbagai pendapat di atas mengenai defenisi kurikulum yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah kegiatan dan pengalaman pendidikan yang dirancang, diprogramkan dan diselengggarakan oleh lembaga pendidikan baik di dalam maupun di luar sekolah dengan maksud mencapai tujuan pendidikan.[6]
B.     Prinsip Umum Kurikulum Pendidikan Islam
            Untuk lebih mendekatkan pengertian kurikulum pendidikan Islam, uraian berikut ini mengemukakan prinsip utama dalam kurikulum pendidikan Islam menurut Omar Mohammad at-Thoumy asy-Syaibani:
1.      Berorientasi pada Islam, termasuk ajaran dan nilainya. Adapun kegiatan kurikulum yang baik berupa falsafah, tujuan, metode, prosedur, cara melakukan, dan hubungan-hubungan yang berlaku di lembaga harus berdasarkan Islam.
2.      Prinsip menyeluruh (syumuliyyah) baik dalam tujuan maupun isi kandungannya.
3.      Prinsip keseimbangan (tawazzun) antara tujuan dan kandungan kurikulum.
4.      Prinsip interaksi (ittishaliyah) antara kebutuhan siswa dan kebutuhan masyarakat.
5.      Prinsip pemeliharaan (wiqayah) antara perbedaan-perbedaan individu.
6.      Prinsip perkembangan (tanmiyah) dan perubahan (taghayur) seiring dengan tuntutan yang ada dengan tidak mengabaikan nilai-nilai absolut ilahiyah.
7.      Prinsip integritas (muwaddah) antara mata pelajaran, pengalaman, dan aktivitas kurikulum dengan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan tuntunan zaman, tempat peserta didik berada.[7]
            Adapun fungsi kurikulum dalam pendidikan Islam adalah sebagai berikut: (1) Alat untuk mencapai tujuan dan untuk menempuh harapan manusia sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan; (2) Pedoman dan program harus dilakukan oleh subjek dan objek pendidikan; (3) Fungsi kesinambungan untuk persiapan pada jenjang sekolah berikutnya dan penyiapan tenaga kerja bagi yang tidak melanjutkan; (4) Standar dalam penilaian kriteria keberhasilan suatu proses pendidikan, atau sebagai batasan dari program kegiatan yang akan dijalankan pada semester maupun tingkat pendidikan tertentu.[8]
C.    Asas-asas Kurikulum Pendidikan Islam
Asas yang dimaksud dengan bahasan ini adalah landasan yang menjadi dasar dalam pembentukan kurikulum pendidikan Islam. Dalam konteks ini, Bangunan kurikulum pendidikan Islam tersebut harus mengacu dan tersusun kepada suatu sumber kekuatan yang menjadi landasan pembentukannya. Sebagaimana yang diuraikan oleh asy-Syaibani dalam Al-Rasyidin berikut ini:
1.      Asas agama
Seluruh sistem yang ada dalam masyarakat Islam, termasuk sistem pendidikannya harus meletakkan dasar falsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada ajaran Islam yang meliputi akidah, ibadah, muamalah dan hubungan-hubungan yang berlaku di dalam masyarakat yang mengacu kepada dua sumber syariat Islam yakni Alquran dan Sunnah serta sumber-sumber lainnya seperti ijma’, qiyas, kepentingan umum, dan yang dianggap baik (istihsan).[9]
2.      Asas filosofis
Dasar ini memberikan arah dan kompas tujuan pendidikan Islam. Dengan dasar filosofis ini, susunan kurikulum pendidikan Islam akan mengandung suatu kebenaran, terutama dari sisi nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang diyakini kebenarannya. Secara umum, dasar falsafah ini membawa konsekuensi bahwa rumusan kurikulum pendidikan Islam harus beranjak dari konsep ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang digali dari pemikiran rasional yang radikal, sistematis dan universal para filosof muslim serta tidak bertentangan dengan Alquran dan Sunnah.[10]
3.      Asas psikologis
Asas ini memebrikan arti bahwa kurikulum pendidikan Islam harus disusun dengan mempertimbangkan tahapan-tahapan pertumbuhan dan perkembangaan yang dilalui peserta didik. Kurikulum pendidikan Islam harus dirancang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan peserta didik, tahap kematangan bakat-jasmani, intelektual, bahasa, emosi, dan sosial, kebutuhan dan keinginan, minat, kecakapan, perbedaan individual dan lain sebagainya yang berhubungan dengan psikologis peserta didik.[11]
4.      Asas sosial
Pembentukan kurikulum pendidikan Islam harus mengacu kearah realisasi diri individu ke dalam masyarakat. Ini berarti bahwa semua kecenderungan dan perubahan yang telah dan bakal terjadi dalam perkembangan masyarakat manusia sebagai makhluk sosial harus mendapat tempat dan perhatian dalam kurikulum pendidikan Islam. Hal ini dimaksudkan agar out put yang dihasilkan adalah manusia-manusia yang mampu mengambil peran dalam masyarakat dan kebudayaan dalam konteks kehidupan zamannya.[12]
Keempat asas di atas harus dijadikan landasan dalam pembentukan kurikulum pendidikan Islam. Perlu diketahui bahwa antara satu asas dengan yang lain tidaklah berdiri sendiri, tetapi harus saling berintegrasi. Sehingga kurikulum akan relevan dengan kebutuhan pengembangan peserta didik dalam unsur ketauhidan, pengembangan potensinya sebagai khalifah, dan pengembangan kepribadiannya sebagai individu dan anggota masyarakat.
D.    Ciri-ciri Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan Islam dapat dicirikan dengan pencerminan nilai-nilai Islam yang dihasilkan dari pemikiran kefilsafatan dan termanifestasikan dalam seluruh aktivitas dan kegiatan pendidikan. Dalam konteks ini harus dipahami bahwa karakteristik kurikulum pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan dari prinsip-prinsip yang telah diletakkan Allah swt. dan Rasul-Nya. Hal ini merupakan pembeda antara kurikulum pendidikan Islam dengan kurikulum pendidikan pada umumnya. Menurut Omar Mohammad at-Thoumy as-Syaibani diantara ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam adalah:
1.      Menonjolnya tujuan agama dan akhlak dalam berbagai tujuan-tujuan dan kandungan, metode-metode dan alat-alat yang bercorak agama. Segala yang diajarkan dan diamalkan dalam lingkungan berdasarkan Alquran dan Sunnah.
2.      Meluasnya perhatiannya dan menyeluruhnya kandungan-kandungannya. Kurikulum yang betul-betul mencerminkan semangat, pemikiran dan ajaran-ajarannya adalah kurikulum yang luas, menyeluruh dan memperhatikan pengembangan dan bimbingan terhadap segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologi, sosial dan spiritual.
3.      Adanya prinsip keseimbangan antara kandungan kurikulum tentang ilmu dan seni, pengalaman, dan kegiatan pengajaran yang bermacam-macam.
4.      Kecenderungan pada seni, aktivitas jasmani, latihan militer, pengetahuan teknik, latihan kejuruan, latihan bahasa asing, sekalipun atas dasar perseorangan atau bagi mereka yang memiliki bakat.
5.      Keterkaitan antara kurikulum dalam pendidikan Islam dengan kemampuan, keperluan dan perbedaan individual peserta didik. Disamping itu, juga adanya keterkaitan dengan alam sekitar, budaya dan sosial dimana sebuah kurikulum itu dilaksanakan.[13]
Dapat disimpulkan ciri-ciri yang harus dimiliki kurikulum pendidikan menurut Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani yaitu: menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada tujuan kandungan kurikulum dan metode, kandungan dan cakupannya harus luas dan menyeluruh sehingga mencerminkan semangat, berkesinambungan antara ilmu pengetahuan yang dikembangkan, bersikap menyeluruh dalam mengatur mata pelajaran yang diperlukan para peserta didik, selalu disesuaikan dengan bakat dan minat peserta didik.
E.     Aspek-aspek Kurikulum Pendidikan Islam
Untuk merumuskan kurikulum pendidikan Islam di awali dengan merumuskan tentang tujuan pendidikan Islam. Adapun tujuan pendidikan Islam adalah menciptakan insan kamil yakni generasi muslim yang memiliki akidah yang benar dan kokoh, berpikiran cerdas, berjiwa bersih, berketerampilan, berspiritual yang tinggi, tidak mengalami penyimpangan sosial, berjasmani sehat, berakhlak mulia, berinteraksi sosial yang baik, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.[14] Berdasarkan hal tersebut lahirlah materi pembelajaran yang berkenaan dengan: (1) Aspek ketuhanan dan akhlak; (2) Aspek akal dan ilmu pengetahuan; (3) Aspek jasmani; (4) Aspek kemasyarakatan; (5) Aspek keindahan; (6) Aspek keterampilan.[15]
1.      Aspek ketuhanan dan akhlak
Pendidikan ketuhanan sangat penting mengingat banyaknya persoalan ketuhanan yang kurang kuat ditanamkan di sanubari peserta didik. Sejalan dengan itu, hal ini disebutkan oleh Allah swt. dalam Alquran: “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “ Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, sesungguhnya orang itu termasuk golonganku. Dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.”[16]
Persoalan akidah merupakan yang sangat penting dan harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Tanpa hal itu, nilai-nilai Islam akan lenyap dari muka bumi dan akan diangkatlah keberkahan dari dunia ini, sehingga perlu diingatkan agar generasi penerus tetap konsisten terhadap kuatnya akidah.[17]Sebagaimana kekhawatiran Nabi Yakub a.s. pada putranya dalam Alquran: “Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan tanda-tanda maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalanku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”[18]
            Disamping itu, Rasulullah saw. memerintahkan kepada orang tua muslim untuk mendidik anak-anaknya melakukan segala bentuk ibadah ketika berusia 7 tahun, sebagaimana sabda Rasulullah saw. berikut ini:
عن عمرو ابن شعيْبٍ عن أبيه عن جَدِّهِ قال: قال رسول الله صلّى الله عليه و سلّم: مُرُوا أوْلاَدَكُم بالصَلاة وهم اَبْناءِ سبْعِ سِنينَ  واضْرِبُواهم عليها وهم اَبْناءِ عشرٍ وفَرَّقُوا بيْنَهم في المَضَاجِعِ.(رواه أبو داود)
Artinya:“Serulah anak-anakmu untuk mengerjakan salat ketika mereka berumur 7 tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau mengerjakan salat ketika mereka telah berumur 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka (putra dan putri).” (HR. Abu Daud)
سَمعْتُ أنس بن مالك يحدِّثُ عَنْ رسول الله صلّى الله عليه و سلّم قال: اكْرِمُوا أوْلاَدَكُم وأحْسِنُوا أَدَبَهُمْ.(رواه ابن ماجه)
Artinya: “Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang baik.”(HR. Ibnu Majah)
Hadis di atas memberikan hikmah bahwa hendaknya membiasakan anak melakukan ibadah-ibadah sejak dini agar dia terdidik menjadi hamba Allah yang patuh dan taat kepada Tuhannya serta senantiasa berserah diri. Ia juga akan menemukan ketenangan jiwa dalam berbagai bentuk ibadah dan akhlak sosialnya. Selanjutnya akhlak juga perlu ditanamkan di jiwa peserta didik seperti: mengenalkan kepada hal-hal yang dihalalkan dan diharamkan dalam syariat Islam, mengajarkan untuk mencintai Rasulullah saw. dan ahli baitnya, membaca Alquran serta menanamkan ke dalam diri peserta didik ruh khusyu’, takwa dan penghambaan kepada Allah swt.[19]
Maka dari itu, pendidikan akhlak juga merupakan bagian penting dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang Islami. Dengan membiasakan peserta didik untuk merasakan kehadiran Allah swt. dalam setiap waktu dan tempat, maka akan tumbuh rasa takut untuk melakukan tindakan tercela. Akhlak tidaklah akan terbentuk kecuali adanya rasa takut kepada Allah swt. dan keyakinan terhadap balasan Allah swt. atas apa yang telah dilakukan.[20]
2.      Aspek akal dan ilmu pengetahuan
Pendidikan akal adalah upaya untuk mencerdaskan akal dengan menanamkan berbagai macam pengetahuan yang bermanfaat seperti ilmu-ilmu agama, kebudayaan ilmiah dan kontemporer, kesadaran berpikir dan peradaban, mengajarkan kepada akal cara berpikir yang baik dan benar, membebaskan akal dari taklid buta, terlalu cepat menjustifikasi, menghilangkan segala bentuk pikiran yang negatif dan tidak membebani akal untuk memikirkan hal-hal yang tidak sanggup untuk dijangkau.[21] Pendek kata, Pendidikan akal bertujuan untuk membentuk peserta didik agar berpikir ilmiah.
Banyak sekali dalam ajaran Islam yang memerintahkan untuk melaksanakan hal ini diantaranya hadis Nabi saw.:
عَنْ أَبِيْ دَرْداءِ رضيالله عنه قال: إِنِّي سَمِعْتُ رسول الله صلَّى الله عليهِ وسلّم يَقُولُ: مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ,...(رواه أبو داود في فضل العلم)
            Artinya: “Barangsiapa meniti suatu jalan untuk mencari ilmu maka Allah mempermudah langkahnya menuju surga,...”(Riwayat Abu Daud pada bab keutamaan ilmu).”[22]
Rasulullah saw. juga menjelaskan kepada manusia untuk selalu mencari ilmu pengetahuan dan keutamaannya sebagaimana hadis berikut:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، وإنَّ طاَلِبَ العِلْم يَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلَّ شَيْءٍحَتَّى الحْيتَان في البَحْرِ. (رواه ابن العبد البار في العلم عن أنس)
Artinya: Mencari ilmu itu adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Dan sesungguhnya setiap makhluk yang ada di bumi memohon ampun untuk orang yang mencari ilmu hingga ikan paus yang ada di lautpun ikut memohon ampun. (HR. Ibnu ‘Abdul Bâri)[23]
Sejalan dengan apa yang dikatakan Imam az-Zarnûji yang disyarahkan oleh Imam Ibrâhîm bin Ismâ‘il, beliau mengatakan bahwa “sesungguhnya mulianya ilmu itu karena kedudukannya menjadi wasilah (sarana) untuk kebaikan dan takwa, sehingga dengan ilmu tersebut membuat manusia berhak memperoleh kemulian di sisi Allah swt. dan kebahagian yang abadi.”[24]
3.      Aspek jasmani
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Oleh karena itu, Islam menganjurkan untuk memelihara dengan baik kedua unsur tersebut. Unsur jasmani dipelihara sesuai kebutuhan yang bersifat jasmani, seperti: makan, minum, olahraga, istirahat, dan pemeliharaan kesehatan. Dirancanglah program dan materi pelajaran pendidikan jasmani.[25]
4.      Aspek sosial kemasyarakatan
Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu sama lainnya. Disinilah pentingnya pendidikan sosial kemasyarakatan dimana di dalam Islam banyak sekali ayat-ayat dan hadis yang berbicara dengan pendidikan sosial. Diantara upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam pendidikan sosial kemasyarakatan adalah: (1) Menanamkan prinsip-prinsip kepribadian yang mulia; (2) Memperhatikan hak-hak orang lain; (3) Komitmen dalam melaksanakan adab-adab yang berlaku di masyarakat secara umum; (4) Kontrol sosial.[26]
5.      Aspek keindahan
Pendidikan ini berusaha menanamkan rasa indah dalam diri manusia yang akan membawa manusia lebih menghayati kebesaran dan keindahan Allah Maha Pencipta. Di susunlah materi pelajaran kesenian pada setiap tingkatan jenjang dan jalur pendidikan.[27]
6.      Aspek keterampilan
Manusia hidup membutuhkan beraneka keperluan. Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia harus bekerja. Selanjutnya agar seseorang terampil dalam bekerja, maka ia harus dididik dalam pekerjaan tersebut. Dengan demikian lembaga pendidikan Islam seharusnya merancang jenis-jenis pendidikan vokasional. Disusunlah materi pelajaran yang berkenaan dengan pendidikan keterampilan.
Prinsip pokok materi pendidikan Islam adalah menjadi muatan dalam kurikulum pendidikan Islam. Kurikulum pendidikan Islam disusun agar dapat mencapai tujuan pendidikan Islam. Bila sesuatu tujuan pendidikan telah diketahui, maka upaya berikutnya ialah merumuskan dengan apa yang dicapai oleh tujuan tersebut. Jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan pendidikan itu adalah melalui kurikulum.[28]
F.     Kurikulum Pendidikan Islam Menurut Hasil Konferensi Dunia Tentang Pendidikan Islam
Dalam Konferensi Pendidikan Islam Dunia Kedua di Islamabad, dirumuskan pembagian ilmu atas dua jenis, yakni: perennial knowledge dan acquired knowledge. Atas dasar inilah disusun kurikulum yang meliputi kedua pembagian ilmu tersebut, ilmu yang tergolong pada kelompok pertama (perennial knowledge) adalah:
1.      Alquran yang meliputi: Bacaan, Hafalan, Tafsir, Sunnah, Sejarah Hidup Rassulullah, Tauhid, Ushul Fiqh dan Bahasa Arab.
2.      Subjek tambahan: seperti Metafisika Islam dalam Ekonomi, Kebudayaan Islam dan Perbandingan Agama.[29]
Sementara ilmu yang tergolong ke dalam kelompok kedua (acquired knowledge) adalah:
1.      Imajinatif yang mencakup Seni dan Arsitektur Islam serta Sastra.
2.      Sains intelektual yang terdiri atas: Studi Sosial, Filsafat, Pendidikan, Ekonomi, Ilmu Politik, Sejarah, Peradaban Islam (termasuk paham-paham Islam tentang politik, ekonomi, kehidupan sosial, perang dan damai), Geografi, Sosiologi, Linguistik (islamisasi kehidupan bahasa), Psikologi (dengan acuan khusus pada konsep Islam sebagaimana ditemukan dalam Alquran dan Hadis, dan dianalisis serta dijelaskan oleh pemikir-pemikir muslim awal dan sufi-sufi besar), Antropologi (sebagaimana dapat ditarik dari Alquran dan Sunnah.
3.      Ilmu kealaman yang mencakup Filsafat Ilmu Pengetahuan, Matematika, Statistika, Fisika, Kimia, Ilmu-Ilmu Kehidupan, Astronomi, dan Ilmu Ruang.
4.      Sains terapan: Rekayasa dan Teknologi Sipil, Mekanika, Kedokteran, Pertanian, Ilmu Kehutanan dan lain-lain.
5.      Ilmu praktis yang mencakup Ilmu Perdagangan, Ilmu Administrasi, Ilmu Komunikasi, Ilmu Perpustakaan, dan lain-lain.[30]
Hasil konferensi dunia kedua tentang pendidikan Islam ini juga telah memperinci subjek kurikulum yang diajarkan pada tingkat dasar, menengah, dan universitas dengan bertolak dari dua kategori ilmu tersebut. Dalam penyusunan ini telah terlihat bahwa aspek ilmu yang dikembangkan tidak tertumpu pada satu bagian ilmu saja, tetapi telah berupaya untuk menyeimbangkan antara dua jenis ilmu itu. Keseimbangan antara dua jenis ilmu itu sejalan dengan konsep kurikulum pendidikan Islam.  
Kurikulum adalah elemen pokok dari pendidikan, dan merupakan jalan raya yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan pendidikan. Bagaimanakah mencapai tujuan pendidikan yang dikehendaki, maka perlulah kurikulum disusun untuk itu. Dengan kurikulum tersebut akan diraih tujuan pendidikan dan akan dibentuk tipe manusia yang dicita-citakan. Supaya kurikulum ini menjadi alat utama dalam membentuk manusia yang dicita-citakan atau gambaran sosok manusia yang ingin dibentuk. Maka kurikulum haruslah dilaksanakan secara menyeluruh dan komprehensif.
Selanjutnya pula aspek kurikulum pendidikan Islam terdiri atas 7 jenis yakni: (1) Aspek ketuhanan dan akhlak; (2) Aspek akal dan ilmu pengetahuan; (3) Aspek jasmani; (4) Aspek kemasyarakatan; (5) Aspek keindahan; (6) Aspek keterampilan. Kurikulum pendidikan Islam merupakan alat untuk mendidik generasi muda dengan baik dan menolong mereka untuk membuka dan mengembangkan kesenian, bakat, kekuatan, dan keterampilan mereka yang bermacam-macam dan menyiapkan mereka dengan baik untuk menjalankan hak-hak dan kewajiban, memikul tanggung jawab terhadap diri, keluarga, masyarakat dan bangsa.


DAFTAR PUSTAKA

al-Kandahlawi, Muhammad Yusuf. Muntakhob Ahadis. Nizamuddin: Kitab Khanahufaid, t.t.

Al-Rasyidin. Filsafat Pendidikan Islam:Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi Praktik Pendidikan. Citapustaka: Medan, 2015.

             ,  dan Samsul Rizal. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press, 2005.

as-Suyûthî, Imâm Jalâluddîn bin Abû Bakr. Al-Jâmi‘us Shagîr Fî Ahâdîsi Al-Basyîri An-Nadzîr. jilid II. Beirut: Lebanon, Dâr Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2004.

as-Syaibani, Omar Mohammad at-Thoumy. Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Daulay, Haidar Putra. Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat. Jakarta: Kencana Prenada Media, 2014.

Ismâ‘îl, Ibrâhîm bin. Syarah Ta’lîm Muta‘allîm. Surabaya: Darul Abidin. t.t.

Kusmin. “Hadis-hadis Tentang Kurikulum Pendidikan Islam,” dalam Hasan Asari (ed.), Hadis-hadis Pendidikan; Sebuah Penelusuran Akar-akar Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Citapustaka Media, 2008.

Langgulung, Hasan. Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1986.

Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Rajagrafindo Persada: Jakarta, 2005.

Mujib, Abdul dan Jusuf Muzakkir.Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010.

Nata, Abudin.Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.

Usiono. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Citapustaka Media, 2015.




[1]Al-Rasyidin, Filsafat Pendidikan Islam:Membangun Kerangka Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi Praktik Pendidikan (Citapustaka: Medan, 2015) h. 161.; Al-Rasyidin dan Samsul Rizal, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2005), h. 55.; Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi Pendidikan (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1986), h. 176.
[2]Ibid., h. 161.
[3]Ibid.; Omar Mohammad at-Thoumy as-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 478.; Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi (Rajagrafindo Persada: Jakarta, 2005) h. 1.
[4]Abdul Mujib dan Jusuf Muzakkir, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2010), h. 122-123.
[5]Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2014),  h. 88.
[6]Ibid., h. 89.
[7]Ibid., h. 89-90.; Omar Mohammad at-Thoumy as-Syaibani, Falsafah, h. 519-522.; Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 128-129.
[8]Abdul Mujib dan Jusuf Muzakkir, Ilmu, h. 134.
[9]Al-Rasyidin,Falsafah, h. 169
[10]Ibid., h. 170.
[11]Ibid.
[12]Ibid.
[13]Omar Mohammad at-Thoumy as-Syaibani, Falsafah, h. 489-519.; Haidar Putra Daulay, Pendidikan, h. 90.; Al-Rasyidin, Filsafat, h. 172.; Abudin Nata, Filsafat, h. 127.
[14]Usiono, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Citapustaka Media, 2015), h. 130.
[15]Haidar Putra Daulay, Pendidikan, h. 91.
[16]Q.S. Ibrahim/14: 35-36.
[17]Kusmin, “Hadis-hadis Tentang Kurikulum Pendidikan Islam,” dalam Hasan Asari (ed.), Hadis-hadis Pendidikan; Sebuah Penelusuran Akar-akar Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Citapustaka Media, 2008), h. 55.
[18]Q.S. Al-Baqarah/2:  133.
[19]Usiono, Filsafat, h. 131-133.
[20]Ibid.
[21]Ibid., h. 164.
[22]Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, Muntakhob Ahadis (Nizamuddin: Kitab Khanahufaid, t.t.), h. 174.
[23]Imâm Jalâluddîn bin Abû Bakras-Suyûthî, Al-Jâmi‘us Shagîr Fî Ahâdîsi Al-Basyîri An-Nadzîr (Beirut: Lebanon, Dâr Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2004), jilid II, h. 325.
[24]Ibrâhîm bin Ismâ‘îl, Syarah Ta’lîm Muta‘allîm (Surabaya: Darul Abidin, t.t.), h. 6-7.
[25]Haidar Putra Daulay, Pendidikan, h. 92.
[26]Usiono, Filsafat, h.  168.
[27]Haidar Putra Daulay, Pendidikan, h. 93.
[28]Ibid.
[29]Ibid., h. 94.
[30]Al-Rasyidin, Falsafah, h. 164-165.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar