Jumat, 20 Mei 2016

Perkembangan Peserta Didik

Perkembangan Sosial Peserta Didik 
oleh:
Erik Suwandinata


               Perkembangan yang terjadi pada anak meliputi segala aspek kehidupan yang mereka jalani baik bersifat fisik maupun non fisik. Perkembangan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Beberapa teori perkembangan manusia telah mengungkapkan bahwa manusia telah tumbuh dan berkembang dari masa bayi kemasa dewasa melalui beberapa langkah jenjang.
        Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangannya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan eksternal mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang yang secara aktif melakukan proses sosialisasi.
        Manusia sejatinya merupakan makhluk sosial tidak akan mampu hidup sendiri dan butuh interaksi dengan manusia lainnya. Interaksi ini merupakan kebutuhan kodrati yang dimiliki manusia. Karena pada dasarnya, manusia dilahirkan belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuaan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang disekitar lingkungannya. 
       Kebutuhan berinteraksipun akan muncul sejak usia enam bulan. Saat itu anak telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah dan kasih sayang. Oleh sebab itu, Dalam penyajian makalah yang ringkas ini, akan diuraikan beberapa bentuk-bentuk dari perkembangan sosial, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial serta upaya yang dilakukan oleh orang tua, masyarakat dan terkhusus pendidik dalam membantu mengembangkan kemampuan sosial peserta didik.
A.    Pengertian Perkembangan Sosial
         Hubungan sosial merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa kebutuhan manusia menjadi semakin kompleks dan tingkat hubungan sosial juga berkembang menjadi amat kompleks. Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dn tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama.[1] Berikut ini beberapa pengertian perkembangan sosial menurut beberapa ahli:
1.                 Menurut Elizabeth B. Hurlock, perkembangan sosial adalah kemampuan seseorang dalam bersikap atau tata cara perilakunya dalam berinteraksi dengan unsur sosialisasi di masyarakat.
2.      Abu Ahmadi, berpendapat bahwa perkembangan sosial telah dimulai sejak manusia itu lahir. Sebagai contoh, anak menangis saat dilahirkan, atau anak tersenyum saat disapa. Hal ini membuktikan adanya interaksi sosial antara anak dan lingkungannya.[2]
3.                              Perkembangan sosial adalah kemajuan yang progresif melalui kegiatan yang terarah dari individu dalam pemahaman atas warisan sosial dan formasi pola tingkah lakunya yang luwes. Hal itu disebabkan oleh adanya kesesuaian yang layak antara dirinya dengan warisan sosial itu.[3]
            Jadi, dapat diartikan bahwa perkembangan sosial akan menekankan perhatiannya kepada pertumbuhan yang bersifat progresif. sebagaimana orang atau individu bereaksi terhadap orang-orang di sekitarnya dan sebagaimana pula pengaruh hubungan itu pada diri individu sendiri.
B.     Bentuk-bentuk Penyesuaian Sosial
            Dalam perkembangan kematangan sosial, anak biasanya mewujudkan bentuk-bentuk interaksi sosial sebagai berikut:
1.      Pembangkangan (negativisme)
            Pembangkangan merupakan bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku ini muncul pada usia sekitar 18 bulan dan mencapai puncaknya pada usia 3 tahun dan mulai menurun pada usia 4 hingga 6 tahun.[4]
            Sikap orang tua terhadap anak seharusnya tidak memandang pertanda bahwa mereka anak yang nakal, keras kepala, bodoh atau sebutan-sebutan negatif lainnya. Namun sebaliknya, orang tua hendaknya mau memahami bahwa sikap pembangkangan itu sebagai proses perkembangan anak dari sikap kebergantungan (dependent) menuju ke arah sikap bebas (independent).
            Mulai usia dua tahun, anak mulai menunjukkan sikap membangkang misalnya anak tidak mau disuapi, anak tidak mau digendong, atau diajak bermain oleh pengasuh. Mereka memilih makan sendiri meskipun berantakan dan memilih berteman dengan anak-anak sebayanya.[5]
2.      Agresi (agresion)
            Yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap rasa frustasi (rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang seperti: mencubit, menggigit, menendang dan lain sebagainya.[6]
            Orang tua hendaknya berusaha mereduksi, mengurangi agresifitas anak dengan cara mengalihkan perhatian dan keinginan anak. Jika orang tua menghukum anak yang agresif maka agresifitasnya akan semakin meningkat. Hendaknya juga orang tua mengarahkan anak untuk mengalihkan sikap agresifnya kepada hal-hal yang positif seperti kegiatan melempar dan menangkap bola, atau dengan permainan-permainan yang membutuhkan ketangkasan.
3.      Berselisih (clashing)
            Sikap ini terjadi jika tatkala anak merasa tersinggung atau terganggu oleh perilaku anak lain. Sering kali anak-naka berselisih pendapat tentang suatu masalah, perselisihan juga kadang-kadang menyebabkan perkelahian. Oleh sebab itu, peran orang tua dan guru ketika menghadapi situasi seperti ini adalah sebagai penengah antara masalah keduanya dan tidak membela sikap anak yang satu atau menyalahkan yang lain. Orang tua atau guru sebaiknya mengajak anak untuk mencari jalan damai dari perselisihan mereka tanpa menjelaskan siapa yang salah dan siapa yang benar, cara ini dapat membantu anak mengenali perasaannya masing-masing dan membantu anak untuk mengakui kesalahannya masing-masing.[7]
4.      Menggoda (teasing)
            Menggoda merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan yang menimbulkan amarah pada orang yang digodanya. Misalnya anak-anak memberi gelar tertentu kepada temannya atau saudaranya untuk emembuat mereka marah.
            Peran orang tua dalam kondisi ini adalah mengajak anak merasakan jika gelar atau sebutan yang diberikannya kepada anak lain terjadi pada dirinya, metode ini disebut metode induksi dimana metode ini dapat membantu anak merasakan akibat perbuatannya terhadap orang lain dan dapat membantu berempati terhadap orang lain.[8]
5.      Persaingan (rivaly)
            Persaingan adalah keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. Sikap ini mulai terlihat pada usia 4 tahun yakni persaingan prestise dan pada usia 6 tahun semangat bersaing ini akan semakin baik. Persaingan yang baik jika masih berada dalam intensitas normal. Agar sikap bersaing berada pada intensitas itu maka guru atau orang tua selalu menciptakan suasana bersaing yang positif pada anak.[9]
6.      Kerjasama (cooperation)
            Sikap mau bekerja sama dengan orang lain mulai tampak pada usia 3 tahun atau awal 4 tahun. pada usia 6 hingga 7 tahun sikap ini semakin berkembang dengan baik. Sikap dapat dikembangkan melalui kegiatan belajar bersama. Mereka akan terbiasa untuk bekerja dalam satu tim, sehingga mereka dapat memudahkan mengerjakan pekerjaan jika dilakukan bersama-sama.
7.      Tingkah laku berkuasa (acendant behavior)
            Tingkah laku yang dilakukan untuk menguasai situai sosial, mendominasi atau bersikap seperti boss, bentuk dari sikap ini adalah berkuasa pada anak-anak selalu menimbulkan perselisihan antar anak. Anak-anak yang bersifat “bossy” ini dijauhi oleh teman-temannya atau hanya ditemani karena takut dengan kejahatannya.[10]
            Di dalam pembelajaran tingkah laku berkuasa ini dapat dikontrol dengan memberikan kesempatan kepada tiap anak dalam pembelajaran secara bergantian menjadi ketua dan anggota. Guru atau orang tua dapat memberikan peran-peran yang berbeda kepada setiap anak, sehingga semua anak berkesempatan menjadi pimpinan dan dipimpin.
8.      Mementingkan diri sendiri (selffishness)
            Sikap egosentris dalam memenuhi keinginannya sendiri. Anak-anak menyukai hal-hal yang menguntungkan dirinya. Mereka melakukan sesuatu hal yang dapat menyenangkan dirinya, meskipun hal itu kadang kala bertentangan dengan kepentingan atau bahkan merugikan orang lain. Seorang anak yang menginginkan mainan temannya misalnya, terkadang langsung merebut mainan tersebut tanpa meminjam atau memintanya.
            Sikap ini sebenarnya berguna dalam mempertahankan diri, tetapi dapat merufgikan orang lain jika dilakukan secara berlebihan. Orang tua atau guru harus mengajarkan kepada anak batasan-batasan kepemilikan atau kepentingan orang lain. Penanaman batasan-batasan ini dapat dilakukan guru atau orang tua melalui permainan, cerita atau nasihat.[11]
9.      Simpati (sympaty)
            Simpati merupakan sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain, mau mendekati atau bekerjasama dengan dirinya. Mereka rela berbagi apa yang mereka punya. Pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok dapat membantu mengembangkan sikap empati pada anak.[12]
C.    Tokoh Perkembangan Sosial
            Salah satu tokoh psikologi perkembangan yang merumuskan teori perkembangan sosial peserta didik adalah Erik Erikson (1902-1994). Beliau mengembangkan teori yang disebut teori perkembangan psikososial dimana beliau membagi tahap-tahap perkembangan manusia menjadi delapan tahapan. Berikut ini teori perkembangan sosial menurut Erik Erikson yang tergambar pada tahap-tahap perkembangan anak sebagai berikut:[13]
Umur
Fase Perkembangan
Perkembangan Perilaku
0 – 1 tahun
Trust vs Mistrust (percaya versus tidak percaya)
Tahap pertama adalah tahap pengembangan rasa percaya diri kepada orang lain, sehingga mereka sangat memerlukan sentuhan dan pelukan.
2 – 3 tahun
Autonomy vs Shame (otonomi versus malu-malu)
Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa pemberontakan anak atau masa “nakalnya”.  Namun kenakalannya tidak dapat dicegah begitu saja, karena tahap ini anak sedang mengembangkan kemampuan motorik dan mental, sehingga yang diperlukan justru mendorong dan memberikan tempat untuk mengembangkan motorik dan mental. Pada saat ini anak sangat terpengaruh oleh orang-orang penting disekitarnya, misal orang tua atau guru.
4 – 5 tahun
Inisiative vs Guilt (inisiatif versus rasa bersalah)
Mereka banyak bertanya dalam segala hal, sehingga terkesan cerewet. Mereka juga mengalami perngembangan inisiatif/ide, sampai pada hal-hal yang berbau fantasi.
6 – 11 tahun
Indusstry vs Inferiority (upaya versus inferioritas)
Mereka sudah bisa mengerjakan tugas-tugas sekolah dan termotivasi untuk belajar. Namun masih memiliki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan menuntut perhatian.
12 -18/20 tahun
Ego-identity vs Role on fusion (identitas versus kekacauan) peran)
Tahap ini manusia ingin mencari identitas dirinya.  Anak yang sudah beranjak menjadi remaja mulai ingin tampil memegang peran-peran sosial di masyarakat.  Namun masih belum bisa mengatur dan memisahkan tugas dalam peran yang berbeda.
18/19 – 30 tahun
Intimacy vs Isolation (intimasi versus isolasi)
Memasuki tahap ini manusia sudah mulai siap menjalani hubungan intim dengan orang lain, membangun bahtera rumah tangga bersama calon pilihannya.
31 – 60 tahun
Generation vs Stagnation (perluasan versus stagnasi)
Tahap ini ditandai dengan munculnya kepedulian yang tulus terhadap sesama. Tahap ini terjadi saat seseorang telah memasuki usia dewasa.
60 tahunan ke atas
Ego Integrity vs Despair (integritas versus kekecewaan)
Masa ini dimulai pada usia 60-an, masa dimana manusia mulai mengembangkan integritas dirinya.

D.    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
       Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.
1.      Keluarga
          Keluarga merupakan lingkungan pertama memberikan pengaruh berbagai aspek perkembangan peserta didik, termasuk perkembangan sosialnya. Dimana kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga juga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, peseta didik pertama-tama belajar memperhatikan keinginan-keinginan, belajar bekerja sama, membantu dengan orang tua; saudara laki-laki; saudara perempuan.[14]
      Pengamalan interaksi sosial di dalam keluarga turut menentukan pula cara-cara tingkah lakunya terhadap orang lain. Apabila interaksi sosialnya di dalam keluarga tidak baik atau tidak lancar, maka besar kemungkinan bahwa interaksi sosial dengan masyarakat juga berlangsung tidak lancar.[15] Oleh karena itu, proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.
2.      Kematangan Anak
        Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangkan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula menentukan. Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.[16]
3.      Status Sosial Ekonomi
            Keadaan sosial ekonomi keluarga juga dapat berperan terhadap perkembangan peserta didik. Misalnya anak-anak yang orang tuanya berpenghasilan cukup, maka anak-anak tersebut lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kecakapan, begitu pula sebaliknya.[17] Namun demikian, status sosial ekonomi tidaklah mutlak dikatakan sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial peserta didik. Toh, pada kenyataannya ini bergantung kepada sikap orang tua dan corak interaksi dalam keluarga itu.
            Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan sosial anak akan senantiasa menjaga status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu, maksud menjaga status sosial keluarganya itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi terisolasi dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.
4.      Pendidikan
            Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan.
            Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan (sekolah). Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa (nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.[18]
5.      Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi
            Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.[19] Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.
E.     Upaya Mengembangkan Sikap Sosial Peserta Didik
            Upaya yang harus dilakukan pendidik dalam mengembangkan sikap sosial peserta didik dapat dilakukan sebagai berikut:
1.      Melaksanakan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran koperatif akan mengembangkan sikap kerjasama dan saling tolong menolong sesama peserta didik. Dalam pembelajaran ini salah satu elemen penting yang mendapat perhatian utama adalah interpendensi psitif dimana setiap peserta didik saling bergantung satu sama lain untuk mencapai kesuksesan bersama, tentunya hal ini akan mendorong peserta didik untuk menghargai kemampuan orang lain dan bersabar dengan sikap orang lain.[20]
2.      Melaksanakan pembelajaran kolaboratif. pembelajaran yang melibatkan siswa dalam suatu kelompok untuk membangun pengetahuan dan mencapai tujuan pembelajaran bersama melalui interaksi sosial di bawah bimbingan pendidik baik di dalam maupun di luar  kelas,  sehingga  terjadi  pembelajaran  yang  penuh  makna  dan  siswa  akan saling menghargai kontribusi semua anggota kelompok.[21] Siswa lebih pintar akan senantiasa membantu temannya yang belum memahami materi pelajaran yang akan menimbulkan sikap saling menyayangi diantara peserta didik.
3.      Menjalin komunikasi interpersonal kepada orang tua peserta didik.
            Di samping upaya yang harus dilakukan pendidik dalam mengembangkan sosial peserta didik di atas, peran orang tua juga diperlukan agar peserta didik lebih terarah dalam sikap sosialnya. Baumrind dalam John W. Santrock mengatakan bahwa ada empat bentuk gaya asuh (parenting) orang tua yaitu:[22]
1.      Authoratorian parenting adalah gaya asuh yang bersifat membatasi dan menghukum. Di mana hanya ada sedikit percakapan antara orang tua dan murid; menghasilkan anak yang tidak kompeten secara sosial. Gaya pengasuhan ini hendaknya dihindari karena bisa berdampak pada kesulitan perkembangan sosial anak, mereka cenderung cemas menghadapi situasi sosial, tak bisa membuat inisiatif untuk beraktivitas dan keahlian komunikasinya buruk.[23]
2.      Authoritative parenting, gaya asuh positif yang mendorong anak untuk independen tapi masih membatasi dan mengontrol tindakan mereka, percakapan ekstensif seperti tukar pendapat dan orang tua bersikap membimbing atau mendukung sering dilakukan. Orang tua seperti ini mungkin akan merangkul anaknya dengan lembut dan berkata “kamu kan tahu seharusnya kamu tidak boleh melakukan itu. mari kita bahas bagaimana cara kamu bisa menangani situasi secara berbeda lain kali”. Hasilnya anak akan kompeten secara sosial. Mereka cenderung mandiri, tidak cepat puas, gaul, dan memperlihatkan harga diri yang tinggi.[24]
3.      Neglectful parenting, gaya asuh di mana orang tua tidak peduli, atau orang tua hanya meluangkan waktu sedikit untuk anak-anaknya, hasilnya anak akan tidak kompeten secara sosial. Mereka cenderung kurang bisa mengontrol diri, tidak cukup mandiri, dan tidak termotivasi untuk berprestasi.[25]
4.      Indulgent parenting, gaya asuh di mana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anaknya tapi tidak banyak memberi batasan atau kekangan pada perilaku mereka. Orang tua ini sering membiarkan anak mencari cara sendiri untuk mencapai tujuannya sebab orang tua semacam ini percaya bahwa kombinasi dukungan dan pengasuhan dan sedikit pembatasan akan menciptakan anak yang kreatif dan percaya diri. Hasilnya adalah si anak biasanya tidak belajar untuk mengontrol perilakunya sendiri. Orang tua ini tidak memperhitungkan seluruh aspek perkembangan si anak.[26]
            Selain itu Rasulullah saw. juga memberikan anjuran untuk saling bersikap baik dalam sosial kemasyarakatan, sebagaimana sabda beliau:
            Artinya: “Perumpaan orang-orang mukmin dalam hal saling rasa cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh yang apabila ada salah satu anggotanya yang mengeluh sakit, maka anggota-anggota tubuhnya mengeluh kesakitan maka anggota-anggotanya tubuh lainnya akan ikut merasa sakit.” (HR. Muslim dan Ahmad)
            Maka dari itu hendaknya segala upaya maksimal harus dilakukan oleh pendidik dan orang tua dalam membentuk sikap sosial anak, barangkali dengan pembekalan keterampilan sosial dan kemampuan menyelesaikan masalah sosial, peserta didik akan dilatih untuk menyelelesaikan masalah-masalah sosialnya, baik dengan teman, tetangga, teman sebaya maupun terhadap orang tuanya sendiri.
            Dari paparan pembahasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama. Adapun bentuk-bentuk tingkah laku sosial peserta didik diantaranya:
1.      Pembangkangan (negativisme)
2.      Agresi (agresion)
3.      Berselisih (clashing)
4.      Menggoda (teasing)
5.      Persaingan (rivaly)
6.      Kerjasama (cooperation
7.      Tingkah laku berkuasa (acendant behavior)
8.      Mementingkan diri sendiri (selffishness)
9.      Simpati (sympaty)
            Bentuk tingkah laku di atas dapat diidentifikasi dari tahapan usia peserta didik sendiri, di samping itu, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial peserta didik yaitu:
1.      Keluarga
2.      Kematangan Anak
3.      Status Sosial Ekonomi
4.      Pendidikan
5.      Kapasitas Mental, Emosi, dan Intelegensi
            Peran orang tua, guru dan masyarakat sangat diperlukan dalam mengembangkan dan mendukung perkembangan sosial peserta didik. Kesemuanya merupakan instrumen bagi anak untuk mengembangkan kemampuan sosialnya.




DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. Psikologi Sosial. Jakarta: PT. Rineka Pustaka, 1991.

Djaali. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 2007.

Santrock, John W. Educational Psychologi: Psikologi Pendidikan, terj. Tri Wibowo, Edisi: II. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011.

Sitorus, Masganti. Perkembangan Peserta Didik. Medan: Perdana Publishing, 2012.

Swandinata, Erik. Penerapan Collaborative Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Materi Pokok Akhlak Tercela Kelas VII MTs Darul Aman Medan. Skripsi: UIN Sumatera Utara, 2015.

Mithaul Huda, Cooperatif Learning: Metode, Teknik, Struktur, dan Model Terapan. Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011.

Monks, F.J., A.M.P. Knoers dan Siti Rahayu Haditono , Psikologi perkembangan: pengantar dalam bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994. h. 197-202.





[1]Masganti Sitorus, Perkembangan Peserta Didik (Medan: Perdana Publishing, 2012), h. 105.
[2]Abu Ahmadi, Psikologi Sosial (Jakarta: PT. Rineka Pustaka, 1991), h. 201.
[3]Djaali, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), h. 48.
[4]Masganti Sitorus, Perkembangan, h. 106-107.
[5]Ibid.
[6]Ibid.
[7]Ibid., h. 108.
[8]Ibid.
[9]Ibid., h. 109.
[10]Ibid.
[11]Ibid., h. 110.
[12]Ibid.
[13]John W. Santrock, Educational Psychologi: Psikologi Pendidikan, terj. Tri Wibowo, Edisi: II (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h. 91.
[14]Abu Ahmadi, Psikologi, h. 255-256.
[15]Ibid.
[16]Masganti Sitorus, Perkembangan, h. 123.
[17]Abu Ahmadi, Psikologi, h. 256.
[18]F.J. Monks, et. al., Psikologi perkembangan: pengantar dalam bagiannya (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994), h. 197-202.
[19]Masganti Sitorus, Perkembangan, h. 123.
[20]Mithaul Huda, Cooperatif Learning: Metode, Teknik, Struktur, dan Model Terapan (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011), h. 37-38.
[21]Erik Swandinata, Penerapan Collaborative Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak Materi Pokok Akhlak Tercela Kelas VII MTs Darul Aman Medan (Skripsi: UIN Sumatera Utara, 2015), h. 19.
[22]John W. Santrock, Educational, h. 91.
[23]Ibid.
[24]Ibid.
[25]Ibid.
[26]Ibid.